Politik Indonesia
Indonesia adalah negara demokrasi konstitusional. Setelah jatuhnya rezim Orde Baru yang otoriter pada tahun 1998, berbagai perubahan konstitusional dilakukan untuk melemahkan kekuasaan cabang-cabang eksekutif. Dengan demikian, membuat sebuah sistem kediktatoran baru hampir mustahil.
Indonesia saat ini ditandai oleh kedaulatan rakyat termanifestasi dalam pemilihan parlemen dan presiden setiap lima tahun.
Sejak berakhirnya Orde Baru dan mulainya periode Reformasi,
setiap pemilu di Indonesia dianggap bebas dan adil (meskipun korupsi dan politik uang di mana orang
membeli kekuasaan atau posisi politik
masih tetap lazim).
Ikhtisar Struktur Politik Indonesia
Indonesia
adalah negara sekuler yang berarti kebijakan-kebijakan politiknya tidak selalu
didasarkan dari satu ajaran agama tertentu dan tidak memilih satu agama sebagai
agama resmi negara. Meskipun demikian, agama berperan
penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Warga negara Indonesia wajib
menganut salah satu agama yang diakui oleh negara (Islam, Kristen Protestan,
Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu), menjadi Ateis bukanlah pilihan yang
tepat. Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, tidak dapat
dipungkiri, Islam memegang peranan penting dalam pengambilan keputusan politik
nasional. Meskipun demikian, Indonesia bukanlah negara Islam. Desenstralisasi
politik di era pasca-Suharto
telah memberikan kekuatan lebih besar pada pemerintahan daerah dan efek dari
perkembangan ini tersirat dalam pengambilan keputusan politik daerah yang semakin
terpengaruh oleh ajaran agama tertentu. Contoh kebijakan-kebijakan politik di
daerah Muslim dengan pengaruh ajaran yang ketat misalnya adalah pelarangan
usaha dengan bahan dasar babi atau mewajibkan perempuan menggunakan hijab atau
kerudung. Kebijakan-kebijakan semacam ini akan terkesan aneh jika
diimplementasikan di wilayah timur Indonesia yang mayoritas penduduknya
beragama Kristen. Dengan mayoritas penduduk Muslim dan orang Jawa (Muslim) yang
mendominasi dunia politik nasional, secara keseluruhan Indonesia memang lebih
berorientasi pada Islam. Presiden yang menganut agama non-Muslim, tampaknya
mustahil. Walaupun begitu, Islam di Indonesia dapat dikatakan cukup moderat
karena sebagian besar Muslim Indonesia adalah Muslim abangan. Contohnya ketika Megawati
Sukarnoputri terpilih menjadi presiden perempuan pertama di Indonesia pada
tahun 2001, hanya sedikit kelompok minoritas yang menolak kepemimpinannya hanya
karena mempercayai satu doktrin Islam yang tidak memperbolehkan perempuan untuk
memimpin.
Sistem
politik Indonesia terdiri dari tiga lembaga:
•Eksekutif
•Legislatif
• Yudikatif
Yang
mencakup lembaga eksekutif adalah presiden, wakil presiden dan
kabinetnya. Baik presiden maupun wakil presiden, sama-sama dipilih oleh
elektorat-elektorat Indonesia dalam pemilihan presiden. Presiden dan wakil
presiden menjabat selama lima tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam
jabatan yang sama untuk satu kali masa jabatan. Selama masa kampanye presiden
dan wakil presiden adalah sebuah pasangan yang tak terpisahkan. Dengan demikian
komposisi kedua pemimpin ini adalah kepentingan strategi politik besar. Hal-hal
yang dapat mempengaruhi strategi politik adalah latar belakang etnis (dan
agama) dan posisi sosial (sebelumnya) dalam masyarakat. Dalam hal etnisitas dan
agama, seorang Muslim Jawa akan lebih mendapat sokongan popularitas karena
mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim Jawa. Untuk posisi politik yang
tingkatnya lebih rendah (tergantung dari konteks agama daerah tertentu),
pimpinan-pimpinan politik yang bukan Islam masih mungkin adanya (contohnya
wakil gubernur Jakarta saat ini, Basuki Cahaya Purnama, yang adalah seorang
Cina Kristen). Dengan menilik posisi sosial (sebelumnya) di masyarakat ada
beberapa kategori yang dapat memberikan dukungan populer di pelbagai kalangan.
Kategori-kategori itu adalah (pensiunan) pejabat tentara, pengusaha, teknokrat
dan pimpinan intelektual Muslim. Oleh karena itu untuk mempertinggi kesempatan
menang dalam pemilu presiden dan wakil presiden biasanya berasal dari dua kategori
sosial yang berbeda supaya bisa menggapai khalayak pemilih yang lebih luas
lagi. Contohnya, presiden Indonesia saat ini, Susilo Bambang Yudhoyono (seorang
pensiunan tentara) memilih Boediono (seorang teknokrat Muslim jawa) sebagai
wakil presiden di masa kampanye tahun 2009. Kecepercayaan rakyat kepada
pasangan ini meningkat karena Boediono adalah seorang pakar ekonomi. Meski
Indonesia mengalami kepemimpinan otoritas di masa Suharto, saat ini
pun seorang jendral masih dapat kepopuleran dari rakyat karena mereka dianggap
sebagai pemimpin yang kuat.
Setelah
pemilu, presiden baru yang terpilih akan memilih anggota kabinetnya yang
biasanya terdiri dari anggota-anggota partainya, partai koalisi dan teknokrat
non-partai. Klik di sini untuk
melihat susunan kabinet Indonesia saat ini.
Yang
mencakup lembaga legislatif adalah Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).
MPR berwenang menyusun atau mengubah Undang-Undang Dasar dan melantik (atau
memberhentikan) presiden. MPR adalah sebuah lembaga legislatif bikameral yang
terdiri dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD).
DPR, yang terdiri dari 560 anggota, bertugas membentuk dan menyetujui
undang-undang, menghitung anggaran tahunan bersama presiden dan mengawasi
pelaksanaan undang-undang dan isu-isu politik. Anggota DPR dipilih untuk masa
kerja lima tahun dengan proporsi perwakilan yang adil berdasarkan hasil pemilu.
Sayangnya, DPR mengantongi reputasi buruk karena isu-isu skandal korupsi yang
acap kali dilakukan oleh para anggotanya. DPD menangani keputusan,
undang-undang dan isu-isu yang memang berhubungan dengan daerah yang dimaksud,
dengan demikian keberadaanya mampu meningkatkan perwakilan daerah di tingkat
nasional. Tiap provinsi di Indonesia memilih empat calon anggota DPD (yang akan
bekerja di pemerintahanan selama lima tahun) dari non-partai. Karena Indonesia
memiliki 32 provinsi, maka jumlah anggota DPD adalah 132 orang.

Yang
dimaksud lembaga yudikatif adalah Mahkamah Agung. Mahkamah Agung (MA)
adalah mahkamah tertinggi dalam sistem peradilan Indonesia. MA adalah
pengadilan paling tinggi dalam proses naik banding dan MA juga menangani
sengketa di pengadilan-pengadilan rendah. Tahun 2003 sebuah Mahkamah baru
dibentuk, yaitu Mahkamah Konstitusi. MK memonitor keputusan-keputusan yang
dibuat oleh kabinet dan parlemen (MPR) dan posisinya sejajar dengan Konstitusi
Indonesia. Sebagian besar kasus-kasus legal dapat ditangani oleh pengadilan
umum, pengadilan administrasi, pengadilan agama dan pengadilan militer. Sebuah
Komisi Yudisial mengawasi pemeliharaan jabatan, martabat dan perilaku
hakim-hakim Indonesia. Ada banyak laporan Bahwa lembaga peradilan di Indonesia
tidak bebas dari korupsi dan tidak sepenuhnya independen dari cabang-cabang
politik lain.
Sejarah Penjajahan Indonesia
Masa penjajahan Indonesia tidak langsung dimulai
ketika orang-orang Belanda pertama kali menginjakkan kaki di Nusantara pada
akhir abad ke-16. Sebaliknya, proses penjajahan oleh Belanda merupakan proses
ekspansi politik yang lambat, bertahap dan berlangsung selama beberapa abad
sebelum mencapai batas-batas wilayah Indonesia seperti yang ada sekarang.
Selama abad ke-18, Vereenigde
Oost-Indische Compagnie (disingkat VOC) memantapkan dirinya sebagai
kekuatan ekonomi dan politik di pulau Jawa setelah runtuhnya Kesultanan
Mataram. Perusahaan dagang Belanda ini telah menjadi kekuatan utama di
perdagangan Asia sejak awal 1600-an, tetapi pada abad ke-18 mulai mengembangkan
minat untuk campur tangan dalam politik pribumi di pulau Jawa demi meningkatkan
kekuasaan mereka pada ekonomi lokal. Namun korupsi, manajemen yang buruk dan
persaingan ketat dari Inggris (East India Company) mengakibatkan runtuhnya VOC
menjelang akhir abad ke-18. Pada tahun 1796, VOC akhirnya bangkrut dan kemudian
dinasionalisasi oleh pemerintah Belanda. Akibatnya, harta dan milik VOC di
Nusantara jatuh ke tangan mahkota Belanda pada tahun 1800. Namun, ketika
Perancis menduduki Belanda antara tahun 1806 dan 1815, harta tersebut
dipindahkan ke tangan Inggris. Setelah kekalahan Napoleon di Waterloo
diputuskan bahwa sebagian besar wilayah Nusantara kembali ke tangan Belanda.
Arsitek Pemerintah Kolonial Belanda di Indonesia
Dua nama menonjol sebagai arsitek Pemerintah
Kolonial Belanda di Indonesia. Pertama, Herman Willem Daendels, Gubernur
Jenderal 1808-1811 ketika Belanda dikuasai oleh Perancis dan, kedua, Letnan
Inggris Stamford Raffles, Gubernur Jenderal 1811-1816 ketika Jawa dikuasai
Inggris. Daendels mereorganisasi pemerintahan kolonial pusat dan daerah dengan
membagi pulau Jawa dalam distrik (yang juga dikenal sebagai residensi)
yang dipimpin oleh seorang pegawai negeri sipil Eropa - yang disebutkan residen
- yang secara langsung merupakan bawahan dari - dan harus melapor kepada -
Gubernur Jenderal di Batavia. Para residen ini bertanggung jawab atas berbagai
hal di residensi mereka, termasuk masalah hukum dan organisasi pertanian.
Raffles melanjutkan reorganisasi pendahulunya dengan mereformasi pengadilan,
polisi dan sistem administrasi di Jawa. Dia memperkenalkan pajak tanah di Jawa
yang berarti bahwa petani Jawa harus membayar pajak, kira-kira nilai
dua-perlima dari panen tahunan mereka, kepada pihak berwenang. Raffles juga
sangat tertarik dengan budaya dan bahasa Jawa. Pada tahun 1817 ia menerbitkan
bukunya The History of Java, salah satu karya akademis pertama yang topiknya
pulau Jawa. Namun, reorganisasi administrasinya yang diterapkan Raffles juga
berarti meningkatnya intervensi pihak asing di masyarakat dan ekonomi Jawa,
yang tercermin dari meningkatnya jumlah pejabat peringkat menengah Eropa yang
bekerja di residensi-residensi di pulau Jawa. Antara tahun 1825 dan tahun 1890
jumlah ini meningkat dari 73 menjadi 190 pejabat Eropa.
Sistem pemerintahan kolonial Belanda di Jawa
adalah sistem yang direk (langsung) maupun dualistik. Bersamaan dengan hirarki
Belanda, ada hirarki pribumi yang berfungsi sebagai perantara antara petani
Jawa dan layanan sipil Eropa. Bagian atas struktur hirarki pribumi ini terdiri
dari aristokrasi Jawa, sebelumnya para pejabat yang mengelola pemerintahan
Mataram. Namun, karena dikuasai penjajah para priyayi ini terpaksa melaksanakan
kehendak Belanda.
Meningkatnya
dominasi Belanda atas pulau Jawa tidak datang tanpa perlawanan. Ketika
Pemerintah Kolonial Belanda memutuskan untuk membangun jalan di tanah yang
dimiliki Pangeran Diponegoro (yang ditunjuk sebagai wali tahta Yogyakarta
setelah kematian mendadak saudara tirinya), ia memberontak dengan didukung oleh
mayoritas penduduk di Jawa Tengah dan menjadikannya perang jihad. Perang ini
berlangsung tahun 1825-1830 dan mengakibatkan kematian sekitar 215,000 orang,
sebagian besar orang Jawa. Tapi setelah Perang Jawa selesai - dan pangeran
Diponegoro ditangkap - Belanda jauh lebih kuat di Jawa dibanding sebelumnya.
Tanam Paksa atau Sistem Kultivasi di Jawa
Persaingan dengan para pedagang Inggris, Perang
Napoleon di Eropa dan Perang Jawa mengakibatkan beban finansial yang besar bagi
keuangan Kerajaan Belanda. Diputuskan bahwa Jawa harus menjadi sebuah sumber
utama pendapatan untuk Belanda dan karena itu Gubernur Jenderal Van den Bosch
mendorong dimulainya era Tanam Paksa (para sejarawan di Indonesia mencatat periode
ini sebagai era Tanam Paksa namun Pemerintah Kolonial Belanda menyebutnya Cultuurstelsel
yang berarti Sistem Kultivasi) di tahun 1830. Dengan sistem ini, Belanda
memonopoli perdagangan komoditi-komoditi ekspor di Jawa. Terlebih lagi, pihak
Belanda lah yang memutuskan jenis (dan jumlah) komoditi yang harus diproduksi
oleh para petani Jawa. Secara umum, ini berarti para petani Jawa harus
menyerahkan seperlima dari hasil panen mereka kepada Belanda. Sebagai gantinya,
para petani menerima kompensasi dalam bentuk uang dengan harga yang sudah
ditentukan Belanda tanpa memperhitungkan harga komoditi di pasaran dunia. Para
pejabat Belanda dan Jawa menerima bonus bila residensi mereka mengirimkan lebih
banyak hasil panen dari waktu-waktu sebelumnya, dan karena itu mendorong
intervensi top-down dan penindasan. Selain pemaksaan penanaman dan
kerja rodi, pajak tanah Raffles juga masih berlaku. Sistem Tanam Paksa
menghasilkan kesuksesan keuangan. Antara 1832 dan 1852, sekitar 19% dari total
pendapatan pemerintah Belanda berasal dari koloni Jawa. Antara 1860 ke 1866,
angka ini bertambah menjadi 33%.
Pada awalnya, Sistem Tanam
Paksa tidak didominasi hanya oleh pemerintah Belanda saja. Para pemegang
kekuasaan Jawa, pihak Eropa swasta dan juga para pengusaha Tionghoa bergabung
di dalamnya. Namun, setelah 1850 - waktu Sistem Tanam Paksa direorganisasi -
Pemerintah Kolonial Belanda menjadi pemain utama. Namun reorganisasi ini juga
membuka pintu bagi pihak-pihak swasta untuk mulai mendominasi Jawa. Sebuah
proses privatisasi terjadi ketika Pemerintah Kolonial secara bertahap
mengalihkan produksi komoditi ekspor kepada para pengusaha Eropa.
Zaman Liberal Hindia Belanda
Semakin banyak suara-suara terdengar di Belanda
yang menolak Sistem Tanam Paksa dan mendorong sebuah pendekatan yang lebih
liberal bagi perusahaan-perusahaan asing. Penolakan Sistem Tanam Paksa ini
terjadi karena alasan-alasan kemanusiaan dan ekonomi. Pada 1870 kelompok
liberal di Belanda memenangkan kekuasaan di parlemen Belanda dan sukses
menghilangkan beberapa karakteristik Sistem Tanam Paksa, seperti persentase
penanaman dan keharusan menggunakan lahan dan tenaga kerja untuk mengekspor
hasil panen. Kelompok liberal ini membuka jalan untuk dimulainya sebuah periode
baru dalam sejarah Indonesia dikenal sebagai Zaman Liberal (sekitar 1870-1900).
Periode ini ditandai dengan pengaruh besar dari kapitalisme swasta dalam
kebijakan kolonial di Hindia Belanda. Pemerintah Kolonial pada saat itu kurang
lebih memainkan peran sebagai pengawas dalam hubungan antara pengusaha-pengusaha
Eropa dengan masyarakat pedesaan Jawa. Namun - walaupun kaum liberal mengatakan
bahwa keuntungan pertumbuhan ekonomi juga akan mengucur kepada masyarakat lokal
- keadaan para petani Jawa yang menderita karena kelaparan, kurang pangan dan
penyakit tidak lebih baik dibandingkan masa Tanam Paksa.
Abad ke-19 juga dikenal
sebagai abad ketika Belanda melaksanakan ekspansi geografis yang substantial di
Nusantara. Didorong oleh mentalisme imperialisme baru, negara-negara Eropa
bersaing untuk mencari koloni-koloni di luar benua Eropa untuk motif ekonomi
dan status. Salah satu motif penting bagi Benda untuk memperluas wilayah di
Nusantara - selain keuntungan keuangan - adalah untuk mencegah negara-negara
Eropa lain mengambil bagian-bagian dari wilayah ini. Pertempuran paling
terkenal dan lama selama periode ekspansi Belanda adalah Perang Aceh yang
dimulai di tahun 1873 dan berlangsung sampai 1913, berakibat pada kematian
lebih dari 100,000 orang. Namun, Belanda tidak pernah memegang kontrol penuh
atas Aceh. Integrasi politik antara Jawa dan pulau-pulau lain di nusantara
sebagai kesatuan politis kolonial telah sebagian besar dicapai pada awal abad
ke-20.
Politik Etis dan Nasionalisme Indonesia
Ketika perbatasan Hindia Belanda mulai mengambil
bentuk menjadi Indonesia saat ini, Ratu Belanda Wilhelmina membuat pengumuman
pada pidato tahunannya di 1901 bahwa kebijakan baru, Politik Etis, akan
diterapkan. Politik Etis (mengakui bahwa Belanda memiliki hutang budi kepada
orang nusantara) bertujuan untuk meningkatkan standar kehidupan penduduk asli.
Cara untuk mencapai tujuan ini adalah melalui intervensi negara secara langsung
dalam kehidupan (ekonomi), dipromosikan dengan slogan 'irigasi, pendidikan dan
emigrasi'. Namun, pendekatan baru ini tidak membuktikan kesuksesan yang
signifikan dalam meningkatkan standar kehidupan penduduk asli.
Politik Etis menyebabkan efek samping yang besar.
Komponen pendidikan berkontribusi signifikan pada kebangkitan nasionalisme
Indonesia dengan menyediakan alat-alat intelektual bagi masyarakat Indonesia
untuk mengorganisir dan menyampaikan keberatan-keberatan mereka terhadap
Pemerintah Kolonial. Politik Etis memberikan kesempatan, untuk sebagian kecil
kaum elit Indonesia, untuk memahami ide-ide politik Barat mengenai kebebasan
dan demokrasi. Untuk pertama kalinya orang-orang pribumi mulai mengembangkan
kesadaran nasional sebagai 'orang Indonesia'.
Pada 1908, para pelajar di Batavia mendirikan
asosiasi Budi Utomo, kelompok politis pribumi yang pertama. Peristiwa ini
dianggap sebagai saat kelahiran nasionalisme Indonesia. Hal ini memulai tradisi
politik kerja sama antara elit muda Indonesia dan para pejabat pemerintahan
Belanda yang diharapkan untuk membantu wilayah Hindia Barat mencapai
kemerdekaan yang terbatas. Bab selanjutnya dalam kebangkitan nasionalisme
Indonesia adalah pendirian partai politik pertama berbasis masa, Sarekat Islam
di 1911. Pada awalnya, organisasi ini didirikan untuk mendukung para pengusaha
asli untuk melawan para pengusaha Tionghoa yang mendominasi ekonomi lokal namum
kemudian mengembangkan fokusnya dan mengembangkan kedasaran politik populer
dengan tendensi subversif. Gerakan-gerakan penting lainnya
yang menyebabkan terbukanya pemikiran politik pribumi adalah Muhammadiyah,
gerakan reformis sosio-religius Islam yang didirikan di tahun 1912 dan Asosiasi
Sosial Demokrat Hindia, gerakan komunis yang didirikan tahun 1914 yang
menyebarkan ide-ide Marxisme di Hindia Belanda. Perpecahan internal di gerakan
ini kemudian mendorong pendirian Partai Komunis Indonesia (PKI) di tahun 1920.
Pada awalnya, Pemerintah Kolonial Belanda
mengizinkan pendirian gerakan-gerakan politik lokal namun ketika ideologi
Indonesia diradikalisasi di tahun 1920an (seperti yang tampak dalam
pemberontakan-pemberontakan komunis di Jawa Barat dan Sumatra Barat di tahun
1926 dan 1927) Pemerintah Belanda mengubah tindakannya. Sebuah rezim yang
relatif toleran digantikan dengan rezim represif yang menekan semua tindakan
yang diduga subversif. Rezim represif ini hanya memperparah keadaan dengan
meradikalisasi seluruh gerakan nasionalis Indonesia. Sebagian dari para
nasionalis ini mendirikan Partai Nasionalis Indonesia (PNI) di tahun 1927
sebagai sebuah reaksi pada rezim yang represif. Tujuannya adalah mencapai
kemerdekaan penuh untuk Indonesia.
Peristiwa penting lainnya
bagi nasionalisme Indonesia adalah Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Pada kongres
yang dihadiri organisasi-organisasi pemuda ini, tiga idealisme diproklamasikan,
menyatakan diri memiliki satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Tujuan
utama dari kongres ini adalah mendorong persatuan antara kaum muda Indonesia.
Di dalam kongres ini lagu yang kemudian menjadi lagu kebangsaan nasional
(Indonesia Raya) dikumandangkan dan bendera nasional di masa kemerdekaan
(merah-putih) dikibarkan untuk pertama kalinya. Pemerintah Kolonial Belanda
bertindak dengan melakukan aksi-aksi penekanan. Para pemimpin nasionalis muda,
seperti
Sukarno
(yang menjadi presiden pertama Indonesia di tahun 1945) dan Mohammad Hatta
(wakil presiden Indonesia yang pertama) ditangkap dan diasingkan.
Invasi Jepang ke Hindia Belanda
Pihak Belanda cukup kuat untuk mencegah
nasionalisme Indonesia dengan cara menangkap para pemimpinnya dan menekan organisasi-organisasi
nasionalis namun mereka tidak pernah bisa menghapuskan sentimen nasionalisme.
Orang-orang Indonesia, di sisi lain, tidak memiliki kekuatan untuk bersaing
dengan para pemimpin kolonialis dan karenanya membutuhkan bantuan-bantan dari luar
untuk menghancurkan sistem kolonial. Di Maret 1942, orang-orang Jepang, dibakar
semangatnya oleh keinginan akan minyak, menyediakan bantuan tersebut dengan
menguasai Hindia Belanda. Walaupun pada awalnya disambut sebagai pembebas oleh
penduduk Indonesia, mereka segera mengalami kesengsaraan di bawah penjajahan
Jepang: kekurangan makanan, pakaian dan obat dan juga kerja paksa di bawah
kondisi yang menyiksa. Kurangnya makanan terjadi terutama disebabkan karena
administrasi yang tidak kompeten, mengubah Jawa menjadi sebuah pulau penuh
kelaparan. Orang-orang Indonesia bekerja sebagai buruh paksa (disebut romusha)
ditempatkan untuk bekerja dalam proyek-proyek yang membutuhkan banyak tenaga
kerja di Jawa.
Ketika Jepang mengambil alih para pejabat Belanda
ditempatkan dalam kamp-kamp tawanan dan digantikan oleh orang-orang Indonesia
untuk mengerjakan tugas-tugas kepemerintahan. Orang-orang Jepang mendidik,
melatih dan mempersenjatai banyak kaum muda Indonesia dan memberikan suara
politik kepada para pemimpin nasionalis. Ini memampukan para pemimpin
nasionalis untuk mempersiapkan masa depan bangsa Indonesia yang merdeka. Pada
bulan-bulan terakhir sebelum penyerahan diri Jepang, yang secara efektif
mengakhiri Perang Dunia II, pihak Jepang memberikan dukungan penuh pada gerakan
nasionalis Indonesia. Hancurnya kekuasaan politik, ekonomi, dan sosial
Pemerintah Kolonial Belanda melahirkan sebuah era baru. Pada 17 Agustus 1945,
Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, dua hari setelah
penjatuhan bom atom di Nagasaki.
Orde Lama Soekarno: Kelahiran Indonesia
Soekarno (1901-1970), yang lahir di Surabaya
(Jawa Timur) pada masa pemerintahan kolonial Belanda, adalah pemimpin
nasionalis yang mendedikasikan hidupnya untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Meskipun bertumbuh dalam lingkungan tradisional Jawa (dikombinasikan dengan
pengaruh-pengaruh Bali dari sisi keluarga ibunya), Soekarno mendapatkan
pendidikan di sekolah-sekolah modern kolonial Belanda. Sejak usia muda minat
utamanya adalah membaca buku-buku dengan topik-topik filosofi, politik dan
sosialisme. Waktu sekolah di Surabaya, Soekarno tinggal di rumah Oemar Said
Tjokroaminoto, pemimpin pertama dari Sarekat Islam (yang kemudian menjadi
gerakan penting untuk kebangkitan nasional Indonesia). Tjokroaminoto menjadi
mentor politik dan inspirasi bagi Soekarno.
Pada tahun 1927 Soekarno mendirikan dan menjadi
pemimpin sebuah organisasi politik yang disebut Partai Nasional Indonesia (PNI)
yang bertujuan untuk meraih kemerdekaan penuh untuk Indonesia. Namun, aktivitas-aktivitas
politik subversif ini menyebabkan penangkapan dan pemenjaraannya oleh rezim
Pemerintah Kolonial Belanda yang represif di tahun 1929. Bagi orang-orang
Indonesia pada saat itu, pembuangan Soekarno hanya memperkuat citranya sebagai
pahlawan nasional dan pejuang kemerdekaan. Setelah pembebasannya, Soekarno
berada dalam konflik yang berkelanjutan dengan pemerintahan kolonial selama
tahun 1930an, menyebabkan Soekarno berkali-kali dipenjara. Ketika Jepang
menginvasi Hindia Belanda di bulan Maret 1942, Soekarno menganggap kolaborasi
dengan Jepang sebagai satu-satunya cara untuk meraih kemerdekaan secara sukses.
Sebuah taktik yang terbukti efektif.
Sampai saat ini, masyarakat Indonesia sangat
menghormati dan mengagumi Soekarno, pencetus dari nasionalisme Indonesia,
karena mendedikasikan hidupnya untuk kemerdekaan Indonesia dan membawa
identitas politik baru pada negara Indonesia.
Kelahiran yang Sulit Bangsa Indonesia
Waktu Soekarno (Presiden pertama Indonesia) dan
Mohammad Hatta (Wakil Presiden pertama Indonesia), dua nasionalis paling
terkemuka di Indonesia, memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus
1945, bersama dengan publikasi konstitusi yang pendek dan sementara
(Undang-Undang Dasar 1945), tantangan-tantangan mereka masih jauh dari berakhir.
Nyatanya akan membutuhkan empat tahun revolusi lagi untuk melawan Belanda yang
- setelah dibebaskan dari Jerman di Eropa - kembali untuk mengklaim kembali
koloni mereka. Belanda berkeras untuk tidak melepaskan koloni mereka di Asia
Tenggara yang sangat menguntungkan namun kemudian harus menghadapi kenyataan.
Di bawah tekanan internasional, Belanda akhirnya mengakui kemerdekaan Indonesia
pada tahun 1949 (kecuali untuk wilayah barat pulau Papua). Namun, negosiasi
dengan Belanda menghasilkan 'Republik Indonesia Serikat' yang memiliki
konstitusi federal yang dianggap terlalu banyak dipengaruhi oleh Belanda. Oleh
karena itu, konstitusi ini segera diganti dengan Undang-Undang Dasar Sementara
1950 (UUDS 1950) yang menjadi dasar hukum sistem pemerintahan parlementer,
menjamin kebebasan individu dan mengharuskan militer untuk tunduk kepada
supremasi sipil. Posisi presiden, secara garis besar, hanya memiliki fungsi
seremonial dalam sistem ini.
Perdebatan antara beberapa pihak yang berpengaruh
mengenai dasar ideologis Indonesia dan hubungan organisasional antara sejumlah
badan negara telah dimulai sebelum proklamasi tahun 1945. Tentara Indonesia,
para pahlawan Revolusi, selalu memiliki aspirasi politik sendiri. Namun, UUDS
1950, tidak menyediakan peran politik bagi para militer. Para perwakilan dari
partai-partai Islam dalam pembicaraan-pembicaraan konstitusi - meskipun dalam
topik-topik lain tidak mewakili kelompok yang homogen - ingin Indonesia menjadi
sebuah negara Islam yang diatur dengan hukum syariah. Namun kelompok-kelompok
lain menganggap bahwa pendirian sebuah negara Islam akan membahayakan persatuan
Indonesia dan bisa memicu pemberontakan dan gerakan-gerakan separatisme karena
terdapat jutaan orang non-Muslim di Indonesia. Hal lain yang menyebabkan
kekecewaan di pihak perwakilan partai-partai Islam dan militer adalah
kembalinya Partai Komunis Indonesia (PKI). Setelah dilarang oleh pemerintahanan
kolonial pada tahun 1927 karena mengorganisir pemberontakan-pemberontakan di
Jawa Barat dan Sumatra Barat, PKI meraih dukungan di Jawa Tengah dan Jawa Timur
dan menjadi salah satu partai paling populer dalam skala nasional. Dan
terakhir, ada juga para nasionalis yang menekankan kebutuhan akan jaminan
hak-hak individu versus negara. Para nasionalis berjuang dalam PNI (versi
partai politik dari gerakan PNI yang telah disebutkan sebelumnya, didirikan
oleh Soekarno pada tahun 1927 dan yang bertujuan meraih kemerdekaan). PNI
meraih banyak dukungan di Indonesia.

Makanya
Soekarno harus mencari sebuah cara untuk menyatukan sudut pandang yang
berbeda-beda ini. Pada Juni 1945, Soekarno menyampaikan pandangannya mengenai
kebangsaan Indonesia dengan memproklamasikan filosofi Pancasila. Pancasila ini
adalah lima prinsip yang akan menjadi dasar Negara Indonesia:
1. Ketuhanan yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan Perwakilan
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Bangsa Indonesia
Namun, ada satu masalah berkelanjutan yang
menjadi penghalang persatuan masyarakat Indonesia yang sangat pluralistis
melalui Pancasila yaitu adalah tuntutan pendirian negara Islam oleh
partai-partai Islam. Pada awalnya, Panitia Sembilan (komite yang terdiri dari
sembilan tokoh kemerdekaan yang merumuskan dasar negara Indonesia) setuju untuk
menambahkan tambahan pendek pada sila pertama: 'Ketuhanan dengan kewajiban
menjalani syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.' Namun, sebelum diumumkan ke
publik, tambahan pada dasar negara tahun 1945 versi pertama ini (dikenal
sebagai Piagam Jakarta) dihapuskan karena kekuatiran bahwa hal ini bisa
menimbulkan kemarahan dari kelompok-kelompok non-Muslim atau Muslim tradisi
(yang tidak terlalu religius). Penghapusannya kemudian menyebabkan
ketidakpercayaan yang dalam pada kelompok nasionalis sekuler oleh komunitas
Muslim yang lebih ortodoks.
Demokrasi Parlementer
Demokrasi parlementer di Indonesia pada tahun
1950an ditandai oleh ketidakstabilan. Alasan utamanya adalah perbedaan sudut
pandang mengenai dasar ideologis negara. Situasi ini terlihat dalam pemilihan
umum pertama di Indonesia. Pemilihan umum pertama ini terjadi pada tahun 1955
dan dianggap jujur dan adil (dan akan membutuhkan waktu lebih dari 40 tahun
sebelum Indonesia bisa memiliki contoh lain dari pemilu yang jujur dan adil).
Dua partai Islam yang besar yaitu Masyumi dan Nahdlatul Ulama (Nahdatul Ulama
telah memisahkan diri dari Masyumi pada tahun 1952) mendapatkan masing-masing
20,9% dan 18,4% suara. PNI meraih 20,3% suara, sementara PKI meraih 16,4%. Ini
berarti tidak ada mayoritas satu partai yang bisa menguasai pemerintahan
sehingga kabinet di masa parlementer dibentuk dengan membangun koalisi-koalisi
antara berbagai aliran ideologi. Dari 1950 sampai 1959, tujuh kabinet yang
memerintah berganti-ganti secara cepat, setiap kabinet gagal membuat perubahan
signifikan untuk negara.
Selain perselisihan dalam elit politik Jakarta,
ada masalah-masalah lain yang membahayakan persatuan Indonesia pada era 1950an.
Gerakan militan Darul Islam, yang bertujuan mendirikan negara Islam menggunakan
teknik perang gerilya untuk mencapai tujuannya, telah memenangkan
wilayah-wilayah di Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan Aceh. Gerakan ini telah
dimulai selama periode kolonial namun cepat merubah arahnya melawan
pemerintahan di bawah Soekarno hingga penyerahannya pada tahun 1962.
Gerakan-gerakan subversif lain yang berdampak adalah Piagam Perjuangan Semesta
(Permesta) di Sulawesi Utara dan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia
(PRRI) di Sumatra Barat. Keduanya dimulai pada akhir 1950an dan menkonfrontasi
pemerintah pusat dengan tuntutan-tuntutan reformasi politik, ekonomi, dan
regional. Gerakan-gerakan ini dipimpin oleh para perwira militer, didukung oleh
anggota-anggota Masyumi dan Central Intelligence Agency (CIA) dari Amerika
Serikat yang menganggap popularitas PKI sebagai sebuah ancaman besar. Dengan
menggunakan kekuatan militer, pemerintah pusat berhasil menghancurkan
gerakan-gerakan ini pada awal 1960an. Terakhir, para mantan anggota militer
bentukan Pemerintah Kolonial Belanda yang bernama Koninklijk
Nederlands-Indische Leger (KNIL) memproklamasikan Republik Maluku Selatan pada
tahun 1950. Sekalipun berhasil dikalahkan oleh kekuatan militer Indonesia pada
tahun yang sama, konflik bersenjata berlanjut hingga tahun 1963.
Demokrasi Terpimpin Soekarno
Soekarno menyadari bahwa periode demokrasi
liberal telah menghambat perkembangan Indonesia karena perbedaan-perbedaan
ideologis di dalam kabinet. Solusi yang disampaikan Soekarno adalah
"Demokrasi Terpimpin" yang berarti pengembalian kepada UUD 1945 yang
mengatur sistem kepresidenan yang kuat dengan tendensi otoriter. Dengan cara
ini, Soekarno memiliki lebih banyak kekuasaan untuk melaksanakan
rencana-rencananya. Pihak militer, yang tidak senang dengan perannya yang kecil
dalam masalah-masalah politik hingga saat itu, mendukung perubahan orientasi
ini. Pada tahun 1958, Soekarno telah menyatakan bahwa militer adalah sebuah
'kelompok fungsional' yang berarti mereka juga menjadi aktor dalam proses
politik dan pada periode Demokrasi Terpimpin, perannya dalam politik akan
menjadi lebih besar.
Pada tahun 1959, Soekarno memulai periode
Demokrasi Terpimpin. Ia membubarkan parlemen dan menggantinya dengan parlemen
baru yang setengah dari anggotanya ditunjuk sendiri oleh Soekarno. Soekarno
juga menyadari bahaya bagi kedudukannya bila militer menjadi terlalu kuat.
Karena itu, Soekarno mengandalkan dukungan dari PKI untuk mengimbangi kekuatan
militer. Baik militer maupun PKI merupakan bagian dari filosofinya yang disebut
'Nasakom', sebuah akronim yang mencampurkan tiga buah ideologi yang paling
penting dalam masyarakat Indonesia pada tahun 1950an dan awal 1960an yaitu
nasionalisme, agama, dan komunisme. Ketiga komponen ini hanya memiliki sedikit
kesamaan, bahkan tiap komponen bermasalah dengan komponen lainnya. Semuanya
tergantung pada kemampuan politik, kharisma dan status Soekarno untuk tetap
menjaga kesatuan ketiga komponen ini.
Karakteristik lain dari Demokrasi Terpimpin
Soekarno adalah tendensi anti Barat dalam kebijakan-kebijakannya. Beliau memperkuat
usaha-usaha untuk mengambil alih bagian Barat pulau Papua dari Belanda. Setelah
sejumlah konflik bersenjata, Belanda menyerahkan wilayah ini kepada Persatuan
Bangsa-Bangsa (PBB) yang kemudian menyerahkannya kepada Indonesia pada tahun
selanjutnya. Sejak tahun 1962 sampai 1966, Soekarno menggelar politik
konfrontasi melawan Malaysia. Beliau menganggap pendirian Federasi Malaysia,
termasuk Malaka, Singapura, dan wilayah Kalimantan yang sebelumnya dikuasai
Inggris (Sarawak dan Sabah), sebagai kelanjutan dari pemerintah kolonial dan
melaksanakan kampanye militer yang tidak sukses untuk ‘menghancurkan’ Malaysia.
Bagian dari kebijakan konfrontasi ini adalah keluarnya Indonesia dari PBB
karena PBB mengizinkan Malaysia menjadi negara anggota. Pada tahun 1965, Soekarno
terus memutuskan hubungan dengan dunia kapitalis Barat dengan mengeluarkan
Indonesia dari keanggotaan International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia,
yang berarti bantuan asing yang sangat dibutuhkan berhenti dialirkan ke
Indonesia. Hal ini memperburuk situasi ekonomi Indonesia yang telah mencapai
level ekstrim berbahaya pada saat itu.
Kudeta Misterius Gerakan 30 September
Gejolak antara ketiga komponen Nasakom menguat.
Pada 30 September 1965, menjadi jelas betapa berbahayanya campuran politis yang
telah diciptakan Soekarno. Pada malam itu, enam jenderal dan satu letnan
diculik dan dibunuh oleh perwira-perwira aliran kiri yang menamakan dirinya
Gerakan 30 September. Berdasarkan tuduhan yang ada, para perwira militer yang
terbunuh ini merencanakan kudeta untuk menjatuhkan Soekarno. Namun, tidak ada
bukti bahwa akan ada kudeta militer melawan Soekarno. Juga tidak ada bukti
bahwa PKI berada di belakang serangan untuk mencegah kudeta militer ini. Namun,
Suharto, kepala dari Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) yang
mengambil alih kekuasaan militer karena menjadi perwira militer tertinggi
setelah pembunuhan para atasannya, dengan cepat menyalahkan PKI. Dengan segera,
pengikut komunis dan orang-orang yang diduga mengikuti komunis dibantai terutama
di Jawa Tengah, Jawa Barat, Bali dan Sumatra Utara. Dugaan jumlah korban
bervariasi di antara 400.000 sampai 1 juta orang. Diduga bahwa pihak-pihak yang
melakukan pembantaian adalah unit-unit militer, kelompok-kelompok kriminil
sipil (yang mendapatkan senjata dari militer) dan Ansor (organisasi pemuda
militan dari Nahdlatul Ulama). Pembantaian ini berlanjut sepanjang 1965 dan
1966. Namun, banyak isu mengenai kudeta ini dan tindakan-tindakan anti-komunis
selanjutnya tetap tidak jelas sampai saat ini dan kemungkinan besar tidak akan
diketahui kebenarannya. Setelah Orde Baru Suharto berakhir pada tahun 1998,
masyarakat Indonesia mulai meragukan penjelasan resmi dari Pemerintah yang
menyalahkan komunis namun bab sejarah ini tidak menerima perhatian besar dalam
diskusi publik, kecuali sebuah laporan dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia
(Komnas HAM) pada 2012 yang menyatakan pembantaian ini sebagai pelanggaran hak
asasi manusia luar biasa.
Kudeta ini dan peristiwa-peristiwa selanjutnya
menyebabkan konsekuensi-konsekuensi politis dramatis untuk Soekarno. Indonesia
berada di bawah hukum darurat militer yang membuat kekuasaan nyata berada di
tangan Jenderal Suharto. Selama dua tahun selanjutnya, Suharto dengan pelan
namun pasti memperluas kekuasaannya dan menyudutkan Soekarno ke pinggir. Hal
ini menandai dimulainya Orde Baru Suharto. Soekarno ditempatkan di bawah
tahanan rumah di Bogor (Jawa Barat) dan kesehatannya menurun hingga kematiannya
pada tahun tahun 1970.
Orde Baru Suharto: Pembangunan Indonesia di Bawah Pemerintahan Otoriter
Suharto (1921-2008), Presiden kedua Indonesia,
meraih kekuasaan di tengah periode krisis darurat dan pertumpahan darah.
Pendahulunya,
Soekarno,
telah menciptakan komposisi pemerintahan antagonistik yang sangat berbahaya dan
terdiri dari fraksi-fraksi nasionalis, komunis, dan agama. Pihak lain yang
bersemangat untuk tetap memegang kekuatan politik adalah pihak militer, yang
berhasil menjadi lebih berpengaruh dalam politik pada tahun 1950an waktu perlu
menghancurkan sejumlah pemberontakan yang mengancam kesatuan Indonesia. Keempat
kelompok ini sangat saling mencurigai satu sama lainnya. Ketidakpercayaan ini
kemudian memuncak pada tragedi di pertengahan 1960an ketika sekelompok perwira
aliran kiri, karena pengaruh Partai Komunis Indonesia (menurut tuduhan pihak
militer), melakukan kudeta dengan menculik dan membunuh tujuh pimpinan utama
militer yang mereka tuduh ingin menjatuhkan Presiden Soekarno. Suharto, seorang
perwira tinggi yang mengambil alih kekuasaan militer selama masa kekacauan ini,
menyatakan bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah dalang dari segala
kekacauan ini. Selama beberapa bulan kemudian, ratusan ribu pengikut aliran
komunis maupun orang yang diduga pengikut aliran komunis dibantai di Sumatra,
Jawa and Bali. Walaupun banyak fakta tetap tidak diketahui kebenarannya, jelas
bahwa Jenderal Suharto telah muncul sebagai pemilik kekuasaan yang besar di
tengah kekacauan di tahun 1960an.
Peralihan Kekuasaan: Orde Lama menjadi Orde Baru
Pada 11 Maret 1966, penduduk Indonesia masih
dalam keadaan terguncang dan terjebak dalam kekacauan. Tepat pada hari itu,
Presiden Soekarno dipaksa menandatangani sebuah dekrit yang memberikan kekuasaan
kepada Jenderal Suharto untuk melakukan tindakan-tindakan demi menjaga
keamanan, kedamaian dan stabilitas negara. Dekrit ini dikenal sebagai dokumen
Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) dan menjadi alat pemindahan kekuasaan
eksekutif dari Soekarno ke Suharto. Suharto dengan cepat melarang segala
aktivitas PKI, mulai membersihkan militer dari elemen-elemen aliran kiri, dan
mulai memperkuat peran politik militer di masyarakat Indonesia. Meski masih
tetap presiden, kekuatan Soekarno semakin lama semakin berkurang sehingga
Suharto secara formal dinyatakan sebagai pejabat sementara presiden pada tahun
1967 dan dilantik menjadi Presiden Indonesia kedua pada tahun 1968. Ini
menandai munculnya era baru yang disebut 'Orde Baru' dan berarti bahwa kebijakan-kebijakan
pemerintah diubah dengan drastis. Pemerintah baru berfokus pada pembangunan
ekonomi. Hubungan dengan dunia Barat, yang telah dihancurkan Soekarno,
dipulihkan sehingga memungkinkan mengalirnya dana bantuan asing yang sangat
dibutuhkan ke Indonesia. Manajemen fiskal yang penuh kehati-hatian mulai
dilaksanakan oleh para teknokrat ekonomi dan konfrontasi yang berbahaya dan
mahal melawan Malaysia dihentikan.
Langkah selanjutnya yang dilakukan Suharto adalah
depolitisasi Indonesia. Menteri-menteri tidak diizinkan membuat
kebijakan-kebijakan mereka sendiri. Sebaliknya, mereka harus
mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang diformulasikan oleh atasannya
(Presiden). Golkar (akronim dari Golongan Karya, atau kelompok-kelompok
fungsional) digunakan sebagai kendaraan parlementer yang kuat milik Suharto.
Golkar mencakup beberapa ratus kelompok fungsional yang lebih kecil (seperti
persatuan-persatuan buruh, petani dan pengusaha) yang memastikan bahwa
masyarakat Indonesia tidak bisa lagi dimobilisasi oleh partai-partai politik.
Golkar dikembangkan menjadi sebuah alat untuk memastikan bahwa mayoritas suara
dalam pemilihan umum akan mendukung pemerintah. Golkar memiliki jaringan sampai
ke desa-desa dan didanai untuk mempromosikan Pemerintah Pusat. Para pegawai
negeri sipil diwajibkan mendukung Golkar sementara kepala-kepala desa menerima
kuota suara untuk Golkar yang harus dipenuhi. Kebijakan-kebijakan ini
menghasilkan kemenangan besar untuk Golkar pada pemilihan umum 1971. Untuk
semakin memperkuat kekuasaan politiknya, Suharto 'mendorong' sembilan partai
politik yang ada untuk bergabung sehingga tinggal dua partai. Partai pertama
adalah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang terdiri dari partai-partai Islam
dan partai kedua adalah Partai Demokrasi Indonesia (PDI) terdiri dari
partai-partai nasionalis dan Kristen. Kendati begitu, aktivitas-aktivitas
politik kedua partai ini sangat dibatasi sehingga hanya menjadi masa-masa
kampanye singkat sebelum pemilihan umum.
Pemerintahan yang Semakin Otoriter
Dari permulaan Orde Baru, angka-angka pertumbuhan
makroekonomi sangat mengesankan (penjelasan lebih mendetail ada di bagian '
Keajaiban
Orde Baru'). Namun, kebijkan-kebijakan ini juga menyebabkan
ketidakpuasan di masyarakat Indonesia karena pemerintah dianggap terlalu
terfokus pada menarik investor asing. Sementara kesempatan-kesempatan investasi
yang besar hanya diberikan kepada orang Indonesia yang biasanya merupakan perwira
militer atau sekelompok kecil warga keturunan Tionghoa (yang merupakan kelompok
minoritas di Indonesia tapi sempat mendominasi perekonomian). Muak dengan
korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), ribuan orang melakukan demonstrasi di
tahun 1974 ketika Perdana Menteri Jepang melakukan kunjungan ke Jakarta.
Demonstrasi ini berubah menjadi kerusuhan yang besar yang disebut 'Kerusuhan
Malari'. Itu adalah pengalaman yang mengerikan bagi pemerintahan yang baru
karena hal ini menunjukkan bahwa Pemerintah tidak bisa menguasai massa. Kuatir
bahwa suatu hari mungkin akan ada perlawanan dari jutaan penduduk miskin di
perkotaan dan pedesaan, kebijakan-kebijakan baru (yang lebih menekan)
dilaksanakan oleh Pemerintah. Dua belas surat kabar ditutup dan para jurnalis
ditahan tanpa persidangan. Hal ini mendorong media melakukan sensor sendiri.
Semua ketidakpuasan yang diekspresikan di publik (seperti demonstrasi) segera
ditekan. Sisi ekonomi dari perubahan kebijakan ini - dan yang mendapat banyak
dukungan dari masyarakat Indonesia - adalah dimulainya usaha-usaha membatasi
investasi asing dan kebijakan-kebijakan yang memberikan perlakuan khusus bagi
para pengusaha pribumi.
Dalam politik nasional, Suharto berhasil semakin
memperkuat posisinya di tahun 1970an. Produksi minyak domestik yang sedang
dalam puncaknya memastikan bahwa jumlah pemasukan negara berlimpah. Pemasukan
ini digunakan untuk membiayai pembangunan infrastruktur dan program-program
pengentasan kemiskinan. Namun, di dunia internasional, citra Indonesia memburuk
karena invasi Timor Timur. Setelah berhentinya masa penjajahan Portugal - dan
deklarasi kemerdekaan Timor Timur pada 1975 - militer Indonesia dengan cepat
menginvasi negara ini; sebuah invasi yang ditandai dengan kekerasan.
Di tahun 1984, semua organisasi sosial politik
harus menyatakan Pancasila (lima prinsip pendirian Negara Indonesia yang
diperkenalkan oleh Soekarno pada tahun 1940an) sebagai satu-satunya ideologi
mereka. Suharto kemudian menggunakan Pancasila sebagai alat penekanan karena
semua organisasi berada di bawah ancaman tuduhan melakukan tidakan-tindakan
anti-Pancasila.
Bisa dikatakan bahwa pada tahun 1980an, Suharto
berada di puncak kekuasaanya. Setiap pemilu dimenang secara muda. Terlebih
lagi, dia berhasil membuat pihak militer menjadi tidak berkuasa. Sama dengan
partai-partai politik dan pegawai negeri sipil, militer hanya bekerja untuk
mengimplementasikan kebijakan Suharto. Namun depolitisasi masyarakat Indonesia
ini memiliki satu efek samping yang penting. Ini menyebabkan kebangkitan
kesadaran Islam, terutama di kalangan kaum muda. Karena arena politik adalah
area tertutup, umat Muslim melihat
Islam
sebagai alternatif yang aman. Keberatan-keberatan mengenai pemerintah didiskusikan
di mesjid-mesjid dan khotbah-khotbah karena terlalu berbahaya untuk berbicara
dalam demonstrasi (yang akan segera dihentikan juga bila terjadi). Kebangkitan
(
revival) Islam menyebabkan perubahan kebijakan baru
pada awal 1990an.
Perubahan Fokus ke Islam
Karena kekuatan-kekuatan Islam selalu kuat
sepanjang sejarah Indonesia, para pemimpin umum Muslim dari
organisasi-organisasi seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) memiliki
lebih banyak ruang untuk mengkritik (kebijakan) Suharto. Suharto (seorang
muslim tradisionalis yang tidak terlalu religius) mulai melakukan pendekatan
baru pada Islam di awal 1990an. Ini termasuk jiarah naik haji Suharto ke Mekkah
di 1991, penempatan para perwira yang lebih 'ramah Islam' di pucuk pimpinan
militer, dan pendirian Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). ICMI
didirikan lebih sebagai sebuah tempat menyuarakan masukan-masukan dari umat
Muslim untuk kebijakan publik daripada sebuah organisasi politik berbasis
massa. Keanggotaannya mencakup para pemimpin Islam yang kritis dan tidak
terlibat dalam pemerintahan, dan menteri-menteri kabinet. Semua upaya yang
dikombinasikan ini memang sedikit mengurangi kritikan dari komunitas Muslim.
Oposisi yang Semakin Menguat
Selama era 1990an, Pemerintah Orde Baru Suharto
mulai kehilangan kontrol ketika masyarakat Indonesia menjadi semakin asertif.
Hal ini sebagian disebabkan karena kesuksesannya sendiri: perkembangan ekonomi
yang mengesankan membuat lebih banyak orang Indonesia mendapat pendidikan dan
kelompok yang terdidik ini merasa frustasi karena tidak memiliki pengaruh apa
pun dalam merubah keadaan politik di negara ini. Sementara itu, para pengusaha
pribumi frustasi karena tidak dapat kesempatan bisnis karena
kesempatan-kesempatan bisnis yang besar hanya diberikan kepada keluarga dan
teman-teman dekat Suharto (kroni-kroninya). Dari tahun 1993,
demonstrasi-demonstrasi di jalan menjadi lebih sering terjadi dan bukan tanpa
kesuksesan, misalnya sebuah lotere yang disponsori pemerintah terpaksa
dihentikan karena demonstrasi oleh para mahasiswa dan kelompok-kelompok Muslim.
Terlebih lagi, beberapa pejabat yang didukung pemerintah pusat dikalahkan saat
pemilihan umum di provinsi-provinsi. Ini menunjukkan kepada masyarakat bahwa
rejim Suharto bukannya tanpa kelemahan.
Isu lain yang memiliki dampak negatif untuk
posisi pemerintah adalah kegiatannya mencampuri urusan internal PDI. Megawati
Soekarnoputri (puteri dari Soekarno) dipilih sebagai ketua umum PDI pada tahun
1993 menggantikan Suryadi. Namun, pemerintah tidak mengakui keputusan ini dan
memerintahkan dilaksanakannya pemilihan ulang. Megawati, yang semakin kritis
terhadap rejim Suharto, dilihat sebagai sebuah ancaman nyata karena status
ayahnya. Oleh karena itu, Pemerintah mendukung Suryadi di sebuah konggres lain
tanpa mengundang partisipasi Megawati. Ini menghasilkan pemilihan ulang Suryadi
sebagai Ketua Umum namun Megawati jelas menolak mengakui hasil dari konggres
buatan ini. Hal ini kemudian menyebabkan perpecahan di dalam PDI dan juga
bentrokan-bentrokan kekerasan di markas umumnya di Jakarta. Masyarakat pada
umumnya merasa frustasi karena Suharto ikut campur dalam urusan internal PDI,
terutama karena hal ini melibatkan puteri Sukarno.
Hancurnya Orde Baru Suharto
Legitimasi pemerintahan otoriter Suharto terutama
berasal dari pembangunan ekonomi yang terjadi pada masa pemerintahannya. Dari
keputusasaan di tahun 1960an, proses industrialisasi merubah Indonesia menjadi
negara yang menjanjikan. Institusi-institusi internasional berpengaruh
(seperti Bank Dunia) menyatakan Indonesia sebagai 'Keajaiban Asia Timur'
pada tahun 1990an. Istilah-istilah lain yang digunakan institusi-institusi
internasional menggambarkan performa ekonomi Indonesia sebagai 'Macan Asia' dan
'High Performing Asian Economy' (HPAE). Tentu saja, komunitas internasional
juga menyadari bahwa hak asasi manusia tidak selalu dihormati oleh pemerintah
di negara ini. Namun, ironisnya, karakteristik Orde Baru yang supresif juga
menjadi kunci dalam mengentaskan kemiskinan untuk jutaan orang karena hanya ada
sedikit ruang untuk menentang pembuatan dan pelaksanaan kebijakan. Pada
pertengahan 1960an, lebih dari 50% penduduk diklasifikasikan sebagai kelompok
yang hidup di bawah garis kemiskinan, sementara di 1993 angka ini berkurang
menjadi 13,5% dari jumlah total penduduk. Indikator-indikator sosial lain
(seperti partisipasi di sekolah, angka kematian bayi, usia harapan hidup)
menunjukkan hasil-hasil positif yang serupa.
Gaya pemerintahan Suharto adalah sistem politik
patronase. Sebagai ganti untuk dukungan di bidang politik atau keuangan, ia
membujuk para pengkritiknya dengan memberikan mereka posisi yang bagus di
pemerintahan maupun kesempatan bisnis yang bagus. Namun, perlakuan pilih kasih
ini tidak hanya diberikan pada para pengkritiknya. Selama dekade terakhir
pemerintahan Suharto, anak-anak dan teman-teman dekatnya bisa membentuk sebuah
kerajaan bisnis hanya karena kedekatan mereka dengan Suharto. Meskipun banyak
orang Indonesia yang frustasi dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme tingkat
tinggi di lingkaran pemerintahan ini, Pemerintah selalu bisa merujuk pada
pembangunan ekonomi yang mengesankan dan pada saat yang sama melakukan
lip
service kepada masyarakat dengan mengklaim bahwa ada usaha-usaha
memberantas korupsi di negara ini. Namun, pilar ekonomi yang menjadi alat legitimasi
ini menghilang ketika Krisis Finansial Asia melanda pada 1997-1998
(penjelasan lebih mendetail ada di bagian
Krisis
Finansial Asia). Indonesia menjadi negara yang paling terpukul
akibat krisis ini yang kemudian menimbulkan efek bola salju. Dari sebuah krisis
ekonomi, efeknya berlanjut menyebabkan krisis sosial dan juga politik. Banyak
pencapaian ekonomi dan sosial runtuh dan masyarakat Indonesia menjadi bertekad
menuntut adanya pemerintahan (tanpa Suharto) yang baru. Jakarta berubah menjadi
medan pertempuran tempat kerusuhan-kerusuhan menghancurkan ribuan gedung,
sementara lebih dari seribu orang dibunuh. Pada 21 Mei 1998, Wakil Presiden
Bacharuddin Jusuf Habibie, sekutu dekat Suharto, menjadi presiden ketiga
Indonesia. Dia tidak memiliki pilihan lain selain menyetujui tuntutan-tuntutan
masyarakat Indonesia untuk memulai era Reformasi.
Keajaiban Orde Baru Suharto di Indonesia
Pada pertengahan tahun 1960an, kondisi ekonomi
Indonesia telah mencapai keadaan yang sangat buruk. Perekonomian Indonesia
menderita karena kekacauan politik yang dipicu oleh
Presiden
Soekarno, presiden pertama Indonesia. Masalah-masalah ekonomi tidak
menjadi perhatian utama bagi Soekarno yang menghabiskan masa hidupnya untuk
berjuang di arena politik. Beberapa contoh dari kebijakan-kebijakannya yang
memberikan dampak negatif pada perekonomian adalah pemutusan hubungan dengan
negara-negara Barat (dan karenanya mengisolir Indonesia dari ekonomi dunia dan
mencegah negara ini dari menerima bantuan-bantuan asing yang sangat dibutuhkan)
dan
deficit spending melalui pencetakan uang, yang menyebabkan
hiperinflasi yang berada di luar kendali. Namun, setelah Suharto mengambil alih
kekuasaan dari Soekarno di pertengahan 1960an, kebijakan-kebijakan ekonomi
mengalami perubahan arah yang radikal.
Pembangunan ekonomi Indonesia selama
pemerintahan
Orde Baru Suharto bisa dibagi dalam tiga periode, setiap periode
dikenali dengan kebijakan-kebijakan spesifiknya yang ditujukan untuk konteks
ekonomi spesifik. Periode-periode ini adalah:
• Pemulihan ekonomi (1966-1973)
• Pertumbuhan ekonomi secara cepat dan
intervensi Pemerintah yang semakin kuat (1974-1982)
• Pertumbuhan didorong oleh ekspor dan
deregulasi (1983-1996)
Pemulihan Ekonomi (1966-1973)
Yang menjadi misi dasar
pemerintahan Orde Baru Suharto adalah pembangunan ekonomi; langkah pertama
adalah reintegrasi Indonesia ke dalam ekonomi dunia dengan cara bergabung
kembali dengan International Monetary Fund (IMF), Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB)
dan Bank Dunia dalam pertengahan akhir tahun 1960an. Ini memulai aliran bantuan
keuangan dan bantuan asing dari negara-negara Barat dan Jepang masuk ke
Indonesia. Permusuhan dengan Malaysia (politik konfrontansi Soekarno) juga
dihentikan. Langkah kedua adalah memerangi hiperinflasi. Suharto mengandalkan
sekelompok teknokrat ekonomi (sebagian besar dididik di Amerika Serikat) untuk
membuat sebuah rencana pemulihan ekonomi. Di akhir 1960an stabilitas harga
diciptakan melalui sebuah kebijakan yang melarang pendanaan domestik dalam
bentuk hutang domestik ataupun pencetakan uang. Kemudian sebuah mekanisme pasar
bebas dipulihkan dengan tindakan-tindakan membebaskan kontrol pasar, diikuti
dengan implementasi Undang-Undang (UU) Penanaman Modal Asing (1967) dan UU
Penanaman Modal Dalam Negeri (1968). Kedua udang-undang ini mengandung
insentif-insentif yang menarik bagi para investor untuk berinvestasi di negara
ini dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi lebih dari 10% di tahun 1968.
Pertumbuhan Ekonomi Cepat dan Intervensi Pemerintah yang Makin Kuat
(1974-1982)
Sampai tahun 1982,
pertumbuhan ekonomi tahunan yang cepat di atas minimum 5% dijaga. Fakta lain
yang juga penting adalah Indonesia diuntungkan secara siginifikan dari dua oil
boom yang terjadi di tahun 1970an. Oil boom yang pertama terjadi di tahun
1973/1974 ketika Organization of Petroleum-Exporting Countries (OPEC), yang
anggotanya termasuk Indonesia, memotong ekspornya dengan drastis dan
menyebabkan kenaikan harga minyak yang besar. Oil boom kedua terjadi di tahun 1978/1979
ketika Revolusi Iran mengganggu produksi minyak dan kembali terjadi kenaikan
harga yang besar. Karena kedua oil boom ini, pendapatan ekspor Orde Baru dan
pendapatan Pemerintah meningkat tajam. Ini memungkinkan sektor publik untuk
memainkan peran yang lebih besar dalam perekonomian dengan melakukan
investasi-investasi publik yang penting dalam pembangunan daerah, pembangunan
sosial, infrastruktur dan pendirian industri-industri (dasar skala besar),
diantaranya termasuk industri-industri substitusi impor. Barang-barang modal
dan bahan-bahan mentah bisa diimpor karena pendapatan devisa yang makin
membesar. Hal ini membangkitkan sektor manufaktur yang berkembang. Namun,
kemudian terjadi kerusuhan besar saat kunjungan Perdana Menteri Jepang di tahun
1974 karena anggapan bahwa ada terlalu banyak proyek-proyek investasi asing di
negara ini. Masyarakat Indonesia merasa frustasi karena orang-orang pribumi
tampaknya diabaikan dari menikmati buah-buah perekonomian. Pemerintah merasa
terguncang karena kerusuhan ini (yang dikenal sebagai Peristiwa Malari) dan
memperkenalkan aturan-aturan yang lebih ketat mengenai investasi asing dan
menggantinya dengan kebijakan-kebijakan yang memberikan perlakukan khusus yang
menguntungkan penduduk pribumi. Meningkatnya pendapatan pemerintah yang didapat
dari oil boom pertama berarti Pemerintah tidak lagi bergantung pada
investasi-investasi asing, dan karenanya pendekatan intervensionis bisa
dimulai.
Pertumbuhan Ekonomi Didorong Ekspor dan Deregulasi (1983-1996)
Pada awal 1980an, harga minyak mulai jatuh lagi
dan reposisi mata uang di tahun 1985 menambah hutang luar negeri Indonesia.
Pemerintah harus melakukan usaha-usaha baru untuk memulihkan stabilitas
makroekonomi. Nilai rupiah didevaluasi di tahun 1983 untuk mengurangi defisi transaksi
berjalan yang bertumbuh, UU pajak yang baru diterapkan untuk menambah
pendapatan dari pajak non minyak dan tindakan-tindakan deregulasi perbankan
dilakukan (credit ceilings untuk suku bunga dihapuskan dan bank
diizinkan untuk menentukan tingkat suku bunga dengan bebas). Terlebih lagi,
perekonomian telah diarahkan ulang dari perekonomian yang tergantung kepada
minyak kepada sebuah perekonomian yang memiliki sektor swasta yang kompetitif
yang berorientsi pada pasar ekspor. Ini menyebabkan adanya tindakan-tindakan
deregulasi baru untuk memperbaiki iklim investasi bagi para investor swasta.
Waktu harga minyak jatuh lagi di pertengahan 1980an, Pemerintah meningkatkan
tindakan-tindakan untuk mendukung pertumbuhan yang didorong oleh ekspor
(seperti pembebasan bea cukai-bea cukai impor dan pengulangan devaluasi
rupiah). Perubahan kebijakan-kebijakan ini (dikombinasi dengan paket deregulasi
di tahun 1990an) juga mempengaruhi investasi asing di Indonesia. Investasi
asing yang berorientasi pada ekspor disambut secara khusus.
Sektor lain yang juga
terpengaruh oleh tindakan-tindakan deregulasi yang mendalam adalah sektor
keuangan Indonesia. Bank-bank swasta baru diizinkan untuk didirikan, bank-bank
yang sudah ada bisa membuka cabang-cabang di seluruh negeri dan bank-bank asing
bebas beroperasi di luar Jakarta. Reformasi finansial ini kemudian akan menjadi
masalah yang memperkuat krisis di Indonesia pada akhir 1990an. Namun
sebelumnya, tindakan-tindakan ketat ini memiliki dampak positif pada
perekonomian Indonesia. Ekspor produk-produk manufaktur mulai menjadi mesin
perekonomian Indonesia. Antara 1988 dan 1991
produk
domestik bruto (PDB) Indonesia bertumbuh rata-rata 9% setiap
tahunnya, melambat menjadi 'hanya' rata-rata 7,3% pada periode 1991-1994 dan
meningkat lagi di dua tahun selanjutnya.
Masalah-masalah di Horison
Penjelasan di atas memberikan gambaran positif
tentang perekonomian pada masa Orde Baru. Memang betul bahwa perekonomian
berkembang dengan cepat dan bersama dengan itu ada perbaikan-perbaikan dalam
pembangunan sosial (walapun dalam kecepatan yang lebih lambat). Secara khusus,
pengurangan
kemiskinan
absolut adalah pencapaian Pemerintah yang luar biasa. Di pertengahan
1960an setengah dari populasi Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan
namun pada tahun 1996, angka ini telah berkurang menjadi 11% dari total
populasi
Indonesia. Kendati begitu, gaya pemerintahan Pemerintah Orde Baru
mengimplikasikan konsekuensi-konsekuensi berbahaya yang akan memuncak pada Krisis
Finansial Asia pada akhir 1990an.
Yang menjadi isu pertama adalah inti dari
karakteristik
pemerintahan
Orde Baru. Orde Baru adalah rezim otoriter yang didukung militer dan
tidak menghormati hak asasi manusia. Selama periodenya yang lebih dari 3
dekade, Pemerintah tampaknya semakin tidak selaras dengan warganegaranya.
Pembuatan keputusan-keputusan politik dan ekonomi pada dasarnya direbut dari
masyarakat umum dan diberikan kepada sekelompok kecil elit pendukung Suharto.
Namun, karena masyarakat Indonesia menjadi lebih berpendidikan berkat
perkembangan-perkembangan sosial, kalangan-kalangan berpendidikan secara
natural ingin suara mereka didengar dan berpartisipasi baik dalam bidang
politik maupun ekonomi. Meskipun begitu, Suharto tidak mendukung hal ini dan
menempatkan lebih banyak batasan dalam masyarakat Indonesia (contohnya dengan
pembatasan demonstrasi mahasiswa yang hanya bisa dilaksankan di dalam universitas-universitas
saja). Kemacetan politik ini menimbulkan frustasi berat dalam sebagian besar
dari populasi Indonesia.
Kedua - dan terkait dengan paragraf-paragraf
sebelumnya - Orde Baru baru berdasarkan pada sistem nepotisme dan korupsi
membuat sekelompok kecil elit pendukung Suharto luar biasa diuntungkan dalam
menikmati manisnya buah-buah perekonomian negara. Kelompok ini terutama terdiri
dari mitra-mitra bisnis keturunan Tionghoa (mendorong sentimen etnis) dan
kemudian anak-anak Suharto juga ikut di dalamya. Janji-janji keterbukaan dan
transparansi kebijakan Pemerintah tak pernah dipenuhi. Terlebih lagi, korupsi
membuat ekonomi tidak bisa berfungsi efektif. Hal ini akan terungkap ketika
Krisis Asia terjadi di tahun 1997.
Ketiga - juga berhubungan dengan paragraf-paragraf
sebelumnya - sistem finansial sudah mulai kehilangan kontrol setelah
tindakan-tindakan deregulasi di sektor perbankan di akhir 1980an. Dengan
sedikit batasan-batasan untuk membuka bank dan cabang-cabangnya, menjadi
semakin sulit untuk memonitor aliran uang dalam sistem perbankan Indonesia.
Kekurangan data finansial yang serius, peraturan dan kerangka hukum yang lemah
dan aliran uang ilegal berkontribusi pada fakta bahwa Indonesia mengalami
pukulan paling keras saat Krisis Keuangan Asia melanda Indonesia.
Krisis Keuangan Asia di Indonesia
Krisis Keuangan Asia dimulai pada
tanggal 2 Juli 1997 ketika pemerintah Thailand yang saat itu dibebani dengan
utang luar negeri yang amat besar, memutuskan untuk mengambangkan mata uang
baht setelah serangan yang dilakukan oleh para spekulan mata uang terhadap
cadangan devisa negaranya. Pergeseran moneter ini bertujuan untuk
merangsang pendapatan ekspor namun strategi ini terbukti sia-sia. Sehingga
dengan cepat hal ini menimbulkan efek penularan ke negara-negara Asia lainnya
karena investor asing - yang telah menanamkan uang mereka di 'Asian
Economic Miracle countries' ('Ekonomi-Ekonomi Asia yang Ajaib’) sejak satu
dekade sebelum tahun 1997 - kehilangan kepercayaan di pasar Asia dan membuang
mata-mata uang dan aset-aset Asia secepat mungkin.
Awal Krismon di Indonesia
Meskipun kawasan Asia menunjukkan tanda-tanda
mengkhawatirkan, para investor asing awalnya tetap percaya pada kemampuan para
teknokrat
Indonesia untuk bertahan dalam badai krisis keuangan (seperti yang
pernah mereka lakukan sebelumnya pada tahun 1970-an dan 1980-an). Tapi kali ini
tidak dapat lepas dari krisis dengan mudah. Indonesia menjadi negara yang
paling terpukul karena krisis ini tidak hanya berdampak terhadap ekonomi tetapi
juga berdampak signifikan dan menyeluruh terhadap sistem politik dan keadaan
sosial di Indonesia.
Pada saat tekanan terhadap rupiah Indonesia
akhirnya terlalu kuat, rupiah diputuskan untuk diambangkan bebas (float
freely) sejak bulan Agustus 1997. Dan sejak saat itu mulailah terjadi
depresiasi yang sangat signifikan. Pada tanggal 1 Januari 1998, nilai nominal rupiah
hanya 30 persen dari nilai yang pernah dicapai pada bulan Juni 1997. Pada
tahun-tahun sebelum tahun 1997 banyak perusahaan swasta di Indonesia yang
memperoleh pinjaman luar negeri jangka pendek yang tidak dilindungi terhadap
gejolak nilai tukar (unhedged) dalam mata uang dolar, dan utang sektor
swasta yang sangat besar ini ternyata menjadi bom waktu yang menunggu untuk
meledak. Berlanjutnya depresiasi rupiah hanya memperburuk situasi secara
drastis. Perusahaan-perusahaan di Indonesia berlomba-lomba membeli dolar
sehingga menimbulkan lebih banyak tekanan terhadap rupiah dan memperburuk
situasi utang yang dimiliki oleh para perusahaan. Dapat dipastikan bahwa
perusahaan-perusahaan di Indonesia (termasuk bank-bank, beberapa di antaranya
diketahui sangat lemah) akan menderita kerugian yang amat besar. Persediaan
devisa menjadi langka karena pinjaman-pinjaman baru untuk perusahaan-perusahaan
di Indonesia tidak diberikan oleh kreditur asing. Karena tidak mampu mengatasi
krisis ini maka pemerintah Indonesia memutuskan untuk mencari bantuan keuangan
dari Dana Moneter Internasional (IMF) pada bulan Oktober 1997.
IMF Datang tapi Kekacauan
masih tetap Berlangsung
IMF tiba di Indonesia dengan paket
bailout
sebesar USD $43 milyar untuk memulihkan kepercayaan pasar terhadap rupiah
Indonesia. Sebagai imbalannya IMF menuntut beberapa langkah-langkah
reformasi keuangan yang mendasar: penutupan 16 bank swasta, penurunan subsidi
pangan dan energi, dan menyarankan agar Bank Indonesia untuk menaikkan suku
bunga. Akan tetapi paket reformasi ini ternyata gagal. Penutupan 16 bank
(beberapa diantaranya dikendalikan oleh
kroni
Presiden Suharto) memicu penarikan dana besar-besaran pada bank-bank
lain. Milyaran rupiah ditarik dari tabungan, sehingga membatasi kemampuan bank
untuk memberikan pinjaman dan memaksa Bank Indonesia untuk memberikan kredit
dalam jumlah besar kepada bank-bank yang masih ada untuk mencegah krisis
perbankan yang semakin parah. Selain itu, IMF tidak pernah berusaha untuk
mengekang sistem patronase yang dimiliki Suharto dan yang merusak perekonomian
negara dan juga merusak program IMF. Sistem patronase ini adalah alat yang
dijalankan oleh Suharto untuk mempertahankan kekuasaan; dalam imbalan atas
dukungan politik dan keuangan dia memberikan jabatan yang kuat kepada para
keluarga, teman dan musuh (sehingga menjadi kroni). Perkembangan lain yang
berdampak negatif terhadap Indonesia menjelang akhir tahun 1997 adalah kekeringan
parah yang disebabkan oleh El Nino (sehingga menyebabkan kebakaran hutan dan
hasil panen yang buruk) dan peningkatan spekulasi tentang memburuknya kesehatan
Suharto (sehingga menyebabkan adanya ketidakpastian politik). Maka, secara
bertahap, Indonesia sedang menuju terjadinya krisis politik.
Kesepakatan kedua dengan IMF diperlukan karena
ekonomi masih tetap saja memburuk. Pada bulan Januari 1998 rupiah kehilangan
setengah nilainya hanya dalam rentang waktu lima hari saja dan ini menyebabkan
masyarakat berusaha menimbun makanan. Kesepakatan kedua dengan IMF ini berisi
50 pokok program reformasi, termasuk pemberian jaring pengaman sosial,
penghapusan secara perlahan subsidi-subsidi tertentu untuk masyarakat dan
menghentikan sistem patronase Suharto dengan cara mengakhiri monopoli yang
dijalankan oleh sejumlah kroninya. Namun, keengganan Suharto untuk melaksanakan
program reformasi struktural ini dengan patuh justru menambah buruk situasi. Di
sisi lain IMF dikritik karena dinilai terlalu memaksakan banyak program
reformasi dalam waktu yang terlalu singkat sehingga memperburuk perekonomian
Indonesia. IMF memang membuat kesalahan pada saat melakukan pendekatan awal
dalam krisis Indonesia namun lembaga ini akhirnya menyadari bahwa kunci utama
untuk mengatasi krisis adalah untuk memulai kembali aliran modal swasta ke
Indonesia. Agar hal ini terwujud maka sistem patronase harus dipecah.
PDB dan Inflasi Indonesia 1996-1998:
|
1996
|
1997
|
1998
|
Pertumbuhan
PDB
(persentase perubahan tahunan)
|
8.0
|
4.7
|
-13.6
|
Pertumbuhan
Inflasi
(persentase perubahan tahunan)
|
6.5
|
11.6
|
65.0
|
Sumber:
Hill, H. (2000). The Indonesian Economy, h. 264
Kesepakatan ketiga dengan IMF ditandatangani pada
bulan April 1998. Perekonomian Indonesia dan indikator-indikator sosial masih
menunjukkan tanda-tanda mengkhawatirkan. Namun kali ini IMF lebih fleksibel
dalam tuntutannya dibandingkan sebelumnya. Misalnya, subsidi pangan yang besar
untuk rumah tangga berpenghasilan rendah diberikan dan defisit anggaran
dibiarkan melebar. Akan tetapi IMF juga menyerukan privatisasi perusahaan
milik negara, tindakan cepat untuk melakukan restrukturisasi perbankan,
pembuatan hukum kepailitan baru dan pengadilan baru untuk menangani kasus-kasus
kepailitan. IMF juga bersikeras untuk terlibat lebih dekat dalam memantau
pelaksanaan program-programnya karena pengalaman yang lalu menunjukkan bahwa
pemerintah Indonesia tidak sepenuhnya berkomitmen untuk melaksanakan agenda
reformasi.
Krisis Mencapai Puncaknya
Sementara itu, kekuatan-kekuatan sosial utama
juga sedang bekerja. Aksi demonstrasi dan kritik yang ditujukan terhadap
pemerintah Suharto semakin meningkat setelah ia terpilih kembali sebagai
presiden dan membentuk kabinet baru pada bulan Maret 1998. Kabinet baru yang provokatif
ini berisi sejumlah anggota yang berasal dari kelompok kroninya dan oleh
karenanya tidak mampu berbuat banyak untuk memulihkan kepercayaan terhadap
pasar Indonesia. Setelah pemerintah memutuskan untuk mengurangi subsidi BBM
pada awal bulan Mei, kerusuhan berskala besar terjadi di Medan, Jakarta dan
Solo. Meskipun IMF telah memberikan waktu kepada Suharto sampai dengan Oktober
untuk mengurangi subsidi secara bertahap, ia memutuskan untuk melakukan
semuanya sekaligus, mungkin karena terlalu meremehkan dampaknya atau terlalu
percaya diri dengan kekuasaannya sendiri. Ketegangan mencapai puncaknya setelah
empat orang mahasiswa Indonesia tewas pada waktu melakukan demonstrasi di
sebuah universitas lokal di Jakarta. Diduga penembakan tersebut dilakukan oleh
pasukan tentara khusus ('tragedi Trisakti'). Beberapa hari berikutnya Jakarta
dilanda kerusuhan sangat buruk. Seperti yang pernah terjadi sebelumnya, etnis
Tionghoa - yang sudah lama dibenci karena dianggap kaya - banyak menjadi
sasaran dalam kerusuhan ini. Toko-toko dan rumah-rumah milik warga Tionghoa
dibakar dan banyak perempuan China diperkosa secara brutal. Setelah kerusuhan
redam, lebih dari seribu orang tewas dan ribuan bangunan hancur. Pada tanggal
14 Mei 1998 Soeharto mengundurkan diri dari kursi kepresidenan ketika semua
politisi menolak untuk bergabung dengan kabinet baru yang dibentuknya. Krisis
keuangan telah sepenuhnya berubah menjadi krisi sosial dan politik.
Sistem Politik Baru dan Awal
Pemulihan
Bacharuddin Jusuf Habibie, wakil presiden dalam
kabinet terakhir Suharto dan dengan demikian - berdasarkan hukum - menggantikan
Suharto sebagai presiden Indonesia berikutnya, beralih kepada sosok teknokrat
ekonomi untuk mengatasi krisis finansial yang sedang berlangsung. Hal ini
mengakibatkan dibuatnya perjanjian keempat dengan IMF. Perjanjian ini
ditandatangani pada bulan Juni 1998 dan memungkinkan terjadinya defisit
anggaran yang lebih longgar sementara dana baru dialirkan ke dalam
perekonomian. Dalam jangka waktu beberapa bulan ada beberapa tanda pemulihan.
Nilai tukar rupiah mulai menguat sejak pertengahan Juni 1998 (waktu terjun
bebas ke angka Rp 16,000 per US dolar) menjadi Rp 8,000 per US dolar pada bulan
Oktober 1998,
inflasi
membaik secara drastis, saham-saham di Bursa Efek Indonesia mulai bangkit dan
ekspor non-migas mulai hidup kembali menjelang akhir tahun. Sektor perbankan
(pusat dari krisis ini) masih rapuh karena adanya jumlah kredit bermasalah yang
sangat tinggi dan bank-bank sangat ragu-ragu untuk meminjamkan
uang. Selain itu, sektor perbankan telah menyebabkan peningkatan utang
pemerintah secara tajam dan utang-utang ini terutama disebabkan oleh penerbitan
obligasi untuk restrukturisasi perbankan. Namun demikian, meskipun rapuh,
perekonomian Indonesia mulai membaik secara bertahap selama tahun 1999,
sebagian disebabkan oleh membaiknya lingkungan internasional yang menyebabkan
kenaikan pendapatan ekspor.
Pelajaran yang Dapat Dipetik
dari Krisis Keuangan Asia
Menarik untuk menanyakan apakah krisis-krisis
seperti itu dapat terjadi lagi di Indonesia di masa yang akan datang.
Kemungkinannya kecil. Pertama, perlu ditekankan bahwa krisis keuangan Asia
paling buruk melanda Indonesia dibandingkan semua negara lain yang terkena
dampaknya karena yang terjadi di Indonesia tidak hanya krisis ekonomi. Awalnya
yang terjadi adalah krisis ekonomi namun berkembang dan akhirnya diperparah
menjadi krisis politik dan sosial yang sangat buruk di mana pemerintah tidak
bersedia untuk melaksanakan reformasi ekonomi yang sangat dibutuhkan melainkan
justru berusaha untuk melindungi kekuasaan mereka. Mengingat bahwa iklim
politik yang tertib dan kondusif sangat penting untuk membangun kepercayaan
investor, ketidakpastian dan ketegangan dalam perpolitikan di Indonesia membuat
banyak investor pergi. Demikian juga setelah Suharto jatuh, ketidakpastian
politik membuat banyak investor (asing dan domestik) untuk tidak atau belum
masuk kembali ke pasar Indonesia. Akan tetapi saat ini, Indonesia sedang menuju
demokrasi yang benar, meskipun ini adalah suatu proses yang juga disertai
dengan berbagai hambatan. Pemerintahan otoriter yang pernah berkuasa selama
beberapa decade telah mematikan aktivitas politik masyarakat dan
lembaga-lembaga politik hingga batas-batas tertentu. Butuh waktu sebelum negara
ini dapat meninggalkan sebutan negara 'demokrasi cacat’ ('
flawed democracy')
yang diukur oleh Unit Kecerdasan Ahli Ekonomi untuk Indeks Demokrasinya. Akan
tetapi pemilihan umum yang adil dan bebas memberikan kepastikan bahwa ada
dukungan yang lebih besar bagi pemerintah selama periode Reformasi dibandingkan
masa sebelumnya. Keputusan untuk memilih presiden secara langsung oleh rakyat
merupakan salah satu yang penting secara psikologis. Meskipun demikian, perlu
digarisbawahi bahwa iklim politik di Indonesia lebih rapuh (kurang stabil)
dibandingkan dengan demokrasi yang sudah lama dibangun karena banyak kelompok
(yang visinya berbeda) mencoba membangun posisi mereka pada demokrasi yang
masih mentah. Laporan lebih lengkap tentang topik ini silakan kunjungi bagian
Reformasi
kami.
Faktor penting lainya yang sangat memperburuk
krisis keuangan di Indonesia adalah sektor keuangan Indonesia yang sudah dalam
keadaan yang sangat buruk sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh budaya patronase
dan
korupsi
yang tidak memiliki model pengawasan yang baik. Bahkan Bank Indonesia tidak
tahu tentang arus uang (sehingga menyebabkan timbulnya utang swasta jangka
pendek yang sangat besar) yang masuk ke Indonesia dan menyebabkan terjadinya
'ekonomi gelembung' ('
bubble economy'). Budaya patronase dan korupsi
ini (serta kurangnya kepastian hukum) amat sangat menghambat fungsi ekonomi
yang efisien dan merupakan bom waktu yang bisa meledak setiap saat. Namun
setelah krisis berakhir, pemerintah-pemerintah Indonesia berikutnya telah
membuat langkah-langkah keuangan yang bijak untuk memastikan agar krisis serupa
tidak terjadi kembali. Pengawasan terhadap likuiditas sektor perbankan sekarang
ketat dan transparan, 'uang panas' ('
hot money') ditangani secara
lebih hati-hati (misalnya dengan membatasi utang jangka pendek), dan
rasio
utang pemerintah terhadap PDB lebih rendah (sekitar 25 persen dan
menunjukkan tren menurun) dibandingkan kebanyakan negara-negara ekonomi maju.
Pada saat krisis tahun 2008 melanda, Indonesia terkena kembali arus keluar
kapital yang besar namun mampu menjamin ekonomi yang stabil karena fundamental
ekonomi yang baik. Bahkan selama krisis 2008-2009 Indonesia menunjukkan
pertumbuhan yang kuat dengan pertumbuhan PDB sebesar 4.6 persen terutama
didukung oleh konsumsi domestik.
Akan tetapi skandal-skandal korupsi di Indonesia
masih tetap lanjut mengisi halaman surat kabar hampir setiap hari. Korupsi dan
pengelompokan modal pada sekelompok elit kecil masih menjadi masalah serius di
negeri ini dan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi yang efisien, baik dan
adil. Terutama korupsi politik menyebar luas dan sering kali digunakan untuk
mencari keuntungan dalam sektor bisnis nasional.
Kekerasan Etnis Dan Agama di Indonesia
Teks Suami Hanya Jumlah: Tersedia dalam Bahasa Inggris
Ledakan kekerasan (apakah itu berlabel agama, etnis, negara atau kekerasan
komunal) memiliki sejarah panjang di Indonesia. Hal ini dapat dikatakan bahwa
(bahaya) kekerasan negara - yang dilakukan oleh tentara Indonesia - yang
berhasil membatasi bentuk-bentuk kekerasan selama Orde Baru Suharto. Kekerasan
etnis dan agama berkobar ketika Orde Baru menunjukkan tanda-tanda kelemahan
sekitar waktu yang Suharto lengser dari jabatannya pada tahun 1998. Periode
Reformasi awal adalah periode banyak ketidakpastian bagi masyarakat Indonesia.
Kekuasaan politik didesentralisasikan ke daerah yang berarti bahwa perjuangan
untuk kekuasaan lokal muncul. The krisis keuangan Asia telah menyebabkan
kemiskinan, pengangguran dan ketidakpastian tentang masa depan di banyak rumah
tangga. Sentimen etnis dan agama, yang sebelumnya ditekan oleh 'SARA-kebijakan'
Soeharto (yang berarti larangan diskusi publik pada topik kelompok etnis,
agama, ras dan suku bunga berbasis kelompok seperti ini dapat membahayakan
ketertiban umum), berkobar.
Kekerasan etnis telah lebih atau kurang disita menjadi sejak tahun 2002 setelah
kekerasan regional di Jakarta, Medan (Sumatera), Kalimantan, Poso (Sulawesi)
dan Maluku menyebabkan banyak korban antara tahun 1996 dan 2002. Hal ini,
bagaimanapun, tidak benar untuk menandai kasus di atas sebagai 'kekerasan
etnis' saja. Kekerasan murni karena perbedaan etnis tampaknya sangat tidak
mungkin karena dalam setiap kasus aspek lain memainkan peran berpengaruh.
Misalnya, kekerasan terhadap orang Indonesia Tionghoa, yang muncul sekitar
waktu pengunduran diri Soeharto, memiliki banyak hubungannya dengan keadaan
ekonomi negara. Orang Indonesia Cina telah selalu membenci karena mereka
memiliki sebagian besar relatif kue bisnis di Indonesia, meskipun membentuk
hanya minoritas kecil di penduduk Indonesia (dan pada kenyataannya Indonesia
Tionghoa kaya hanya sebagian kecil dari jumlah total orang Indonesia Tionghoa
di Indonesia) . Pada saat terjadi gejolak politik dan ekonomi tidak sulit untuk
menghasut perasaan anti-Cina yang menghasilkan kekerasan.
Kekerasan regional yang telah terjadi di Kalimantan, Sulawesi dan Maluku antara
1996 dan 2002 lebih mungkin contoh perebutan kekuasaan lokal dalam kekosongan
kekuasaan di sekitar jatuhnya Suharto. Sentimen agama dan etnis yang dihasut
oleh pihak tertentu yang dianggap bisa menguntungkan posisi mereka.
Intoleransi agama di Indonesia (kadang-kadang yang berpuncak pada kekerasan)
terus meningkat. Setara Institute, sebuah kelompok riset dan advokasi
Indonesia, dihitung 216 kasus serangan kekerasan terhadap minoritas agama pada
tahun 2010, 244 kasus pada tahun 2011 dan 264 kasus pada tahun 2012. Target
serangan ini sering Kristen dan gereja-gereja atau pengikut Ahmadiyah mereka (a
aliran dalam Islam) dan tempat-tempat ibadah mereka. Biasanya melibatkan
pembongkaran tempat-tempat suci, kadang-kadang pemukulan dari orang-orang, tapi
jarang apakah itu melibatkan pembunuhan orang. Pelaku di balik serangan ini
biasanya anggota kelompok Muslim radikal seperti Front Pembela Islam. Tindakan
mengerikan terbaru dari kekerasan etnis adalah penyembelihan tiga Ahmadiyah oleh
massa dari ratusan orang pada Februari 2011 di Cikeusik, Jawa Barat. Ini
mendapat perhatian internasional banyak dan pengamat hak asasi manusia telah
menekankan pemerintah Indonesia untuk menghormati kebebasan beragama dan
melindungi rakyatnya. Reaksi pemerintah Indonesia terhadap intoleransi agama
meningkat ini telah lemah. Setelah pemotongan Ahmadiyah, ada reaksi lambat dari
kecaman oleh pemerintah yang menyebabkan banyak kritik, terutama dari dalam
Indonesia. Lebih kritik diikuti sebagai pembunuh dari Ahmadiyah diberi hukuman
penjara singkat oleh pengadilan Indonesia, meskipun pembunuh jelas difilmkan
sementara membunuh korban. Meskipun sebagian besar orang Indonesia sangat
mendukung masyarakat pluralis agama, Indonesia cenderung sangat apatis terhadap
bentuk-bentuk kekerasan, seolah-olah itu lebih baik untuk tidak membuat fuzz
tentang hal itu, tetapi lupa bahwa itu pernah terjadi.
Reformasi
Teks Suami Hanya Jumlah: Tersedia dalam Bahasa Inggris
Ketika Presiden Soeharto meninggalkan kantor Mei 1998 itu menandai awal dari
sebuah periode baru dalam sejarah Indonesia. Setelah berada di bawah
pemerintahan otoriter Orde Baru Soeharto selama lebih dari tiga dekade,
Indonesia memulai untuk fase baru yang disebut Reformasi (Reformasi di
Indonesia). Hal ini juga dipertimbangkan untuk menjadi periode mulai dari
demokrasi dengan politik terbuka dan liberal di mana otonomi luas akan
ditransfer ke daerah, jauh dari pusat (desentralisasi). Dasar dari transisi ini
dirumuskan dalam undang-undang yang disahkan parlemen pada tahun 1999 dan
disebut untuk transfer kekuasaan administratif dari pemerintah pusat ke
kabupaten daerah. Peran pemerintah pusat itu harus terbatas pada hal-hal yang
berhubungan dengan pertahanan, kebijakan luar negeri, kebijakan fiskal-moneter
dan ekonomi makro, keadilan dan agama. Tidak kalah penting adalah bahwa daerah
akan menerima bagian yang lebih besar dari pendapatan dari produksi daerah
sumber daya alam. Namun, tidak setiap daerah diberkati dengan sumber daya alam
yang melimpah, meningkat kesenjangan antara daerah kaya dan miskin. Seiring
dengan kekuasaan, korupsi juga terdesentralisasi ke tingkat daerah mana yang
disebut negara bayangan muncul di mana elit daerah memegang kendali kekuasaan,
bisnis dan uang mengalir. Salah satu korban adalah lingkungan. Dalam pertukaran
untuk uang dalam jumlah besar, izin penebangan diberikan dalam skala besar.
Proses desentralisasi juga disertai dengan kekerasan regional bercokol dengan
aspek etnis atau agama karena munculnya persaingan untuk posisi politik lokal
dalam hubungannya dengan kebangkitan identitas daerah. Untuk informasi lebih
lanjut tentang topik ini, silakan kunjungi bagian Kekerasan Etnis dan Agama.
The Bacharuddin Habibie Administrasi (1998-1999)
Bacharuddin Jusuf Habibie, wakil presiden selama masa jabatan presiden terakhir
Soeharto, menggantikan Soeharto pada tahun 1998 ketika yang terakhir turun dari
kursi kepresidenan. Tapi ini tidak berarti mengakhiri sistem politik yang telah
diterapkan selama Orde Baru. Banyak orang Indonesia yang sangat curiga terhadap
Habibie karena kedekatannya dengan Soeharto (yang pernah menjadi sosok ayah
bagi Habibie) dan fakta bahwa dia telah menjadi pemain penting dalam sistem
patronase politik Soeharto. Penolakan Habibie untuk memesan penyelidikan
menyeluruh ke dalam akumulasi kekayaan Soeharto hanya memperkuat
ketidakpercayaan ini.
Habibie tidak memiliki pilihan lain selain untuk meluncurkan program reformasi.
Itu akan menjadi bunuh diri politik jika ia tidak memenuhi tuntutan masyarakat
Indonesia. Selama presiden Habibie tiga puluh undang-undang baru telah
disetujui oleh parlemen (MPR), beberapa di antaranya ditandai dengan istirahat
yang mendasar dengan masa lalu politik. Sejumlah reformasi penting adalah:
• Pengenalan kebebasan pers
• Membiarkan pembentukan partai politik baru dan serikat
• Pelepasan tahanan politik
• Membatasi presiden untuk dua istilah lima tahun
• Desentralisasi kekuasaan ke daerah
Keputusan penting lainnya adalah untuk jadwal pemilihan umum baru, yang akan
diadakan pada bulan Juni 1999. Parlemen tidak punya niat belum, namun, untuk
mengurangi pengaruh politik militer dan untuk memesan penyelidikan kekayaan
Soeharto.
Indonesia memasuki masa meningkatnya kekerasan di daerah. Jawa Timur diganggu
oleh pembunuhan misterius (mungkin dipimpin oleh unit tentara) sementara
kekerasan agama berkobar di Jakarta, Ambon (Maluku), Kupang (Timor Barat) dan
Kalimantan Barat. Selain itu, tiga daerah memberontak terhadap pemerintah
pusat: Aceh (Sumatera), Irian Jaya (Papua) dan Timor Timur. Ini menyebabkan lingkungan
di mana investor asing ragu-ragu untuk berinvestasi, sehingga menahan pemulihan
ekonomi bagi negara. Tidak kalah penting adalah sanitasi sektor keuangan
Indonesia, yang telah menjadi jantung krisis keuangan Asia di akhir 1990-an.
Badan Penyehatan Perbankan Indonesia (BPPN), didirikan pada Januari 1998,
menjadi lembaga yang kuat yang melakukan serangkaian terpadu dan komprehensif
kegiatan yang terdiri dari hal-hal seperti program Bank kewajiban, pemulihan
dana negara, restrukturisasi perbankan, pinjaman bank restrukturisasi, dan
pemegang saham pemukiman.
Kasus Timor Timur adalah salah satu yang menyebabkan banyak konflik, baik
nasional maupun internasional. Timor Leste telah mendeklarasikan kemerdekaannya
pada tahun 1975, tetapi diserbu oleh Indonesia pada tahun berikutnya. Ini tidak
berakhir keinginan untuk merdeka. Habibie memiliki sikap terbuka terhadap
kemerdekaan Timor Timur. Dia menyatakan bahwa jika Timor Timur menolak status
khusus dari provinsi otonom di Indonesia, hal itu bisa menjadi mandiri.
Pernyataan Habibie tidak disepakati oleh tentara Indonesia yang keras ingin
mencegah pemisahan dari Indonesia. Menurut tentara pemisahan Timor Timur adalah
berbahaya bagi persatuan Indonesia karena dapat menyebabkan efek domino di
provinsi lain. Diputuskan bahwa rakyat Timor Timur bisa mengekspresikan diri
mengenai hal ini melalui referendum. Hasil referendum ini adalah bahwa 78
persen dari pemilih memilih untuk merdeka. Tentara Indonesia kemudian bereaksi
dengan melanda banyak Timor Timur, menewaskan lebih dari seribu orang.
Reputasi Habibie rusak parah akibat kehilangan kontrol atas situasi di Timor
Timur. Meskipun berada unit tentara dan milisi sipil yang melakukan kekerasan
ekstrim, Habibie secara pribadi bertanggung jawab menjadi penjabat presiden.
Selain itu, Habibie sendiri menjadi terkait dengan skandal korupsi besar yang
melibatkan Bank Bali. Bank ini menerima dana dari BPPN untuk rekapitalisasi
tetapi -allegedly- hampir setengah dari dana tersebut digunakan untuk tim
kampanye Habibie.
Pemilihan 1999
Setelah tahun 1955 masyarakat Indonesia dipaksa untuk menunggu selama 44 tahun
untuk menyaksikan contoh lain dari pemilihan parlemen yang bebas dan adil.
Dalam pemilihan ini orang memilih partai politik, bukan untuk individu. Karena
tidak ada batasan tentang pembentukan partai politik sebagai bagian dari
program reformasi, Indonesia telah menyaksikan menjamurnya banyak pihak
tersebut. Tidak kurang dari 48 partai diizinkan untuk berpartisipasi dalam
pemilu 1999, meskipun sebagian besar dari partai-partai ini akan memainkan
peran signifikan. Dalam politik modern Indonesia partai politik dapat dianggap
sebagai kendaraan politik bagi pemimpinnya bukan lembaga yang mengekspresikan
ideologi atau visi bersama; dan hanya beberapa orang bisa mengandalkan dukungan
publik selama Pemilu 1999.
Salah satu dari orang-orang adalah Megawati Soekarnoputri, putri presiden
pertama Indonesia Soekarno. Dia telah mendirikan sebuah partai baru PDI-P
(Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) pada tahun 1998 setelah outcasted dari
PDI pada tahun 1996. Karena warisan ayahnya dan perlawanannya terhadap Orde
Baru menjelang akhir pemerintahan Soeharto, ia menikmati popularitas yang luas
( terutama di pulau Jawa dan Bali). Mirip dengan ayahnya, dia menekankan
persatuan nasional dan disebarkan nasionalisme sekuler. Tokoh nasional lain
yang populer adalah Abdurrahman Wahid yang telah mendirikan PKB (Partai
Kebangkitan Bangsa) pada tahun 1998. Sebelumnya, ia bekerja sebagai ketua
organisasi Muslim terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), tapi sekarang
menetapkan matanya pada presiden. Wahid disebarkan semacam nasionalisme toleran
dan bisa mengandalkan dukungan rakyat dari masyarakat Muslim tradisional
(sebagian besar di Jawa). Habibie, penjabat presiden, dipupuk ambisi untuk
mempertahankan posisinya. Meskipun tidak menikmati banyak popularitas, dia
berhak dapat mengklaim bahwa ia meluncurkan program reformasi dan bisa
mendapatkan keuntungan dari mesin politik yang kuat Golkar yang membentang
sampai ke tingkat desa. Terakhir, Amien Rais, eksponen oposisi terhadap Orde
Baru Soeharto, bergabung perlombaan dengan PAN nya (Partai Amanat Nasional).
Suatu hal yang penting selama pemilihan ini adalah bahwa kursi di parlemen akan
dibagi dua. Pulau Jawa menerima setengah dari kursi sementara separuh lainnya
akan pergi ke semua pulau-pulau lain. Hal ini dilakukan sebagai langkah untuk
mengurangi posisi dominan Jawa dalam politik. Tapi seperti Java jauh lebih
padat dari Luar Jawa, pada dasarnya tersirat bahwa suara non-Jawa itu lebih
kuat daripada satu orang Jawa. Situasi ini akan memiliki jangkauan jauh untuk
hasil dalam pemilihan ini.
Parlemen pemilu 1999
Parliamentary Election 1999
|
Sekitar 90 persen dari pemilih Indonesia datang untuk memberikan suara mereka
pada tanggal 7 Juni 1999. Seperti yang bisa diharapkan, PDI-P yang diterima
sebagian besar orang (34 persen) dengan Golkar datang kedua (22 persen). Namun,
dua pihak tersebut dialokasikan hampir jumlah yang sama dari kursi di parlemen
sebagai PDI-P yang diterima sebagian besar orang dari Jawa, sementara Golkar
menikmati suara terbanyak dari luar Jawa.
Pada bulan Oktober Habibie harus menyampaikan pidato pertanggungjawaban di
depan parlemen. Pidato ini adalah laporan mengenai kinerja sebagai presiden dan
kinerja kebijakan selama kepresidenannya. Pidatonya ditolak oleh mayoritas
anggota parlemen. Setelah penolakan ini Habibie memutuskan untuk meninggalkan
upayanya untuk presiden pada tahun 1999. Ini berarti bahwa ada sekarang hanya
dua orang yang menikmati dukungan politik yang signifikan untuk menjadi
presiden berikutnya dari Indonesia: Megawati dan Wahid. Dalam sesi lain
parlemen Indonesia akhirnya memilih Wahid sebagai presiden baru. Megawati
menjadi wakil presiden baru dan Rais terpilih sebagai ketua parlemen.
The Abdurrahman Wahid Kepresidenan (1999-2001)
Dalam rangka membangun koalisi berbasis luas Wahid ditunjuk anggota dari
berbagai partai politik serta perwira militer sebagai menteri untuk kabinetnya.
Tapi komposisi yang beragam ini juga tersirat kurangnya kohesi dalam kabinet
dan, apalagi, itu berisi beberapa reformis. Wahid tidak menempatkan usaha dalam
mengurangi peran politik tentara tapi ini menyebabkan konflik dan hilangnya berikutnya
dukungan dari tentara. Tanpa dukungan militer ada beberapa cara untuk bertahan
hidup untuk presiden karena Indonesia terganggu oleh konflik dan kekerasan di
daerah. Ini ledakan daerah diperlukan intervensi militer namun karena konflik
dengan Wahid tentara tampaknya tidak memiliki kepentingan dalam menyelesaikan
atau campur, mengakibatkan terganggunya kepresidenan Wahid.
Kasus korupsi tampaknya masih menjadi aturan daripada pengecualian. Pada tahun
pertamanya sebagai presiden, Gus Dur memecat tujuh menteri yang semua yang
terlibat dalam dugaan kasus korupsi. Empat menteri tersebut milik empat mitra
koalisi yang paling penting: PDI-P, Golkar, PPP dan PAN. Ini berarti bahwa
Wahid menjadi semakin terisolasi. Dan - bahkan lebih serius - Wahid sendiri juga
menjadi terkait dengan dua skandal korupsi yang akhirnya menyebabkan
impeachment-nya. Kedua skandal yang disebut 'Buloggate' dan 'Bruneigate',
masing-masing melibatkan abstraksi dari dana publik. Parlemen Indonesia melihat
ini sebagai kesempatan besar untuk mendakwa Wahid dan Megawati kemudian
ditunjuk sebagai presiden baru, sementara Hamzah Haz (pemimpin PPP) menjadi
wakil presiden baru.
Megawati Soekarnoputri Kepresidenan (2001-2004)
Menjelang akhir Orde Baru pemerintahan Suharto, Soekarno akhir (presiden
pertama Indonesia) menjadi simbol oposisi terhadap pemerintah. Soekarno adalah
pahlawan nasional yang telah mengabdikan hidupnya untuk - dan berhasil -
mencapai kemerdekaan. Sebagian besar pengunjuk rasa anti-Soeharto lahir selama
rezim Orde Baru yang berlangsung selama lebih dari tiga dekade dan karena itu
mungkin memiliki pengetahuan dasar hanya dari era pra-Suharto. Tapi bagi mereka
Soekarno mewakili kebebasan, kemerdekaan dari Soeharto. Oleh karena itu hanya
logis bahwa putrinya, Megawati, bisa mengandalkan banyak dukungan di kalangan
masyarakat. Namun dukungan ini didasarkan pada statusnya sebagai putri Soekarno
saja dan tidak berdasarkan pada visi politiknya atau keterampilan. Kabinetnya
tidak berbeda nyata dari kabinet awal Wahid: itu berisi secara parlemen luas
dan perwira militer yang diwakili dengan baik. Megawati sendiri tidak melakukan
banyak pengambilan keputusan, yang ia meninggalkan untuk menteri nya. Tidak ada
tanda-tanda bahwa korupsi itu ditangani sementara status quo dalam pemerintahan
tetap.
Tapi meskipun Megawati sendiri tidak tampak sangat mendukung reformasi politik,
proses reformasi sebenarnya telah dirintis pada tahun 1999 ketika parlemen
mulai merancang undang-undang baru (termasuk amandemen konstitusi) yang akan
berlaku efektif selama kepresidenan Megawati. Langkah-langkah reformasi ini
tersirat peningkatan yang signifikan dalam pemeriksaan demokratis dan saldo
yang mengakhiri kemungkinan rezim otoriter. Ini menempatkan kekuasaan di tangan
rakyat, bukan pemerintah. Selain itu, cabang eksekutif dan legislatif
dipisahkan lebih ketat.
Pendahulunya Megawati melakukan upaya yang kuat untuk mengurangi pengaruh
militer (yang benar-benar merusak posisinya) tapi Megawati sendiri tidak punya
niat untuk berbaur dengan urusan militer. Akibatnya tentara akan kembali
beberapa pengaruh dalam politik. Perkembangan internasional juga diperbesar
peran tentara Indonesia. Setelah serangan 9/11 terhadap Menara Kembar di New
York, pemerintah Amerika kembali bekerja sama dengan militer Indonesia (yang sempat
terhenti sejak partisipasi tentara dalam kekerasan di Timor Timur pada tahun
1999) untuk memerangi terorisme internasional. Meskipun parlemen telah
berhati-hati dalam mengurangi peran politik tentara, itu adalah
komandan-in-chief dari tentara sendiri yang menyatakan bahwa pada tahun 2004
fraksi militer di parlemen harus dihilangkan; seorang perwira militer yang
ingin menjadi aktif dalam politik harus mengundurkan diri dari posisi militer
pertama. Reformasi ini direalisasikan tetapi tidak berarti mengakhiri pengaruh
politik dari tentara dalam masyarakat Indonesia. Sampai hari ini tentara adalah
kekuatan yang kuat sebagai mantan jenderal yang aktif dalam politik masih bisa
mengandalkan jaringan dalam tentara dan, apalagi, tentara masih terjerat dalam
kegiatan usaha di daerah.
Pemilihan 2004
Pemilihan parlemen
Pada bulan April 2004 sekitar 84 persen dari pemilih Indonesia (yang merupakan
sekitar 113,5 juta orang) dicor suara mereka untuk parlemen nasional.
Bertentangan dengan pemilihan pada tahun 1999, saat ini Indonesia bisa memilih
calon tertentu dari pihak yang dimajukan elemen yang lebih pribadi dalam
pemilu. Dalam pemilihan ini dua partai terbesar dari pemilu sebelumnya, untuk
kecerdasan Golkar dan PDI-P, kehilangan mayoritas absolut mereka. PDI-P jatuh,
seperti yang bisa diharapkan, dari 34 persen menjadi 19 persen sebagai rakyat
Indonesia yang tidak puas dengan kinerja presiden Megawati yang tampaknya
kurang visi dan kepemimpinan sementara korupsi dalam partainya tumbuh. Golkar,
yang telah terbukti mampu bertahan tanpa dukungan dari Suharto dan tentara,
mempertahankan bagian mereka dari orang (22 persen), meskipun mereka diharapkan
untuk berbuat lebih baik.
Tapi dua pendatang baru, baik tidak memiliki berpartisipasi dalam Pemilu 1999,
menarik perhatian. Yang pertama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (Partai
Keadilan Sejahtera, disingkat PKS), partai yang menempatkan penekanan besar
pada peran Islam dalam kehidupan publik. Ia menerima tujuh persen suara di
pemilu 2004. Yang kedua menjadi Partai Demokrat (Partai Demokrat, disingkat
PD). Partai ini adalah kendaraan politik Susilo Bambang Yudhoyono (sering
disebut sebagai SBY), Menteri Koordinator Politik dan Keamanan dalam kabinet
Megawati. Yudhoyono berharap untuk menjadi wakil presiden pada tahun 2001 namun
kalah keluar untuk Hamzah Haz. Memiliki aspirasi politik tinggi sendiri dan
dukungan dari sekelompok kecil intelektual di sekitarnya (yang mendirikan PD
terutama untuk dia), Yudhoyono tampaknya menjadi presiden calon kandidat
potensial untuk Pemilu 2004. Ini terganggu Presiden Megawati dan menyebabkan
riff antara keduanya. Pada awal 2004 Yudhoyono meninggalkan kabinet Megawati,
keputusan yang memberinya simpati publik yang besar. PD menerima lebih dari
tujuh persen suara, memungkinkan Yudhoyono untuk berpartisipasi dalam pemilihan
presiden mendatang 2004 (pesta dibutuhkan minimal lima persen untuk diberi
wewenang untuk mencalonkan calon presiden).
Pemilu parlemen 2004
Parliamentary Election 2004
|
Pemilihan presiden
Pada bulan Juli 2004 masyarakat Indonesia pergi ke kotak suara untuk pemilihan
presiden. Pemenang pemilu ini akan membutuhkan mayoritas mutlak, oleh karena
itu tampaknya mungkin bahwa putaran kedua akan diperlukan di mana dua atas
putaran pertama bersaing satu sama lain. Karena kenyataan bahwa presiden dan
wakil presiden berpartisipasi dalam pemilu ini sebagai pasangan yang tak
terpisahkan, komposisi adalah kepentingan strategis. Yudhoyono (PD), memimpin
dalam jajak pendapat spekulatif, bekerja sama dengan Jusuf Kalla (pengusaha
dari Timur Indonesia). Megawati (PDI-P) dipasangkan dengan Hasyim Muzadi (Ketua
Nahdlatul Ulama). Pasangan lain yang tampaknya memiliki kesempatan, meskipun
sedikit, adalah Wiranto (mantan jenderal militer, dicalonkan oleh Golkar) yang
bergabung dengan Sallahudin Wahid (wakil ketua Komisi Nasional Hak Asasi
Manusia).
Dengan 33,5 persen suara, kurang dari yang diharapkan, Yudhoyono dan Kalla
menjadi pemenang dari putaran pertama. Pada tempat kedua, dengan demikian
berhak untuk kontes di babak kedua, adalah pasangan Megawati-Muzadi yang
menerima 26,5 persen suara. Seperti yang diharapkan, putaran kedua dengan mudah
dimenangkan oleh Yudhoyono dengan 60,5 persen dan ia akibatnya dilantik sebagai
presiden baru Indonesia pada tanggal 20 Oktober tahun 2004.
Pemilihan Presiden 2004
Presidential Election 2004
|
The Susilo Bambang Yudhoyono Pemerintah I (2004-2009)
Partai Demokrat (PD) terutama didirikan berfungsi sebagai kendaraan politik
Yudhoyono di jalan ke arah presiden Indonesia. Ini disebarkan demokrasi,
pluralisme dan profesionalisasi tentara (Yudhoyono sendiri menjadi seorang
jenderal purnawirawan). Tapi politik bukan sesuatu yang baru untuk Yudhoyono
yang diangkat kepala staf untuk urusan sosial-politik (departemen militer) pada
tahun 1997. Pada posisi ini ia menunjukkan sifat reformis ketika ia
mempresentasikan 'Paradigma Baru' yang menyerukan diakhirinya untuk mengarahkan
keterlibatan militer dalam politik (melalui penarikan bertahap dari parlemen
nasional dan regional) dan menyerukan perpecahan antara tentara dan polisi
(split ini diputuskan selama kepresidenan Habibie dan menjadi efektif pada masa
pemerintahan Wahid). Kemudian, Yudhoyono menjadi Menteri Pertambangan dan
Energi selama presiden Wahid dan Menteri Koordinator Hukum, Politik, dan
Keamanan selama presiden Megawati. Dalam kedua kasus kejatuhan dengan presiden
menyebabkan keberangkatannya awal. Tapi dia menikmati popularitas di kalangan
orang Indonesia karena ide reformis nya, mediasi sukses dalam sejumlah konflik
kekerasan regional, dan catatan yang bersih dari korupsi (korupsi sebenarnya
merupakan elemen penting dalam kampanye nya sebelum pemilihan).
Dari awal harapan yang sangat tinggi. . Yudhoyono, yang dianggap sebagai
karakter yang kuat dan seimbang, mengambil kantor dengan cita-cita reformis
ambisius seperti jatuhnya korupsi dan terorisme, penguatan demokrasi dan hak
asasi manusia, dan pembinaan percepatan pertumbuhan ekonomi Tentunya ambisi
yang - realistis berbicara - terlalu tinggi karena Indonesia merupakan negara
yang sulit untuk mereformasi dalam jangka waktu yang dari beberapa tahun.
Sebuah birokrasi yang lambat dan tidak efisien, kekuatan yang berlawanan
seluruh masyarakat dan korupsi (terutama pada tingkat regional) membuat sulit
untuk menerapkan kebijakan secara efektif. Seperti yang dijanjikan selama
periode kampanye, sekitar setengah dari menteri kabinet Yudhoyono terdiri dari
profesional non-partisan, terutama pada posisi yang menyangkut ekonomi, dalam
rangka mendorong profesionalisasi.
Presiden Yudhoyono juga ditandai dengan bencana menyebabkan beberapa orang
untuk label dia 'presiden bencana'. Kebanyakan bencana alam yang terkenal
adalah tsunami mengerikan di Aceh yang menewaskan lebih dari 200.000 orang di
Aceh pada tahun 2004. bencana lainnya adalah gempa bumi di Bantul (Jawa Tengah)
pada tahun 2006 yang menewaskan 6.000 orang, semburan lumpur Sidoarjo merusak
ratusan hektar di Jawa Timur sebagai serta menyebabkan evakuasi ribuan orang,
beberapa banjir di Jakarta memicu evakuasi sekitar setengah juta orang pada
tahun 2007 dan, terakhir, gunung berapi letusan Merapi pada tahun 2010 yang
menewaskan 353 orang dan menyebabkan Evacuating dari 350.000 orang.
Sebuah prestasi yang baik dari pemerintahan Yudhoyono adalah pembinaan
fundamental makroekonomi yang kuat: utang luar negeri telah menurun
mengesankan, cadangan devisa telah meningkat dan pertumbuhan PDB tahunan telah
memuaskan. Ini fundamental yang kuat adalah apa yang membuat Indonesia berhasil
berlayar melalui krisis global 2008-2009.
Pemilihan 2009
Pemilihan parlemen
Pemilihan parlemen untuk DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) dan DPD (Dewan
Perwakilan Daerah), yang diselenggarakan pada tanggal 9 April 2009, terbukti
kemenangan yang jelas untuk pesta PD Yudhoyono (20,8 persen), sedangkan Golkar
berada di posisi kedua (14,4 persen) dan PDI -P ketiga (14,0 persen).
Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kemenangan ini dari PD yang program
cash besar untuk mendukung harga pangan dan bahan bakar miskin dan menurun yang
berkontribusi pada gagasan bahwa ekonomi nasional berkinerja baik. Masyarakat
juga dianggap Yudhoyono harus tulus dalam menumbangkan korupsi; PD dikenal sebagai
partai politik paling rusak.
Sebuah partai (atau koalisi partai) memenangkan lebih dari 112 kursi (dua puluh
persen) di DPR 560-anggota atau menang setidaknya 25 persen dari suara nasional
diizinkan untuk mencalonkan calon presiden. Hal ini menempatkan Yudhoyono dalam
posisi yang kuat untuk pemilihan presiden mendatang. Tapi kontroversi muncul di
ambang parlemen baru yang menetapkan bahwa hanya pihak yang menerima lebih dari
2,5 persen suara populer akan duduk di DPR. Ini adalah kerugian besar bagi partai-partai
kecil.
Hasil yang menarik dalam pemilihan ini adalah preferensi meningkat untuk
partai-partai sekuler-nasionalis lebih partai-partai Islam atau Islam. Total
gabungan partai-partai Islam menerima 27,8 persen suara saja, menunjukkan tren
menurun terus dibandingkan dengan pemilu sebelumnya (38,1 persen pada tahun
2004).
Parlemen Pemilu 2009
Parliamentary Election 2009
|
Ada tiga pasang yang berlari untuk presiden dan wakil presiden dalam pemilihan
presiden tahun 2009. Pertama-tama penjabat presiden Yudhoyono yang PD partai
telah memenangkan pemilihan parlemen dan yang berhak untuk satu jangka sebagai
presiden. Dia memilih Boediono sebagai calon wakil presiden untuk wakil
presiden. Boediono, seorang ekonom, tidak berafiliasi dengan partai politik dan
telah Gubernur Bank Indonesia (BI) dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian
selama kabinet pertama Yudhoyono. Pasangan kedua yang berjalan untuk kantor
terdiri dari Golkar Jusuf Kalla (mantan wakil presiden Yudhoyono) yang bermitra
dengan mantan jenderal militer Wiranto (yang telah dituduh melakukan
pelanggaran hak asasi manusia di Timor Timur). Dan terakhir, Megawati bergabung
balapan lagi. Kali ini dia memilih Prabowo sebagai cawapres nya. Prabowo, juga
mantan jenderal angkatan darat adalah anak-in-hukum untuk Soeharto dan diyakini
telah bertanggung jawab untuk kekerasan terhadap intelektual anti-Soeharto dan
mahasiswa, serta terhadap masyarakat etnis Tionghoa di Jakarta, saat kerusuhan
pada tahun 1998.
Tanpa harus membutuhkan putaran kedua kali ini, Yudhoyono dan Boediono
memenangkan pemilihan presiden dengan mayoritas mutlak (60,8 persen).
Masyarakat internasional menganggap ini sebagai elemen penting untuk menjaga
stabilitas politik di Indonesia. Pasangan Megawati-Prabowo menerima 26,8 persen
suara, sementara Kalla-Wiranto berada di posisi ketiga dengan 12,1 persen.
Pemilihan Presiden 2009
Presidential Election 2009
|
The Susilo Bambang Yudhoyono Pemerintah II (2009-2014)
Pada tanggal 22 Oktober 2009 pelantikan Kabinet Indonesia Bersatu II
berlangsung. Kabinet ini merupakan koalisi antara PD, Golkar dan empat partai
Islam PKS, PAN, PKB dan PPP. Selain menunjuk menteri dari semua enam pihak
tersebut, Yudhoyono juga ditempatkan beberapa profesional (tokoh non-partisan)
pada posting pelayanan utama seperti kementerian Dalam Negeri, Luar Negeri,
Keuangan, Perdagangan, Pendidikan dan Kesehatan Nasional. Hanya dua mantan
jenderal militer yang ditunjuk.
Tapi meskipun indikator ekonomi makro yang kuat, dukungan rakyat untuk
Yudhoyono sudah mulai mengikis. Yudhoyono tidak memenuhi harapan dalam
menumbangkan korupsi, slogan kampanye penting dari partainya. Kasus korupsi
tinggi yang melibatkan staf pemerintah membuat sering berita utama. Lebih
parah, PD itu sendiri menjadi sangat terlibat dalam skandal korupsi ketika
beberapa anggotanya, termasuk bendahara partai Muhammad Nazaruddin, yang
dituduh dan diuji coba untuk SEA Games 2011 kasus korupsi di mana - diduga -
suap yang dibayar terhubung ke pembangunan perkampungan atlet. Skandal ini
sangat dirugikan baik Yudhoyono dan popularitas partainya.
Menurut banyak orang Indonesia munculnya kasus korupsi dalam PD adalah tanda
lemahnya kepemimpinan Yudhoyono. Pada mata pelajaran lainnya Yudhoyono dianggap
bertindak lemah juga. Banyak orang Indonesia yang reformis kecewa ketika dia tidak
kembali Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati reformis ketika ia - bersama
dengan wakil presiden Boediono - yang dikritik karena kesalahan penanganan
kasus bailout bank pada tahun 2008. Sri Mulyani pindah ke Bank Dunia di mana
dia mulai bekerja sebagai managing director. Kebanyakan orang menganggap,
bagaimanapun, bahwa kepergiannya awal terhubung ke tekanan dari kekuatan
politik tertentu dengan kepentingan bisnis utama kebijakan reformasi nya telah
menyebabkan konflik dengan kepentingan-kepentingan ini. Kelemahan lain
seharusnya dalam kepemimpinan Yudhoyono menyangkut kecaman lambat dan
meyakinkan tentang serangan kekerasan pada agama minoritas, seperti pembunuhan
Ahmadiyah pada bulan Februari 2011 ketika massa Islam membunuh anggota sekte
Ahmadiyah Islam lokal kecil di Provinsi Banten.
Masa depan PD masih belum jelas. Populer dukungan menurun cepat dan sebagai
Yudhoyono tidak diperbolehkan untuk berpartisipasi dalam pemilu 2014, kandidat
baru (s) untuk kepemimpinan partai diperlukan tetapi belum ditemukan.
Kabinet Kerja (2014-sekarang)
Setelah Joko Widodo telah dilantik sebagai presiden ketujuh Indonesia, Senin 20
Oktober 2014, kabinetnya - yang terdiri dari 34 kementerian - dilantik pada 27
Oktober 2014. kabinet ini, yang diharapkan untuk memerintah hingga tahun 2019,
disebut 'Kabinet Kerja (Kabinet Kerja di Indonesia).
Widodo (sering disebut sebagai Jokowi) didukung oleh koalisi berikut (minoritas
di parlemen):
• Partai Demokrat Indonesia Perjuangan (PDI-P)
• Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
• Partai NasDem
• Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura)
Kabinet Indonesia (2014-2019)
Presiden Joko Widodo
Wakil Presiden Jusuf Kalla
Ministries
Politik, Hukum dan Keamanan Tedjo Edy Purdjianto
Ekonomi Sofyan Djalil
Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani
Sekretaris Negara Pratikno
Tjahjo Kumolo Negeri
Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi
Pertahanan Ryamizard Ryacudu
Hukum dan HAM Yasonna H. Laoly
Keuangan Bambang Brodjonegoro
Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said
Industri Saleh Husin
Perdagangan Rahmat Gobel
Pertanian Amran Sulaiman
Kehutanan dan Lingkungan Siti Nurbaya
Transportasi Ignatius Jonan
Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti
Tenaga Kerja dan Transmigrasi Hanif Dhakiri
Indroyono Soesilo Kelautan
Kesehatan Nila F. Moeloek
Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan
Khofifah Indar Sosial Parawansa
Agama Lukman Hakim Saifuddin
Pariwisata Arief Yahya
Komunikasi dan Informasi Rudiantara
Riset dan Teknologi M. Nasir
Koperasi dan Usaha Kecil & Menengah Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga
Land & Spacial Ferry Mursyidan Baldan Perencanaan
Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak Yohana S. Yambise
Negara Pendayagunaan Aparatur Yuddy Chrisnandi
Pembangunan Daerah Tertinggal Marwan Jafar
Perencanaan Pembangunan Nasional Andrinof Chaniago
Badan Usaha Milik Negara Rini M. Soemarno
Pekerjaan Umum & Perumahan Basuki Hadimuljono
Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi
Angka Ekonomi Makro Indonesia
Bagian ini memberi gambaran terperinci
indikator-indikator tertentu ekonomi makro Indonesia yang merupakan sarana penting
untuk mengevaluasi keadaan ekonomi Indonesia sekarang. Terlebih lagi, analisis
statistik-statistik tersebut bisa membantu memprediksi kinerja ekonomi di masa
depan.
Silakan pilih salah satu indikator di bawah ini
untuk melanjutkan membaca.
Update Terbaru: 11 Juli 2015
|
2009
|
2010
|
2011
|
2012
|
2013
|
2014
|
2015
|
|
|
4.6
|
6.4
|
6.2
|
6.0
|
5.6
|
5.0
|
5.0¹
|
|
|
4.8
|
5.1
|
5.4
|
4.3
|
8.4
|
8.4
|
5.0¹
|
|
|
28.6
|
27.4
|
26.6
|
27.3
|
28.7
|
|
|
|
|
10,389
|
9,074
|
8,773
|
9,419
|
11,563
|
11,800
|
13,200¹
|
• Neraca Transaksi Berjalan
(persent
|
|
0.7
|
0.2
|
-2.8
|
-3.3
|
-2.9
|
-2.7¹
|
|
|
|
241
|
244
|
247
|
250
|
253
|
255¹
|
|
|
14.2
|
13.3
|
12.5
|
11.7
|
11.5
|
11.0
|
|
|
|
7.9
|
7.1
|
6.6
|
6.1
|
6.3
|
5.9
|
|
|
|
66.1
|
96.2
|
110.1
|
112.8
|
99.4
|
111.9
|
|
¹ menunjukkan prognosis
Sumber: Bank Dunia, Badan Pusat Statistik, Bank Indonesia dan
IMF
Sejarah Prakolonial Indonesia
Pada masa sebelum kekuatan Eropa Barat mampu
menguasai daratan dan perairan Asia Tenggara, belum ada Indonesia. Nusantara
yang sekarang kita kenal sebagai Indonesia terdiri dari pulau-pulau dan tanah
yang dikuasai oleh berbagai kerajaan dan kekaisaran, kadang hidup berdampingan
dengan damai sementara di lain waktu berada pada kondisi berperang satu sama
lain. Nusantara yang luas tersebut kurang memiliki rasa persatuan sosial dan
politik yang dimiliki Indonesia saat ini. Meskipun demikian, jaringan
perdagangan terpadu telah berkembang di wilayah ini terhitung sejak awal
permulaan sejarah Asia. Terhubung ke jaringan perdagangan merupakan aset
penting bagi sebuah kerajaan untuk mendapatkan kekayaan dan komoditas, yang
diperlukan untuk menjadi kekuatan besar. Tapi semakin menjadi global jaringan
perdagangan ini di nusantara, semakin banyak pengaruh asing berhasil masuk;
suatu perkembangan yang akhirnya akan mengarah pada kondisi
penjajahan.
Keberadaan sumber-sumber tertulis adalah yang
memisahkan masa sejarah dari masa prasejarah. Karena sedikitnya sumber-sumber
tertulis yang berasal dari masa sebelum tahun 500 Masehi, sejarah Indonesia
dimulai agak terlambat. Diduga sebagian besar tulisan dibuat pada bahan yang
mudah rusak dan - ditambah dengan iklim tropis lembab dan standar teknik
konservasi yang berkualitas rendah pada saat itu - ini berarti bahwa sejarawan
harus bergantung pada inskripsi/prasasti di atas batu dan studi sisa-sisa candi
kuno untuk menelusuri sejarah paling terdahulu nusantara. Kedua pendekatan ini
memberikan informasi mengenai struktur politik tua karena baik sastra maupun
pembangunan candi adalah contoh budaya tinggi yang diperuntukkan bagi elit
penguasa.
Sejarah Indonesia memiliki ciri sangat khas,
yaitu umumnya berpusat di bagian barat Nusantara (khususnya di pulau Sumatera
dan Jawa). Karena sebagian besar bagian timur Nusantara memiliki sedikit
kegiatan ekonomi sepanjang sejarah (terletak jauh dari jalur perdagangan
utama), hal itu menyebabkan sedikitnya kegiatan politik; suatu situasi yang
berlanjut hingga hari ini.
Pengaruh Agama Hindu dan
Budha di Indonesia
Prasasti tertua yang ditemukan di Nusantara
dikenal sebagai Prasasti Kutai dan berasal dari Kalimantan Timur, yang sudah
ada sejak sekitar 375 Masehi ketika kerajaan Kutai Martadipura berkuasa.
Prasasti ini ditulis dalam bahasa Sansekerta (bahasa liturgis agama
Hindu)
menggunakan tulisan Palawa, tulisan yang dikembangkan di India Selatan sekitar
abad ketiga Masehi. Dalam prasasti ini tiga raja Kutai Martadipura disebutkan
dan mereka menggambarkan sebuah ritual yang merupakan karakteristik Hindu kuno.
Sekitar satu abad kemudian, batu prasasti pertama (yang diketahui) di Jawa
ditemukan. Prasasti ini, yang juga dalam bahasa Sansekerta, menyatakan raja
Purnawarman dari kerajaan Tarumanegara (abad keempat sampai ketujuh) di Jawa
Barat dan menghubungkan sang raja ini dengan dewa Hindu (Wisnu). Secara
keseluruhan, prasasti ini menunjukkan bukti pengaruh besar dari agama Hindu
India di kalangan elit penguasa kerajaan pribumi kuno pertama yang diketahui di
Nusantara.
Meskipun demikian, hubungan perdagangan antara
India dan Nusantara masa kini diketahui telah terbentuk berabad-abad sebelum
prasasti Kutai. Selat Malaka, jalur laut yang menghubungkan Samudera Hindia
dengan Samudera Pasifik, telah menjadi jalur pelayaran utama untuk perdagangan
yang pengantarannya melalui laut antara China, India dan Timur Tengah sejak
ingatan manusia (since human memory). Sebagian
besar garis pantai Sumatera terletak di sebelah jalur laut ini, yang menyebabkan
pedagang antara India dan China berhenti di sini atau di sisi lain dari
Selat (sekarang Malaysia) untuk menunggu angin musim yang tepat yang akan
membawa mereka lebih jauh. Tapi diasumsikan bahwa agama Hindu dan Buddha tidak
disebarkan ke Nusantara oleh para pedagang India. Kemungkinan besar, raja dan
kaisar di Nusantara tertarik dengan kehormatan Brahmana (kelas imam agama Hindu
yang merupakan peringkat tertinggi dari empat kasta sosial). Brahmana ini,
berdasarkan dugaan, memperkenalkan agama baru ke Nusantara yang memungkinkan
raja-raja pribumi untuk mengidentifikasikan diri mereka dengan dewa Hindu atau
Bodhisattva (makhluk mistis yang tercerahkan dalam agama Budha), sehingga
menggantikan pemujaan leluhur yang dianut sebelumnya. Oleh karena itu, Doktrin
agama baru ini, menunjukkan kehormatan yang lebih besar bagi raja-raja.
Kerajaan di Nusantara yang meniru konsep India ditemukan di pulau Kalimantan,
Jawa, Sumatera dan Bali.
Karena posisi strategis dari garis
pantai Sumatera dan Malaysia yang dekat dengan Selat
Malaka, tidaklah mengherankan bahwa kita menemukan Negara pertama yang
berpengaruh besar dalam sejarah Indonesia di daerah pesisir Sumatra, dan
membentang di wilayah geografis yang luas di sekitar selat. Kerajaan ini
dinamakan Sriwijaya dan menguasai jalur perdagangan yang menghubungkan Samudra
Hindia, Laut Cina Selatan dan Kepulauan Rempah Maluku antara abad ke-13 dan
abad ke-17. Sriwijaya juga dikenang sebagai Pusat di Asia Tenggara untuk studi
agama Budha dengan penekanan utama pada studi bahasa Sansekerta. Dari
sumber-sumber Cina diketahui bahwa para biksu Budha Cina tinggal di Sriwijaya
selama lebih dari satu dekade untuk melanjutkan studi mereka.
Sisa-sisa candi Hindu dan Buddha yang berasal
dari antara abad ke-8 dan ke-10 menunjukkan pemerintahan dua dinasti di Jawa
Tengah. Dinasti ini adalah Dinasti Sailendra (penganut Agama Budha Mahayana dan
kemungkinan besar dinasti yang membangun Candi Borobudur yang terkenal sekarang
berada di dekat Yogyakarta sekitar tahun 800 Masehi) dan Dinasti Sanjaya
(penganut agama Hindu yang membangun kompleks candi Prambanan sekitar tahun 850
Masehi tidak jauh dari candi Borobudur dan sebagai reaksi terhadap candi
Borobudur tersebut). Keruntuhan perlahan-lahan Sriwijaya dan munculnya kerajaan
besar baru di Jawa ini berarti bahwa kekuasaan politik secara bertahap
berpaling dari Sumatera menuju Jawa. Namun pada abad ke-10 kehidupan penduduk
di Jawa Tengah tiba-tiba tidak terekam karena kurangnya sumber. Diduga letusan
gunung berapi besar menggeser kekuasaan politik dari Jawa Tengah ke Jawa Timur
tempat berkembangnya sejumlah kerajaan baru. Dua di antaranya yang patut
mendapat perhatian khusus karena warisan mereka, yakni Kediri (sekitar
1042-1222) untuk warisan prasasti dan warisan sastranya, dan penggantinya
Singasari (antara 1222 dan 1292) untuk memperkenalkan babak baru dalam sejarah
Indonesia, yaitu sinkretisme (penyatuan aliran) agama Hindu dan Budha. Babak
baru ini mencapai kejayaannya di kerajaan Majapahit di Jawa Timur (1293 sampai
sekitar 1500), yang mungkin merupakan kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara
yang memiliki wilayah geografis yang menyerupai perbatasan Indonesia saat ini
(walaupun masih diperdebatkan di kalangan sarjana mengenai seberapa besar
kekuasaan kerajaan ini benar-benar dinikmati di luar Jawa dan Bali). Majapahit
dengan perkembangan seni dan sastranya yang luar biasa masih merupakan konsep
penting dan menjadi penyebab kebanggaan nasional bagi masyarakat Indonesia saat
ini karena dianggap sebagai dasar negara modern Indonesia. Pergerakan kaum
nasionalis di abad ke-20 menggunakan konsep ini untuk menjustifikasi
kemerdekaan dan keabsahan batas-batas wilayah. Motto Nasional Indonesia Bhinneka
Tunggal Ika, yang berarti ‘Persatuan dalam Keberagaman', berasal
dari sebuah puisi Jawa Kuno yang ditulis pada masa pemerintahan Majapahit.
Kedatangan Islam di Indonesia
Meskipun merupakan kerajaan Hindu-Buddha, Islam
berpengaruh bagi kalangan elit penguasa Majapahit. Kemungkinan Islam sudah ada
di Asia Tenggara maritim dari awal era Islam ketika pedagang Muslim datang ke
Nusantara, membuat permukiman di daerah pesisir, menikah dengan wanita setempat
dan dihormati atas kekayaan mereka yang diperoleh melalui perdagangan. Beberapa
penguasa lokal kemungkinan tertarik dengan agama baru ini dan dianggapnya menguntungkan
untuk menganut keyakinan yang sama seperti sebagian besar pedagang. Pendirian
kerajaan
Islam
merupakan langkah logis berikutnya. Diduga rakyat dari raja-raja ini mengikutinya
dengan masuk Islam.
Prasasti pada batu nisan menunjukkan bahwa pada
awal abad ke-13 terdapat sebuah kerajaan Islam di bagian utara Sumatera disebut
Pasai atau Samudera. Kerajaan ini dianggap sebagai kerajaan Islam pertama di
Nusantara. Dari Sumatra Utara, pengaruh Islam kemudian menyebar ke arah timur
melalui perdagangan. Di pesisir pantai utara Jawa berbagai kota Islam muncul
selama abad ke-14. Meskipun demikian, tidaklah mungkin kalau beberapa bangsawan
Jawa dari Majapahit di Jawa Timur memeluk agama Islam karena perdagangan.
Mereka mungkin merasa derajatnya jauh lebih tinggi dibanding dengan kelas
sosial pedagang. Kemungkinan besar bangsawan Jawa ini dipengaruhi oleh ulama
Sufi dan orang-orang suci atau wali yang mengaku memiliki
kekuatan supranatural (karomah).
Pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15
pengaruh Majapahit di Nusantara mulai menurun karena konflik suksesi dan
meningkatnya kekuasaan kerajaan Islam. Sebuah negara perdagangan baru, Malaka,
merupakan salah satu kekuatan baru ini. Kekuatan ini bangkit di daerah pesisir
- saat ini Malaysia - dan terletak di bagian tersempit dari Selat Malaka.
Negara ini menjadi pelabuhan sangat sukses dengan fasilitas menguntungkan dalam
jaringan perdagangan luas yang membentang dari Cina dan Maluku di ujung timur
ke Afrika dan Mediterania di ujung barat. Meskipun pada awalnya Malaka adalah
negara Hindu-Buddha, namun berubah dengan cepat menjadi kesultanan Muslim
(mungkin karena alasan terkait perdagangan).
Hubungan historis antara perdagangan dan Islam
juga terlihat dalam perkembangan di pulau Ternate - saat ini propinsi Maluku di
kawasan timur Indonesia. Ternate (mirip dengan Tidore yang dekat dengannya)
menjadi daerah kaya karena produksi cengkeh. Dari Jawa - dan melalui
perdagangan - Islam menyebar ke daerah ini, mengakibatkan berdirinya kesultanan
di akhir abad ke-15. Kesultanan ini berhasil menguasai sebagian besar Indonesia
Timur namun posisinya dirusak oleh Belanda pada abad ke-17.
Kedatangan Bangsa Eropa di
Indonesia
Cerita tentang kekayaan Malaka telah mencapai
Eropa dan menggoda bangsa Portugis, yang memiliki teknologi navigasi maju,
untuk berlayar ke bagian dunia ini agar bisa memiliki pengaruh lebih besar pada
jaringan perdagangan rempah-rempah dunia (dan akan membuat penghasilan mereka
lebih tinggi). Pada tahun 1511 Malaka ditaklukkan oleh armada Portugis di bawah
pimpinan Afonso de Albuquerque. Meskipun demikian, penaklukan ini memiliki
konsekuensi yang luas bagi jalur perdagangan. Malaka, yang dulu merupakan
pelabuhan kaya, dengan cepat hancur di bawah kekuasaan Portugis yang tidak
pernah berhasil memonopoli perdagangan Asia. Setelah penaklukan, para pedagang
segera mulai menghindari Malaka dan pergi membawa bisnis mereka ke beberapa
pelabuhan lain. Johor (Malaysia), Aceh (Sumatra) dan Banten (Jawa) adalah
negara yang mulai mendominasi perdagangan rempah-rempah karena pergeseran
jalur-jalur perdagangan.
Belanda juga tertarik untuk membangun cengkeraman
yang kuat pada jaringan perdagangan rempah-rempah di Asia Tenggara. Ekspedisi
pertama mereka mencapai Banten pada tahun 1596 tapi disertai dengan permusuhan
antara Belanda dan penduduk pribumi. Setelah tiba kembali di Belanda, ekspedisi
ini masih menunjukkan keuntungan besar yang memperlihatkan bahwa ekspedisi ke
kawasan Asia Tenggara sebenarnya menghasilkan banyak uang. Namun saking
banyaknya ekspedisi yang diadakan oleh beberapa perusahaan Belanda (ke
Nusantara), menimbulkan dampak negatif pada keuntungan mereka. Persaingan
memperebutkan rempah-rempah mendongkrak kenaikan harganya di Nusantara sementara
peningkatan pasokan rempah-rempah menyebabkan penurunan harga di Eropa. Hal ini
membuat pemerintah Belanda memutuskan untuk menggabungkan perusahaan pesaingnya
menjadi satu badan usaha yang disebut Serikat Dagang Hindia Timur (Vereenigde
Oost Indische Compagnie-, disingkat VOC). Mereka menerima kekuasaan
berdaulat yang besar untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah Asia serta
menyingkirkan pesaing Eropa lainnya. VOC memutuskan untuk memiliki kantor
pusatnya tidak di Maluku (jantung pulau penghasil rempah-rempah) tetapi lebih
strategis dekat Selat Malaka dan Selat Sunda. Pilihannya jatuh pada Jakarta
saat ini. Pada tahun 1619 Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen mendirikan
Batavia di atas puing-puing kota Jayakarta yang dihancurkan karena sikapnya
yang memusuhi Belanda. Batavia menawarkan prospek dagang yang bagus,
sehingga menyebabkan timbulnya imigrasi banyak orang (terutama orang Cina) ke
kota berkembang pesat ini.
Menuju Pemerintahan Kolonial di Indonesia
Sementara itu, negara-negara Islam terus
berkembang di Nusantara. Di Aceh (Sumatra) Sultan Iskandar Muda mendirikan
kekuasaan besar di awal abad ke-17, mengendalikan cadangan lada dan timah.
Namun, ia tidak pernah berhasil membangun hegemoni di sekitar Selat Malaka
seperti Johor dan Portugis yang merupakan pesaing kuat. Setelah pemerintahan
Iskandar Muda, Aceh mengalami periode panjang perpecahan internal yang
menghentikannya menjadi kekuatan penting di luar ujung utara Sumatera. Di Jawa
Tengah dua kekuasaan Islam baru yang kuat muncul di paruh kedua abad ke-16.
Kekuasaan ini adalah distrik Pajang dan Mataram yang, setelah melalui
perjuangan panjang, berhasil menghentikan dominasi politik daerah pesisir di
utara Jawa. Mataram menjadi dinasti yang paling kuat dan paling lama dari
dinasti Jawa modern, dengan masa pemerintahan Sultan Agung sebagai kejayaan
politik. Sultan Agung berkuasa pada tahun 1613-1646 dan berhasil menaklukkan
hampir seluruh daratan Jawa, kecuali kerajaan Banten di Jawa Barat dan kota
Batavia. Penguasaan Belanda terhadap Batavia adalah ibarat onak/duri di mata
Sultan Agung yang ingin menguasai seluruh daratan pulau. Dalam dua kesempatan
ia mengirim pasukannya untuk menaklukkan kota Belanda ini tapi gagal
kedua-duanya.
VOC dengan cepat menyebarkan kekuasaannya di
Nusantara dan mendapatkan kendali atas produksi cengkeh dan pala di Kepulauan
Banda (Maluku) dengan menggunakan langkah-langkah ekstrim seperti genosida
(pembantaian massal). VOC terus memperluas jaringan pos perdagangannya di
seluruh Nusantara. Kota dan pelabuhan yang memainkan peran sentral dalam
jaringan perdagangan Belanda ini adalah Surabaya (Jawa Timur), Malaka (Malaysia
Barat) dan Banten (Jawa Barat). Meskipun undang-undang VOC pada awalnya tidak
memperbolehkan mengganggu politik internal negara pribumi, namun VOC mengakar
cukup kuat dalam politik Mataram di Jawa Tengah. Setelah
kematian Sultan Agung, Mataram dengan cepat merosot dan sengketa suksesi muncul
sekitar akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18. Belanda memainkan taktik
memecah-belah dan menaklukkan yang pada akhirnya mengakibatkan pembagian
kerajaan Mataram menjadi empat bagian dengan penguasanya menjadi tunduk kepada
Belanda. Meskipun kedudukan Belanda masih agak lemah di luar Pulau Jawa,
perkembangan politik di Jawa ini dapat dianggap sebagai tahap awal penjajahan
Belanda di Nusantara.
Agama di Indonesia
Indonesia adalah negara
demokratis yang sekular mayoritas pemeluk agama Islam. Konstitusi Indonesia
menjamin kebebasan beragama kepada semua orang, masing-masing menurut agama
atau keyakinan sendiri. Konstitusi ini juga menetapkan bahwa negara Indonesia
harus didasarkan pada keyakinan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa (kondisi
tersebut juga merupakan prinsip pertama Pancasila, yaitu filosofi negara
Indonesia yang dibeberkan presiden Soekarno pada tahun 1945). Kedua kondisi ini
tampaknya agak kontradiktif, namun Soekarno memecahkan permasalahan ini dengan
hipotesa bahwa setiap agama (termasuk Hindu) pada dasarnya mempunyai satu
Ketuhanan tertinggi. Meskipun Indonesia bukan negara Islam, namun
prinsip-prinsip Islam memang mempengaruhi kebijakan politik. Selain itu,
kelompok-kelompok Muslim radikal tertentu terbukti dapat mempengaruhi kebijakan
politik dan yudisial dengan ancaman kekerasan.
Salah satu keganjilan dari sikap pemerintah
Indonesia terhadap kebebasan agama
adalah bahwa pemerintah mengakui hanya
enam agama (Islam, Protestantisme, Katolisisme, Hinduisme, Buddhisme dan Konghucu). Setiap orang Indonesia wajib untuk
merangkul salah satu agama
tersebut yang merupakan data pribadi
yang disebutkan di
dalam dokumen resmi seperti paspor
dan kartu identitas lain. Ateisme tidak merupakan suatu pilihan.
Belakangan ini terjadinya kasus orang Indonesia yang mengumumkan pandangan
ateisme di media sosial berujung ancaman oleh masyarakat setempat dan ditangkap
polisi atas dasar penghinaan Tuhan.
Komposisi Agama di Indonesia
|
Persentase
(dari populasi total)
|
Angka Absolut
(juta)
|
Muslim
|
87.2
|
207.2
|
Kristen
|
6.9
|
16.5
|
Katolik
|
2.9
|
6.9
|
Hindu
|
1.7
|
4.0
|
Buddha
|
0.7
|
1.7
|
Konghucu
|
0.05
|
0.1
|
Sumber: Badan Pusat
Statistik, Sensus Penduduk 2010
Sepanjang sejarahnya, agama juga merupakan penyebab banyaknya kekerasan di Indonesia.
Mengenai sejarah masa kini, terdapat satu titik balik yang penting bisa
dibedakan. Setelah jatuhnya rezim
Orde Baru presiden Suharto (yang dicirikan oleh pemerintah pusat yang kuat dan masyarakat sipil yang lemah) suara Islam yang radikal
dan tindakan kekerasan (aksi
teroris) -yang sebelumnya sebagian besar
ditekan pemerintah- sempat muncul
ke permukaan dalam bentuk serangan bom serta ancaman
lain. Akhir-akhir ini berbagai media Indonesia memberitakan penyerangan
kelompok Muslim yang radikal terhadap kelompok agama minoritas seperti para
Ahmadiyya dan Kristen. Di sisi lain, para pelaku dan pemicu kekerasan tersebut
biasanya dijatuhkan hukuman penjara yang ringan. Hal tersebut telah mendapatkan
perhatian internasional dan sejumlah pemerintah, organisasi
serta media menyatakan keprihatinan atas penjaminan kebebasan agama di Indonesia. Akan tetapi -betapa pun
ngerinya- serangan tersebut adalah pengecualian, dan harus ditekankan bahwa bagian terbesar masyarakat Muslim di Indonesia sangat mendukung masyarakat yang pluralis dan damai jika menyangkut hal agama.
Jika Anda ingin membaca lebih lanjut mengenai Islam radikal di Indonesia,
silakan mampir ke bagian
Islam
Radikal. Sebagai penutup, perlu ditekankan juga bahwa intoleransi
dan diskriminasi agama datang dalam bentuk non-kerasan misalnya kesulitan untuk
membangun tempat ibadah untuk umat non-Muslim.
Islam di Indonesia
Indonesia adalah negara yang memiliki populasi
Muslim terbesar di seluruh dunia. Pada saat ini diperkirakan bahwa jumlah umat
Muslim mencapai 207 juta orang, sebagian besar menganut Islam aliran Suni.
Jumlah yang besar ini mengimplikasikan bahwa sekitar 13% dari umat Muslim di
seluruh dunia tinggal di Indonesia dan juga mengimplikasikan bahwa mayoritas
populasi penduduk di Indonesia memeluk agama Islam. Kendati mayoritas penduduk
beragama Islam, negara ini bukanlah negara Islam yang berdasarkan pada
hukum-hukum Islam. Justru, Indonesia adalah sebuah negara sekuler demokratik
tetapi dengan pengaruh Islam yang kuat. Sejak awal berdirinya negara ini, sudah
ada banyak perdebatan politik mengenai dasar ideologi negara Indonesia.
Sejumlah kelompok Islam konservatif (termasuk sejumlah partai politik)
berpendapat bahwa Indonesia seharusnya menjadi sebuah negara Islam. Namun,
karena ada puluhan juta penduduk non-Muslim - apalagi mayoritas penduduk yang
menganut Islam di Indonesia bukan orang Muslim yang mempraktekkannya dengan
ketat (
nominal Muslim) -, berdirinya sebuah negara Islam (sekaligus
penerapan hukum syariah) selalu dianggap sebagai pemicu perpecahan dan
separatisme. Partai-partai politik yang mendukung pendirian negara Islam belum
pernah sempat meraih suara mayoritas penduduk sepanjang
sejarah
perpolitikan di Indonesia. Berdasarkan pemilihan-pemilihan selama
era
Reformasi, partai-partai Islam konservatif justru kehilangan
dukungan dibandingkan partai-partai sekuler dan karena itu tampaknya kecil
kemungkinan bahwa Indonesia akan menjadi negara Islam di masa mendatang.
Proses Islamisasi di Indonesia (atau tepatnya di
wilayah yang sekarang dikenal sebagai Indonesia) telah berlangsung selama
berabad-abad dan terus berlanjut hingga saat ini. Islam menjadi sebuah kekuatan
yang berpengaruh melalui serangkaian gelombang dalam berjalannya sejarah (yaitu
perdagangan internasional, pendirian berbagai kesultanan Islam yang
berpengaruh, dan gerakan-gerakan sosial) yang akan dijelaskan lebih lanjut
dengan detail di bawah ini. Namun, penerapan agama Islam di Indonesia pada saat
ini memiliki karakter yang beragam karena setiap wilayah memiliki sejarah
tersendiri yang dipengaruhi oleh sebab-sebab yang unik dan berbeda-beda. Mulai
dari akhir abad ke-19 sampai saat ini, Indonesia - secara keseluruhan -
memiliki sejarah umum yang lebih seragam karena para penjajah (dan dilanjutkan
oleh para pemimpin nasionalis Indonesia) menetapkan dasar-dasar nasional di
wilayahnya yang berbeda-beda. Proses unifikasi ini juga membuat agama Islam di
Indonesia - dalam proses yang lambat - semakin kehilangan keanekaragamannya.
Namun, hal ini bisa dipandang sebagai perkembangan yang logis dalam proses
Islamisasi di negara ini.
Di dalam beberapa tahun terakhir, media - baik
nasional dan internasioanal - telah melaporkan penyerangan-penyerangan pada
kelompok-kelompok agama minoritas di Indonesia (seperti Ahmadiyah dan Kristen).
Sejumlah
kelompok
Muslim radikal seperti Front Pembela Islam (FPI) menggunakan
kekerasan (atau ancaman kekerasan) untuk memeperjuangkan idealisme mereka;
termasuk dengan melawan umat Islam lainnya, contohnya dengan menyerang penduduk
beragama Islam yang menjual makanan pada siang hari selama bulan puasa
(Ramadhan). Sangat menguatirkan bahwa Pemerintah Indonesia dan pengadilan di
Indonesia tidak bertindak tegas melawan kelompok-kelompok radikal semacam ini.
Hal ini menunjukkan bahwa Pemerintah memiliki monopoli yang lemah dalam hal
penggunaan kekerasan (
weak monopoly on violence). Namun, perlu
ditekankan bahwa mayoritas penduduk Muslim di Indonesia sangat mendukung pluralisme
dan kerukunan antar umat agama.
Pulau-pulau Indonesia dengan mayoritas penduduk
Muslim:
1. Sumatra
2. Jawa
3. Kalimantan (daerah pesisir)
4. Sulawesi
5. Lombok
6. Sumbawa
7. Maluku Utara
Wilayah barat Indonesia yang padat penduduknya pada umumnya memiliki jumlah
penduduk Muslim yang lebih besar dibandingkan dengan wilayah timur Indonesia.
Karena perdagangan memiliki peran yang signifikan dalam proses Islamisasi di
Indonesia, pulau-pulau yang lebih dekat dengan rute-rute perdagangan utama
menerima lebih banyak pengaruh Islam. Wilayah barat Indonesia, yang telah
menjadi bagian dari jalur perdagangan global sejak sejarah awal manusia, lebih
banyak menerima pengaruh-pengaruh Islam yang disebarkan melalui proses
perdagangan, dan karena itu mengalami proses kebangkitan dan kejatuhan
kesultanan-kesultanan Islam sejak abad ke-13. Hal ini terutama terjadi di
wilayah sekitar Selat Malaka (yang terletak di antara Malaysia dan Indonesia)
yang dari dulu-dulu adalah salah satu jalur perdagangan laut tersibuk di dunia.
Indonesia pada saat ini mengalami pertumbuhan
makro ekonomi yang cepat: jumlah penduduk kelas menengah bertambah dengan cepat
dan hal ini ditunjukkan dengan peningkatan berkelanjutan
produk
domestik bruto per kapita (berarti penduduk semakin banyak
mengonsumsi produk dan jasa). Apalagi masyarakat Indonesia - seperti juga dunia
- semakin mengalami proses
urbanisasi
(sebuah proses yang berhubungan erat dengan modernisasi dan industrialisasi).
Maka penduduk Muslim, yang setara dengan hampir 90% dari jumlah total penduduk
Indonesia, juga dipengaruhi oleh perkembangan-perkembangan ini. Di kota-kota
besar (terutama di pulau Jawa yang merupakan pulau paling padat penduduk di
Indonesia) kelompok masyarakat ini menunjukkan gaya hidup yang semakin
konsumtif. Hal ini terutama berlaku untuk komponen kelompok Muslim moderat yang
berjumlah sangat besar. Mereka semakin menerapkan gaya hidup perkotaan yang
‘modern’, yang didukung dengan alat-alat elektronik dan gaya busana terbaru.
Indikator-indikator penting seperti penjualan mobil dan penggunaan internet
serta telepon selular meningkat dengan sangat cepat di tahun-tahun terakhir.
Kaum muda dari kalangan menengah dan elit sering dapat dilihat sedang bersantai
di tempat-tempat seperti Starbucks di mal-mal mewah di kota-kota besar.
Kedatangan Islam di Indonesia
Walaupun sulit untuk
mengetahui secara persis perkembangan awal agama Islam di kepulauan ini (karena
kurangnya sumber informasi), cukup jelas bahwa perdagangan intenasional
merupakan faktor yang sangat penting. Kemungkinan besar para pedagang Muslim
dari berbagai negara telah ada di wilayah maritim Asia Tenggara sejak periode
awal Islam. Sumber-sumber paling awal melaporkan bahwa sejumlah penduduk asli
telah memeluk agama Islam sejak awal abad ke-13; baru-batu nisan
mengindikasikan keberadaan sebuah kerajaan Muslim di Sumatra Utara pada tahun
1211. Mungkin kerajaaan-kerajaan lokal mengadopsi agama baru ini karena bisa
memberikan keuntungan-keuntungan tertentu dalam perdagangan dengan para
pedagang yang sebagian besar beragama Islam. Tidaklah jelas mengapa para penduduk
asli tampaknya baru memeluk agama Islam setelah berabad-abad agama ini sudah
dikenal di wilayah tersebut. Baru dari abad ke-15 dan selanjutnya,
kerajaan-kerajaan dan kesultanan-kesultanan Islam menjadi kekuatan politik
dominan di kepulauan ini, meskipun mereka kemudian dikalahkan oleh para
pendatang baru dari Eropa (Portugis dan Belanda) di abad ke-16 dan abad ke-17.
Variasi Agama Islam di Indonesia
Kedatangan Islam di kepulauan ini memiliki
dampak-dampak yang beragam bagi komunitas-komunitas lokal tergantung pada
konteks historis dan sosial dari wilayah tempat kedatangannya. Di beberapa
bagian dari kepulauan tersebut, kota-kota bermunculan sebab para pedagang
Muslim mendirikan tempat permukiman di sana. Di wilayah-wilayah lain, Islam
tidak pernah menjadi agama mayoritas, kemungkinan karena letaknya jauh dari
rute-rute perdagangan yang penting (seperti wilayah Indonesia timur). Di
wilayah-wilayah yang memiliki pengaruh kuat dari kebudayaan animisme atau
Hindu-Buddha, penyebaran agama Islam diblokir oleh kebudayaan-kebudayaan yang
telah ada (seperti di wilayah Bali yang didominasi kebudayaan Hindu sampai saat
ini) atau bercampur dengan sistem-sistem kepercayaan (animisme) yang sudah ada
(contoh-contohnya masih bisa ditemukan di Jawa Tengah).
Sejak terbitnya buku (terkemuka) Clifford Geertz
berjudul 'The Religion of Java' (diterbitkan pada tahun 1960), para
ilmuwan cenderung membagi komunitas Islam Jawa (kelompok Muslim terbesar di
Indonesia) di dalam dua kelompok:
• Abangan;
mereka adalah umat Muslim tradisionil yang berarti mereka masih menerapkan
dogma-dogma agama tradisional Jawa; yang mencampurkan ajaran Islam dengan agama
Hindu, Buddha, dan animism. Anggota dari kelompok ini umumnya bertempat tinggal
atau berasal dari wilayah pedesaan.
• Santri;
kelompok ini bisa disebut sebagai umat Muslim ortodoks. Mereka umumnya
bertempat tinggal atau berasal dari wilayah perkotaan dan lebih berorientasi
pada mesjid dan Al-Quran.
Geertz sebenarnya juga menyatakan ada kelompok
ketiga, yaitu priyayi (kelompok bangsawan tradisional), namun karena
ini merupakan kelompok kelas sosial dan bukan kelompok agama, maka kelompok
priyayi ini tidak dimasukkan dalam pembagian masyarakat di atas.
Penyebaran Islam di Indonesia seharusnya tidak
dipandang sebagai proses yang cepat dan berasal dari satu asal atau sumber
saja, namun lebih tepat disebut sebagai proses dari berbagai gelombang
Islamisasi yang berkaitan dengan perkembangan internasional dalam dunia Islam;
sebuah proses yang terus berlanjut hingga saat ini (seperti yang telah dijelaskan
di atas, para pedagang Muslim yang datang ke wilayah kepulauan ini pada
abad-abad pertama era Islam bisa dianggap sebagai gelombang pertama). Dua
gelombang reformasi penting yang bertujuan untuk mengembalikan kemurnian Islam
- seperti yang diterapkan pada masa Nabi Muhammad - adalah gerakan Wahabi dan
gerakan Salafi. Gerakan Wahabi datang dari Arab dan memberikan pengaruh di
wilayah kepulauan ini sejak awal abad ke-19. Gerakan Salafi datang dari Mesir
pada akhir abad ke-19. Kedua gerakan ini memiliki dampak yang kuat dalam proses
penyebaran agama Islam ortodoks di wilayah kepulauan ini. Perkembangan penting
lain di proses Islamisasi di Indonesia adalah pembukaan Kanal Suez pada tahun
1869 yang mengimplikasikan - karena perjalanan ke Mekah menjadi lebih mudah -
adanya lebih banyak peziarah antara Indonesia dan Mekkah. Hal ini menyebabkan
semakin intensifnya komunikasi dengan pusat-pusat agama di Timur Tengah.
Kendati begitu,
gelombang-gelombang Islamisasi juga menyebabkan ketegangan dan perpecahan di
dalam komunitas Islam Indonesia karena tidak semua orang setuju dengan
kedatangan gerakan Islam ortodoks. Contohnya, perbedaan antara komunitas
modernis (santri) dan komunitas tradisionalis (abangan) disebabkan karena
reaksi komunitas tradisionalis melawan gerakan reformasi di abad ke-19.
Perbedaan ini masih tampak dalam dua organisasi Islam yang paling berpengaruh
di Indonesia pada saat ini. Muhammadiyah, sebuah organisasi sosial yang
didirikan pada tahun 1912 di Jawa, mewakili komunitas Islam modernis yang
menolak Islam Jawa yang mistis (tradisional). Pada saat ini, kelompok ini
memiliki sekitar 20 juta anggota. Sebagai reaksi atas pendirian Muhammadiyah,
para pemimpin tradisional Jawa mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926.
Para anggota NU masih dipengaruhi oleh elemen-elemen mistis sebelum kedatangan
agama Islam. Para pemimpin NU juga cenderung lebih toleran pada agama-agama
lain. Jumlah anggotanya saat ini mencapai 35 juta orang.
Islam Radikal di Indonesia
Pada dua dekade terakhir, pengaruh Islam semakin
tampak jelas di jalan-jalan di Indonesia dan telah mulai memainkan peran yang
lebih penting dalam kehidupan sehari-hari umat Muslim. Contohnya, jumlah wanita
Indonesia yang menggunakan jilbab telah meningkat secara signifikan, dan
beribadah di mesjid semakin menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun,
penting untuk memahami bahwa perkembangan Islamisasi ini tidaklah sama dengan
radikalisme Islam. Sebagian besar umat Muslim di Indonesia memiliki toleransi
tinggi pada agama-agama lain serta aliran-aliran lain di dalam Islam. Hanya
sekelompok kecil masyarakat di Indonesia yang setuju dan/atau berpartisipasi
dalam aktivitas-aktivitas radikal atau teroris. Meskipun radikalisme Islam di
Indonesia telah mendapat lebih banyak sorotan sejak penyerangan 11 September di
New York (terutama setelah beberapa pemboman di Bali dan Jakarta pada tahun
2000an), ini bukanlah fenomena baru di Indonesia. Insiden-insiden yang
melibatkan radikalisme Islam telah terjadi sebelumnya, seperti
pemberontakan-pemberontakan Darul Islam pada tahun 1950an,
pemberontakan-pemberontakan daerah pada akhir 1950an, pembantaian komunis pada
tahun 1965-1966, pembajakan pesawat pada tahun 1981, berbagai serangan pada
gereja Kristen dan monumen Buddha, dan serangan-serangan pada tempat-tempat
yang dianggap haram (rumah bordil, bar, dan tempat perjudian) pada beberapa
dekade terakhir.
Untuk informasi yang lebih detail mengenai hal
ini silahkan kunjungi halaman kami mengenai Islam Radikal.
Islam Radikal di Indonesia
Pada beberapa kesempatan Indonesia telah
menjadi berita utama global karena serangan teroris kejam dan kehadiran
jaringan teroris (dan kamp-kamp pelatihan) yang dapat dihubungkan ke kelompok
Al-Qaeda militan. Hal ini menunjukkan adanya komunitas Muslim radikal yang
tidak hanya percaya Islam harus menjadi satu-satunya pedoman dalam kehidupan,
tetapi juga bersedia untuk menggunakan langkah-langkah ekstrem untuk reformasi
dan mencabut ketentuan yang ditetapkan.
Dengan lebih dari 200 juta penduduk Muslim, Indonesia mengandung populasi
Muslim terbesar di dunia. Jumlah ini kurang lebih sama dengan 13 persen dari
total jumlah Muslim di dunia. Namun, kelompok ini 200 juta orang tidak mewakili
kelompok yang homogen. Banyak berbagai dapat ditemukan dalam Islam Indonesia
serta persepsi mereka mengenai peran Islam harus bermain dalam politik dan
masyarakat Indonesia. Meskipun sekitar 88 persen dari penduduk Indonesia adalah
Muslim, Indonesia bukanlah negara Islam diperintah oleh hukum Islam. Seperti
kebanyakan orang Indonesia dapat diberi label Muslim moderat, mayoritas
sehingga menyetujui demokrasi sekuler dan masyarakat pluralis. Sikap ini
terlihat dalam hasil pemilihan legislatif 2009 ketika partai-partai politik
Islam yang menekankan pentingnya mendominasi sebuah, aliran Islam ketat di pemerintah
menerima beberapa orang. Partai politik sekuler yang mendukung demokrasi Islam
moderat dan toleran dan masyarakat, di sisi lain, terbukti sangat populer. Tapi
ini tidak menahan fakta bahwa Indonesia telah mengalami proses yang
berkelanjutan Islamisasi sejak agama ini pertama kali tiba di Nusantara
berabad-abad lalu. Namun, proses ini tidak harus bingung dengan Islamisme atau
radikalisme. Muslim radikal di Indonesia hanya merupakan minoritas kecil.
Radikal Link Indonesia ke Timur Tengah
Gerakan Islam radikal di Indonesia bukanlah fenomena baru tetapi telah hadir
sejak jaman kolonial. Alasan yang mendasari seorang Muslim untuk meradikalisasi
bisa (campuran) pengucilan politik, perasaan bahwa ketidakadilan besar yang
telah dilakukan terhadap masyarakat atau perasaan dominasi Barat (yang
menghasilkan kebencian Barat) Muslim. Hal ini juga penting untuk dicatat bahwa
gerakan radikal di Indonesia memiliki asal-usul mereka dalam gerakan reformasi
di Timur Tengah.
Wahhabisme, sebuah interpretasi yang sangat ketat yang bertujuan untuk kembali
ke sifat sejati dari Islam seperti yang dipraktekkan selama hari-hari Nabi
Muhammad, didirikan oleh Muhammad ibn Abd al-Wahhab di Arab Saudi pada
pertengahan abad ke-18. Pemurnian Islam akan memperkuat posisi Islam vis-a-vis
kekuatan-kekuatan Barat yang berkembang. Sekitar 1800, haji Indonesia yang tiba
kembali di Nusantara setelah haji ke Mekah, membawa dengan mereka ideologi
Wahhabi ini dan ditujukan untuk menghidupkan kembali Islam Indonesia. Bukan
kebetulan Wahhabisme itu menyebar melalui nusantara ketika Belanda mulai
memperluas peran politik mereka. Gerakan radikal lain yang akan mendapatkan
banyak pengaruh di Indonesia adalah Salafi-gerakan yang berasal dari Mesir pada
akhir abad ke-19. Ideologinya pada dasarnya sangat mirip dengan Wahhabisme.
Kontak dengan Timur Tengah adalah kunci dalam menyebarkan bentuk ketat Islam ke
Indonesia. Ketika Terusan Suez dibuka pada tahun 1869, yang secara signifikan
mempercepat perjalanan ke Timur Tengah, kontak dengan pusat-pusat keagamaan di
Timur Tengah semakin intensif. Tidak hanya peningkatan jumlah haji Indonesia
yang muncul, tetapi juga lebih banyak orang Indonesia pergi untuk belajar di
Mesir atau Arab Saudi. Sebaliknya migran dari Saudi mendirikan organisasi
Salafi-dipengaruhi di Nusantara, misalnya Al-Irsyad (Union untuk Reformasi dan
Bimbingan) dan Persatuan Islam (Persatuan Islam) di Jawa Barat, baik
mempromosikan pemurnian Islam.
Hari ini, link ini ke Timur Tengah masih sangat penting bagi gerakan radikal
Indonesia hadir (lihat di bawah), baik untuk dukungan ideologis dan untuk
pendanaan keuangan.
Terus Suppression di Independent Indonesia
Ketika Indonesia menjadi negara yang merdeka, kelompok Muslim ketat yang
menjadi kecewa. Dalam pemerintahan sekuler Soekarno tidak ada ruang untuk
sebuah negara Islam. Bagian dari komunitas Muslim Indonesia radikal bergabung
dengan pemberontakan Darul Islam yang bertujuan untuk pembentukan negara Islam
di Indonesia. Gerakan ini dimulai pada tahun 1940-an namun akhirnya hancur oleh
militer Indonesia pada tahun 1962. Namun, segmen Darul Islam bergerak di bawah
tanah dan akan memproduksi dan menginspirasi gerakan radikal lainnya.
Selama pemerintahan Orde Baru Soeharto suara Muslim radikal dan organisasi
didorong bawah tanah bahkan lebih parah sebagai aktivis Muslim dipenjara,
sering tanpa pengadilan. Mereka dianggap sebagai ancaman bagi kekuasaan politik
Soeharto. Beberapa, seperti Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir (pemimpin
Jama'ah Islamiyah), melarikan diri negara itu untuk mencari nafkah di Malaysia.
Kelompok-kelompok agama radikal yang tinggal di Indonesia terus bawah tanah dan
sebagian besar terkonsentrasi di sekitar kampus universitas di kota-kota besar.
Radikalisme Indonesia Datang ke Surface
Ketika Suharto terpaksa meninggalkan kantor pada tahun 1998 dan periode
Reformasi dimulai, itu tersirat ada pembatasan lebih politik untuk pembentukan
organisasi Muslim (radikal terinspirasi). Banyak aktivis Muslim dibebaskan dari
penjara dan radikal yang telah melarikan diri dari negara itu kembali. Alasan
lain yang menjelaskan munculnya aksi teror sejak jatuhnya Soeharto adalah bahwa
partai-partai politik Islam yang ingin mengubah Indonesia menjadi negara Islam
menderita kekalahan besar selama Pemilu 1999, hanya menerima sejumlah kecil relatif
dari penilaian. Mirip dengan Orde Baru, masa Reformasi tampaknya tidak menjadi
tanah subur bagi Islam politik, sehingga memaksa radikal untuk menggunakan
taktik ekstrim untuk mencoba untuk membuat perbedaan.
Beberapa organisasi radikal kontemporer yang telah di sorotan sejak masa
Reformasi adalah Majelis Mujahidin Indonesia (Dewan Fighters Jihad Indonesia),
Front Pembela Islam (Front Pembela Islam), yang Jama'ah Islamiyah (Kongregasi
Islam) dan ( sudah bubar) Laskar Jihad (Warriors of Jihad). Masing-masing
organisasi ini berbagi tujuan untuk pelaksanaan hukum syariah, yang anti-Barat
dan anggotanya tidak menahan diri dari menggunakan kekerasan. Fitur lain
organisasi radikal berbagi adalah latar belakang Arab pendirinya.
The Jama'ah Islamiyah berada di belakang beberapa serangan paling ganas dalam
15 tahun terakhir dan dianggap sebagai bertanggung jawab untuk memperkenalkan
sebuah fenomena baru ke Indonesia: serangan bom. Pada 25 Desember 2000 bom
meledak di 11 gereja di seluruh Indonesia, menewaskan 19 orang. Yang paling
terkenal mungkin adalah pemboman Bali tahun 2002 ketika dua bom meledak hampir
bersamaan di sebuah klub malam, menewaskan 202 orang, kebanyakan dari mereka
adalah wisatawan asing. Pada tahun 2005 pemboman lain terjadi di Bali, menewaskan
dua puluh orang. Pada tahun 2003 JW Marriott Hotel di Jakarta dibom menewaskan
12 orang dan tahun 2009 pemboman lain di JW Marriott Hotel bersama-sama dengan
bom di Ritz Carlton Hotel di Jakarta menewaskan sembilan orang secara total.
Daftar ini membuat Jama'ah Islamiyah satu dari kelompok teroris paling kejam di
dunia.
Perkembangan terbaru di Radikal Islam di Indonesia
Menurut polisi Indonesia, 55 tersangka teroris telah tewas dan 583 ditangkap
selama periode 2000-2010. Pemerintah Indonesia menekankan pentingnya memerangi
sel-sel teroris di dalam negeri dan menemukan dirinya dalam kerja sama yang
erat dengan Amerika Serikat dan Polisi Federal Australia untuk menggulingkan
teroris. Pada tahun 2003 skuad kontra-terorisme khusus, yang disebut Densus 88,
didirikan (dan merupakan bagian dari Kepolisian Negara Republik Indonesia).
Densus 88 didanai oleh pemerintah Amerika dan dilatih oleh CIA, FBI dan US
Secret Service. Unit ini telah sukses besar dalam melemahkan jaringan Jama'ah
Islamiyah.
Berbagai sel-sel teroris di Indonesia saat ini tampaknya beroperasi secara
independen dari masing-masing kelompok sempalan membentuk lainnya. Ini adalah
perubahan dari masa lalu; Muslim radikal sekarang lebih memilih untuk
beroperasi di jaringan yang lebih kecil bukan yang besar (pada skala nasional)
karena jauh lebih sulit bagi pihak berwenang untuk melacak jaringan yang lebih
kecil tersebut. Perbedaan lain dengan masa lalu adalah bahwa semua sel-sel
teroris tersebut tampaknya memiliki mengubah taktik mengenai target serangan
mereka. Sebelumnya, target terutama terdiri dari orang-orang Barat atau asing
dan simbol dari dunia barat, seperti kedutaan besar dan klub malam tertentu
atau hotel yang sering dikunjungi atau dimiliki oleh orang Barat. Sejak 2010,
bagaimanapun, semakin banyak serangan yang diarahkan simbol negara Indonesia.
Pada tahun 2011 beberapa serangan terhadap polisi Indonesia terjadi di seluruh
Indonesia, mungkin sebagai reaksi terhadap banyak penangkapan yang dilakukan
oleh Densus 88.
Organisasi ekstremis lain baru di Indonesia adalah Jemaah Anshorut Tauhid
(JAT). Perusahaan ini didirikan oleh Abu Bakar Ba'asyir (co-pendiri Jemaah
Islamiyah) pada tahun 2008 dan telah ditambahkan ke daftar teror AS pada 2012
untuk beberapa serangan terkoordinasi terhadap warga sipil Indonesia, polisi
dan personil militer. Pada bulan September 2011 seorang pembom bunuh diri dari
JAT yang meledakkan bom di sebuah gereja di Jawa Tengah, melukai beberapa
orang. Polisi Indonesia juga telah menemukan plot bunuh diri tambahan (di Indonesia)
oleh kelompok ini.
Aceh Training Camp
Pada tahun 2010, pemerintah Indonesia telah sukses wajar dalam memerangi
jaringan teroris. Densus 88 tewas teroris yang paling dicari di negara itu,
Dulmatin, pada Maret 2010. Dulmatin ini diduga menjadi dalang pemboman Bali
tahun 2002. Hampir satu bulan sebelumnya, Densus 88 menemukan sebuah kamp
pelatihan paramiliter di hutan Aceh di mana - diduga - serangan disusun
terhadap presiden Indonesia dan terhadap orang asing dan lain kafir '. Dulmatin
telah menjadi salah satu pemimpin ini kamp pelatihan di Aceh. Pada bulan Juni
2010, dalang lain dari kamp pelatihan Aceh ditangkap dan dijatuhi hukuman
sepuluh tahun penjara pada tahun 2011. Selama tahun 2010, 51 anggota ini kamp
pelatihan di Aceh ditangkap dan didakwa. Pada bulan Agustus 2010, Densus 88
menangkap Abu Bakar Ba'asyir yang diduga membantu mendanai kamp pelatihan Aceh.
Dia dijatuhi hukuman 15 tahun penjara. Terakhir, pada bulan Desember 2010, Abu
Tholut ditangkap oleh Densus 88 karena keterlibatannya dalam menyelenggarakan
kamp pelatihan ini.
Berikut adalah daftar dari insiden kekerasan yang melibatkan kelompok Muslim
radikal:
• Pada bulan April 2011, seorang pembom bunuh diri yang terluka 30 orang
(sebagian besar polisi) di sebuah masjid di kompleks polisi di Cirebon (Jawa
Barat).
• Pada bulan September 2011, seorang pembom bunuh diri yang terluka 22 gereja
Indonesia di Solo (Jawa Tengah).
• Pada bulan Maret 2012, Densus 88 tewas 5 radikal Muslim (di Bali) yang
berencana perampokan untuk membiayai serangan teror di masa depan.
• Pada bulan September 2012, Densus 88 menangkap sekelompok 11 radikal Muslim
di Solo dan menyita bom rakitan yang diasumsikan akan digunakan untuk serangan
terhadap polisi Indonesia dan gedung parlemen.
• Pada awal Januari 2013, Densus 88 menewaskan lima tersangka teroris Muslim di
Bima dan Dompu di Pulau Sumbawa (Nusa Tenggara Barat). Diduga, ini tersangka
tewas sedang menyiapkan serangan teroris pada target di Sumbawa.
• Pada bulan Mei tahun 2013, Densus 88 menewaskan tujuh dan menangkap 20
tersangka teroris dalam penggerebekan di seluruh Jawa. Rencana untuk membom
kedutaan Myanmar satu minggu sebelumnya terungkap.
Meskipun ada beberapa perkembangan positif dalam pertempuran melawan
radikalisme Islam di Indonesia, perlu dicatat bahwa ideologi radikal akan tetap
berakar dalam pikiran sebagian kecil dari masyarakat Muslim di Indonesia selama
ada pemerintah Indonesia yang sekuler. Dan bagian dari komunitas radikal akan
menggunakan kekerasan untuk mewujudkan cita-cita mereka. Sejarah telah
menunjukkan bahwa tempat di mana banyak orang berkumpul Barat dapat menjadi
sasaran kekerasan mereka. Kami akan karena itu selalu menyarankan orang-orang
untuk menghindari tempat-tempat yang dapat dianggap simbol dari dunia barat,
seperti gantungan mewah Barat, klub disko, dll
Agama Kristen & Katolik di Indonesia
Meskipun agama Kristen adalah agama terbesar
kedua di Indonesia, umatnya hanya menjadi minoritas di Indonesia. Sekitar 10%
dari populasi Indonesia terdaftar sebagai umat Kristen, sebuah persentase
secara absolut mencakup kira-kira 23,5 juta orang. Masyarakat Indonesia
memiliki kebiasaan membedakan agama Katolik dari agama Kristen. Bagi masyarakat
Indonesia, istilah Kristen atau Kekristenan biasanya menunjuk pada agama
Kristen Protestan, sementara agama Katolik dianggap sebagai agama yang berbeda.
Sesuai dengan tradisi Barat, dalam artikel ini kami menggunakan istilah
Kekristenan (atau agama Kristen atau umat Kristen) untuk merujuk kepada agama
Kristen Protestan dan agama Katolik karena inti-inti ajaran keduanya sama:
kepercayaan kepada Yesus Kristus sebagai Anak Allah.
Mayoritas umat Kristen Indonesia adalah umat
Protestan. Dari 23,5 juta total penduduk Indonesia beragama Kristen, sekitar
16,5 juta orang mengikuti ajaran-ajaran Protestan, sementara 7 juta orang
lainnya mengikuti ajaran-ajaran Katolik. Komunitas-komunitas Kristen tersebar
secara tidak merata di seluruh negeri. Namun, seperti yang bisa dilihat dari
peta di bawah, kebanyakan dari komunitas ini bertempat tinggal di wilayah Timur
Indonesia yang memiliki kepadatan penduduk lebih rendah.
Lokasi-lokasi dengan komunitas-komunitas Kristen
yang berjumlah cukup besar:
1. Sumatra Utara
2. Kalimantan
3. Sulawesi Utara
4. Sulawesi Barat
5. Maluku
6. Papua
7. Flores
8. Sumba
9. Timor Barat
Kedatangan Kekristenan di Nusantara
Sumber pertama yang diketahui mengenai kehadiran
agama Kristen di Nusantara bisa ditemukan di karya ensikopledi oleh Abu Salih
Al-Armini, seorang Kristen Mesir yang hidup di abad ke-12. Menurut tulisannya,
ada sejumlah gereja Nestorian di Sumatra Barat pada saat itu yang berlokasi
dekat dengan sebuah tempat produksi kayu kamper. Namun, para ilmuwan di masa
selanjutnya berargumen bahwa Al-Armini mungkin telah salah mencatat lokasi ini
dan lokasi sebenarnya berada di sebuah kota di India.
Setelah Portugis menaklukkan Malaka (yang kini
disebut Malaysia) di tahun 1511, mereka berlayar lebih jauh ke arah Timur dan
menemukan tempat asal rempah-rempah yang diidam-idamkan yaitu Kepulauan Maluku
di mana Sultan Ternate berkuasa. Di sini, Portugis mendirikan tempat pemukiman
kecil. Pada awalnya, hubungan antara orang Portugis yang beragama Katolik dan
penduduk Muslim di Ternate berjalan harmonis karena kedua pihak menyadari
keuntungan-keuntungan kerjasama perdagangan. Dari tahun 1534 dan selanjutnya,
para pendeta berkebangsaan Portugis mulai aktif menyebarkan ajaran Katolik
kepada penduduk asli dan pada akhir abad ke-16 sekitar 20% penduduk Maluku
bagian selatan diklasifikasikan sebagai umat Katolik. Dua lokasi lain, keduanya
di wilayah Timur Indonesia, tempat orang-orang Portugis mendirikan
tempat-tempat pemukiman umat Katolik berada di Larantuka (di Pulau Flores) dan
Dili (di Pulau Timor). Namun, terjadi bentrokan antara orang-orang Portugis
(yang ingin memonopoli perdagangan rempah-rempah) dan penduduk Ternate. Hal ini
secara serius mengurangi pengaruh orang-orang Portugis di Kepulauan Maluku.
Orang-orang Belanda dari
aliran Protestan-Calvinis mendirikan tempat pemukiman pertama mereka di Ternate
pada tahun 1607. Mereka juga ingin memonopoli perdagangan rempah-rempah namun
jauh lebih berhasil dibandingkan orang-orang Portugis dalam mencapai ambisi
mereka. Selama dua abad selanjutnya, Kesultanan Ternate secara bertahap
kehilangan kekuasaannya, sementara ketiadaan pengaruh Portugis juga menimbulkan
konsekuensi bagi penyebaran kekristenan di wilayah itu. Pada awalnya,
orang-orang Belanda hanya memiliki sedikit minat untuk menyebarkan Injil. Di
beberapa wilayah yang dikuasai
perusahaan
dagang Belanda yaitu VOC (
Vereenigde
Oost-Indische Compagnie) orang Belanda memang mendukung
aktivitas-aktivitas misionaris. Namun, di kebanyakan kasus kegiatan misionaris
terbatas pada tugas-tugas pastoral untuk komunitas-komunitas (yang sudah)
Kristen yang kebanyakan terdiri dari orang-orang Eropa. Tidak ada usaha
penyebaran agama besar-besaran yang didukung di wilayah-wilayah di bawah
kontrol Belanda. Namun, satu kebijakan cukup jelas: hanya Kekristenan aliran Protestan-Calvinis
Belanda yang diizinkan. Imam-imam Katolik yang sebelumnya menyebarkan
ajaran-ajaran Katolik diusir. Oleh karena itu, bisa disimpulkan bahwa proses
penyebaran ajaran Kristen, yang dimulai oleh orang-orang Portugis, telah
(hampir) berhenti sama sekali ketika Belanda berkuasa di
periode
VOC (1602-1798).
Penyebaran Kekristenan selama Periode Penjajahan
Pada abad ke-19 ketika Kerajaan Belanda mendapat
kontrol atas wilayah yang sebelumnya dikuasai VOC, aktivitas-aktivitas
misionaris masih tetap tidak didukung oleh pemerintah kolonial. Gereja Reform
Belanda adalah agen pemerintah yang hanya berfokus melayani kebutuhan religius
dari warganegara Belanda (yang sudah) memeluk aliran Protestan. Kendati begitu,
sekelompok kecil dari anggotanya melakukan penyebaran ajaran-ajaran Protestan
dan mendirikan gereja-gereja dan sekolah-sekolah di Hindia Belanda. Namun,
insentif skala besar yang nyata untuk penyebaran agama bagi penduduk asli
datang dari organisasi-organisasi baru yang datang dari Eropa di pertengahan
kedua abad ke-18 dan abad ke-19. Institusi-institusi seperti Serikat Misionaris
Belanda (Nederlandsch Zendeling Genootschap) dan Kelompok
Misionaris Rhenish (Rheinische Missionsgesellschaft)
dari Jerman diizinkan untuk menyebarkan ajarannya di Hindia Belanda. Karena
Kerajaan Belanda di Eropa telah mulai menjadi sekuler, pemerintah kolonial juga
tidak bisa mencegah misionaris-misionaris Katolik melakukan
aktivitas-aktivitasnya di Hindia Belanda. Pemisahan antara gereja dan negara
berarti negara harus mengambil sikap netral mengenai isu-isu agama, karenanya
aktivitas-aktivitas misionaris diserahkan pada sektor non-pemerintahan.
Sekalipun pada tahun 1900,
aktivitas-aktivitas misionaris telah terbentuk di seluruh wilayah koloni
(kecuali untuk wilayah-wilayah Muslim di Aceh dan Sumatra Barat), jumlah umat
Kristen tidak banyak bertambah dibandingkan satu abad sebelumnya. Hanya dua
wilayah yang menunjukkan pertambahan besar untuk jumlah penduduk asli pengikut
ajaran Protestan, yaitu Minahasa (Sulawesi Selatan) dan Tapanuli (Sumatra
Utara). 'Kegagalan' umum penyebaran agama Kristen kepada penduduk asli dalam
skala besar terutama disebabkan karena kurangnya kemampuan finansial,
terbatasnya jumlah pekerja, dan pengunaan metode-metode yang tidak tepat.
Setelah tahun 1900, ekspansi wilayah oleh Pemerintah Kolonial telah hampir
sukses seluruhnya dan
politik
etis (bertujuan meningkatkan standar hidup penduduk asli)
diperkenalkan. Kebijakan baru ini mengimplikasikan dampak lebih langsung kepada
penduduk asli yang - antara lain - menyebabkan kedatangan (khususnya) banyak
umat Katolik dari Belanda. Dengan lebih banyak sumberdaya manusia dan dukungan
keuangan, aktivitas-aktivitas misionaris Katolik bergerak ke wilayah-wilayah
baru dan jumlah penduduk asli pengikut ajaran Katolik turut bertambah.
Kelompok-kelompok Protestan didukung oleh sejumah organisasi dari wilayah
Amerika Utara yang datang ke Hindia Belanda pada pertengahan pertama abad
ke-20. Pada umumnya, pendekatan misionaris di koloni Belanda cukup
terpecah-percah. Pada tahun 1938, diambil langkah-langkah untuk mendirikan Dewan
Kristen Nasional di Hindia Belanda namun Perang Dunia II dan dilanjutkan dengan
kemerdekaan Indonesia mengakhiri usaha ini.
Kekristenan di Indonesia Sekarang
Kendati ada sejumlah wilayah di Indonesia yang
memiliki masyarat yang jelas mayoritas Kristen (lihat peta di atas), secara
keseluruhan, agama Kristen hanya menjadi agama minoritas di Indonesia. Oleh
karena itu, umat Kristen memiliki posisi sosial politik yang agak lemah di
negara ini dengan pengecualian di beberapa wilayah mayoritas Kristen (di wilayah-wilayah
ini umat Muslim terkadang harus menghadapi tindakan-tindakan diskriminatif).
Posisi umum yang lemah ini membuat sebagian besar umat Kristen Indonesia
menyadari posisinya sebagai minoritas dan karenanya mereka berusaha menjalin
hubungan baik dengan umat Muslim. Meskipun begitu, mengenai rasa kebangsaan
Indonesia, umat Kristen sama kuatnya dalam kebanggaan nasionalis seperti umat
Muslim yang menjadi mayoritas. Umat Kristen juga sangat mendukung penjagaan
persatuan Indonesia.
Dalam beberapa dekade terakhir, ada banyak
catatan kasus mengenai serangan-serangan kelompok-kelompok radikal Muslim
melawan gereja-gereja dan umat Kristen. Hal ini menimbulkan rasa takut di dalam
komunitas Kristen Indonesia. Insiden-insiden ini terutama terjadi di pulau Jawa
tempat umat Kristen menjadi minoritas. Sayangnya, situasi ini sepertinya akan
terus berlanjut. Namun, serangan-serangan ini bisa dijelaskan sebagai ekspresi
ketakutan dan frustasi dari para pelakunya karena Indonesia (dianggap oleh para
pelaku) telah mengalami proses 'Kristenisasi' setelah masa kemerdekaan.
Sebetulnya, akar masalah ini ada di dalam sejarah yang mencatat bahwa kelompok
elit Kristen yang cukup besar (yang diperlengkapi dengan pendidikan dan
perekonomian yang lebih baik) diperlakukan lebih baik oleh Belanda pada era
kolonial. Setelah kemerdekaan Indonesia, kelompok elit Kristen menjadi kekuatan
yang berpengaruh dalam perpolitikan (termasuk di dalam militer) dan
perekonomian Indonesia baik pada masa pemerintahan Soekarno maupun Suharto
(pada pertengahan awal rezimnya). Alasan utama dari situasi paradoks ini adalah
karena umat Kristen - sebagai kelompok minoritas - tidak merupakan ancaman
besar. Pada tahun 1950an dan 1960an terjadi pertarungan kekuasaan antara
kelompok nasionalis, komunis, dan golongon Islam, sementara waktu Suharto
mengambil alih kekuasaan pada tahun 1966 (dan kelompok komunis dihapuskan),
tetap perlu upaya besar dari Pemerintah untuk mengurangi peran politik Islam di
dalam masyarakat Indonesia. Di dekade-dekade kekacauan dan ketidakpercayaan,
umat Kristen dianggap sebagai sekutu (karena tidak memiliki agenda tersembunyi)
dalam menghadapi kekuatan-kekuatan tandingan di dalam masyarakat. Kondisi ini
berubah di akhir 1980an dan 1990an ketika tidak hanya kelompok Islam aliran
keras yang menolak Pemerintah tetapi juga kelompok Islam moderat mulai
mengkritik Pemerintah dan menuntut demokrasi. Untuk meraih lebih banyak
dukungan populer, Suharto (seorang Muslim tradisional yang tidak terlalu
religius) memutuskan menerapkan kebijakan-kebijakan yang lebih pro-Muslim,
termasuk menempatkan lebih banyak orang Islam di posisi pucuk pemerintahan
(termasuk di militer). Ini menyebabkan penurunan pengaruh umat Kristen dalam
politik nasional.
Di masyarakat Indonesia, umat Muslim dan Kristen
hidup dalam keharmonisan sosial. Antara 1997 sampai 2004 (pada saat dan setelah
kejatuhan Suharto) sejumlah wilayah di Indonesia diserang oleh insiden-insiden
kekerasan mengerikan yang diberi label 'konflik agama'. Namun, salah apabila
menganggap konflik-konflik ini hanya masalah agama semata. Kejatuhan Suharto
membuka kompetisi sengit untuk mendapatkan kekuasaan-kekuasaan politik,
ekonomi, dan sosial di daerah-daerah Indonesia; dan juga di antara
kelompok-kelompok beragama sama. Dikombinasikan dengan pemerintahan pusat yang
lemah dan tidak terorganisir (termasuk militer nasional) karena
Krisis
Keuangan Asia, konflik-konflik ini mendapat kesempatan untuk
membesar dan menjadi semakin lama periodenya. Ada juga laporan-laporan yang
mengklaim militer Indonesia justru mendorong berlanjutnya konflik-konflik ini
untuk menciptakan kekacauan di dalam negeri supaya bisa mendapatkan lebih
banyak kekuatan politik.
Agama Hindu di Indonesia
Agama Hindu adalah agama terbesar ketiga di
Indonesia. Pada saat ini, sekitar 1,7% dari penduduk Indonesia menganut agama
Hindu, atau mencakup sekitar empat juta orang dari total jumlah penduduk
Indonesia yang mencapai 250 juta orang. Saat ini mayoritas penduduk beragama
Hindu di Indonesia tinggal di pulau Bali yang terkenal karena kebudayaan
Hindunya (dan pemandangan alamnya). Kontras dengan wilayah-wilayah lain di
Indonesia - dan karena alasan-alasan yang tidak diketahui - kekuatan Islam
tidak cukup kuat untuk menghancurkan penghalang-penghalang yang tinggi dari
budaya Bali, sehingga pulau ini tetap memiliki mayoritas penduduk beragama
Hindu sampai saat ini.
Lokasi-lokasi di Indonesia tempat tinggal
komunitas-komunitas Hindu yang relatif besar:
1. Bali
2. Sulawesi (Tengah, Selatan dan Tenggara)
3. Kalimantan Tengah
4. Sumatra Selatan (Lampung)
Kedatangan Agama Hindu di Nusantara
Sebelum kedatangan agama Hindu dan Buddha, para
penduduk asli nusantara mempraktekkan berbagai jenis animisme. Namun waktu
agama Hindu datang di wilayah barat nusantara melalui sebuah jalur perdagangan
yang dimulai dari Cina sampai ke India pada abad pertama setelah Masehi, para
pemimpin lokal menganggap agama baru ini sebagai sebuah aset untuk kekuasaan
mereka sehingga mereka mulai merepresentasikan diri mereka sebagai dewa-dewi
Hindu, dan dengan cara itu meningkatkan status mereka. Kepercayaan-kepercayaan
animisme yang ada sebelumnya diduga jadi bercampur dengan agama Hindu, dan
menghasilkan agama Hindu jenis perpaduan baru yang mengandung ciri-ciri unik,
dan karena itu membuatnya berbeda dengan agama Hindu di India. Misalnya, sistem
kasta tak pernah diterapkan secara ketat dalam sejarah nusantara.
Sejumlah kerajaan-kerajaan
Hindu yang besar didirikan di Kalimantan, Sumatra dan Jawa antara abad ke-5
sampai abad ke-13; beberapa di antaranya juga menyerap pengaruh agama Buddha.
Kerajaan besar terakhir di wilayah nusantara, Majapahit (berkuasa sekitar
1293-1500), menunjukkan percampuran yang menarik antara Hindu, Buddha, dan kepercayaan
animisme. Namun setelah
Islam
menjadi kekuatan sosio-politik sejak abad ke-13, agama Hindu secara bertahap
memudar menghadapi agama baru yang cepat berkembang ini. Pengecualian hanya
terjadi di Bali, di pulau inilah penguasa dari Majapahit (berasal dari Jawa
Timur) mengungsi dari kekuatan-kekuatan Islam yang mengalahkannya di Jawa.
Keberagaman Agama Hindu
Seperti yang telah diindikasikan oleh peta di
atas, komunitas-komunitas Hindu yang relatif besar bertempat tinggal di Bali,
Kalimantan, Sulawesi dan Sumatra (ada kantung-kantung desa-desa Hindu yang bisa
ditemukan di Jawa Timur). Agama Hindu menjadi bercampur dengan
kepercayaan-kepercayaan animisme yang sudah ada di nusantara dan karena itu
kita masih tetap bisa menemukan keanekaragaman kepercayaan Hindu sekarang.
Bahkan, di pulau kecil seperti Bali pun, ada tingkat perbedaan yang menarik
antar wilayah di Bali. Di beberapa kasus, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur,
agama Hindu bercampur dengan tradisi-tradisi Islam.
Kendati begitu, tidak semua penduduk Indonesia
yang secara statistik beragama Hindu adalah betul-betul penganut agama Hindu.
Menurut hukum Indonesia hanya 6 agama besar yang dikenali sebagai agama-agama
resmi di negara ini, yaitu
Islam,
Kristen,
Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Terlebih lagi, semua penduduk
Indonesia diwajibkan untuk memilih salah satu dari enam agama ini sebagai agama
mereka (ada data identitas agama yang wajib diisi dan didokumentasikan di Kartu
Tanda Penduduk). Untuk kelompok-kelompok yang masih tetap mempraktekkan
animisme, hal ini menjadi sebuah masalah yang serius karena animisme bukanlah
sebuah pilihan agama yang diberikan oleh Pemerintah Indonesia.
Komunitas-komunitas ini cenderung memilih agama Hindu sebagai bagian dari
identitas di Kartu Tanda Penduduk mereka karena agama Hindu lebih fleksibel
dalam memasukkan unsur-unsur animisme dibandingkan agama-agama lain. Beberapa
contoh adalah suku Tana Toraja di Sulawesi, suku Dayak di Kalimantan, dan suku
Batak Karo di Sumatra.
Kebudaan dan seni Jawa
sangat dipengaruhi oleh periode sejarah Hindu-Buddha. Pada saat ini, pengaruh
tersebut masih tampak dan dilestarikan melalui pertunjukkan-pertunjukkan wayang
yang terkenal, pelestarian dari sejumlah candi-candi yang indah (Borobudur dan
Prambanan adalah yang paling terkenal), banyak kata-kata yang berasal dari
bahasa Sansekerta yang digunakan dalam bahasa-bahasa lokal (dan juga bahasa
Indonesia), dan tradisi-tradisi rakyat yang menjunjung tinggi
kepercayaan-kepercayaan Hindu dan kepercayaan-kepercayaan sebelumnya di dalam
sebagian komunitas Jawa, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Tradisi-tradisi Jawa ini dikenal dengan nama kejawen.
Agama Hindu di Bali
Bali, salah satu tujuan utama pariwisata di
Indonesia, tidak hanya terkenal karena pantai-pantainya, pemandangan alam, dan
hamparan sawah padi yang indah namun juga karena tradisi kebudayaannya yang
unik: tradisi agama Hindu Bali yng terdiri terutama dari seni dan ritual. Agama
ini agak berbeda dengan agama Hindu yang dipraktekkan di India karena - sebelum
agama Hindu tiba di Bali - agama ini mengalami perubahan-perubahan radikal di
Jawa. Salah satu ciri yang penting adalah penyatuan kepercayaan Hindu (atau
tepatnya kepercayaan kepada Dewa Siwa/Shivaisme) dengan agama Buddha. Ciri khas
ini masih tampak sampai saat ini, contohnya, beberapa tulisan agama Buddha
masih memiliki peran penting dalam agama Hindu Bali dan pulau ini memiliki
sistem imamat yang mencakup orang-orang beragama Hindu dan beragama Buddha.
Basis teologis dari Hindu Bali berasal dari
filosofi India sementara kepercayaan-kepercayaan animisme menjadi dasar dari
berbagai ritual. sebuah kepercayaan penting dari Hindu Bali adalah bahwa
peristiwa-peristiwa alam dipengaruhi oleh para roh. Oleh karena itu, sesajen,
yang dibuat dari hasil-hasil pertanian, dipersembahkan kepada roh-roh. Gunung
Agung (gunung tertinggi di Bali) dipercaya sebagai rumah para dewata dan para
leluhur orang Bali. Oleh karena itu, gunung ini disebut sebagai 'gunung ibu'
dan sangat suci bagi orang Bali. Simbol utama agama Hindu Bali adalah Swastika
atau 'roda matahari', bentuknya seperti palang yang miring dengan lengan-lengan
di sisi kanan tiap cabang. Simbol Swastika juga digunakan secara luas dalam
agama-agama di India dan dipercaya bisa membangkitkan 'shakti' atau kekuatan
suci pemberdayaan.
Korupsi di Indonesia
Singkatan 'KKN' adalah salah satu singkatan yang
akrab bagi masyarakat Indonesia. Setiap kali ada protes anti-pemerintah,
singkatan KKN ini dapat didengar dan diteriakkan oleh para demonstran atau
ditulis di atas spanduk-spanduk. KKN ini mengacu ke korupsi, kolusi dan
nepotisme dan - yang banyak mencemaskan mayoritas penduduk Indonesia - telah
menjadi bagian intrinsik atau sudah mendarah-daging di pemerintah Indonesia,
mungkin mencapai puncaknya selama
rezim
Orde Baru Presiden Suharto (1965-1998). Masalah korupsi politik di
Indonesia terus menjadi berita utama (headline) setiap hari di media Indonesia
dan menimbulkan banyak perdebatan panas dan diskusi sengit. Di kalangan
akademik para cendekiawan telah secara terus-menerus mencari jawaban atas
pertanyaan apakah korupsi ini sudah memiliki akarnya di masyarakat tradisional
pra-kolonial,
zaman
penjajahan Belanda, pendudukan Jepang yang relatif singkat
(1942-1945) atau pemerintah Indonesia yang merdeka berikutnya. Meskipun demikian,
jawaban tegas belum ditemukan. Untuk masa-masa mendatang yang entah sampai
kapan, harus diterima bahwa korupsi terjadi dalam domain politik, hukum dan
korporasi di Indonesia (meskipun ada beberapa tanda-tanda, yang dibahas di
bawah, yang mengarah ke perbaikan situasi).
Kerangka historis korupsi di Indonesia
Meskipun terdapat banyak contoh korupsi dalam
sejarah sebelumnya di Indonesia, kita ambil sebagai titik awal kita rezim Orde
Baru Presiden Suharto (1965-1998), yang ditandai dengan
pertumbuhan
ekonomi mengesankan yang cepat dan berkelanjutan (dengan Produk
Nasional Bruto rata-rata 6.7 persen per tahun antara tahun 1965 dan 1996),
tetapi juga terkenal karena sifat korupnya. Suharto memanfaatkan sistem
patronase untuk mendapatkan loyalitas bawahannya, anggota elit nasional dan
kritikus terkemuka. Dalam hal pertukaran peluang bisnis atau posisi politik
Suharto bisa mengandalkan dukungan mereka. Dengan Angkatan Bersenjata (termasuk
aparat intelijen) dan pendapatan sumber daya sangat besar (yang berasal dari
besarnya produksi minyak pada 1970-an) yang dia gunakan, dia meraih kedudukan
puncak dalam sistem politik dan ekonomi nasional, menyerupai kekuatan patrimonial
penguasa tradisional di masa pra-kolonial dulu.
Dalam membuat kebijakan ekonomi, Suharto
mengandalkan saran dan dukungan dari sekelompok kecil orang kepercayaan di
sekitarnya. Kelompok ini terdiri dari tiga kategori: para teknokrat yang
dilatih di Amerika Serikat (USA-trained technocrats),
nasionalis ekonomi (yang mendukung gagasan peranan besar pemerintah dalam
perekonomian) dan kroni kapitalis (yang terdiri dari anggota keluarga dan
beberapa konglomerat etnis Cina kaya). Pada saat itu, semua kategori ini
dituduh korup namun sebagian besar penekanan mengarah ke lingkaran kecil kroni
kapitalis (terutama anak-anak Suharto) yang merupakan - banyak tidak disukai
oleh pengusaha nasional dan masyarakat pada umumnya - penerima manfaat utama
dari skema privatisasi negara dan sering menjalankan monopoli bisnis besar yang
beroperasi dengan sedikit pengawasan atau pemantauan.
Salah satu karakteristik penting korupsi selama
Orde Baru Suharto adalah korupsi tersebut agak terpusat dan dapat diprediksi.
Investor dan pengusaha bisa memprediksi jumlah uang yang harus mereka sisihkan
untuk biaya-biaya 'tambahan' dan harus mengetahui mana orang-orang yang akan
mereka suap
. Tapi juga ada taktik untuk
memasukkan kroni Suharto dalam kegiatan bisnis untuk mengurangi ketidakpastian
yang disebabkan oleh birokrasi yang amat ruwet. Pola yang sama ini ada di
tingkat lokal di mana gubernur dan komandan militer setempat menikmati hak
istimewa yang sama namun selalu menyadari pantulan yang lebih tinggi jika
mereka mendorong terlalu jauh. Dengan era baru
Reformasi,
yang dimulai setelah jatuhnya Suharto pada tahun 1998, situasi ini berubah.
Desentralisasi Korupsi Indonesia
Situasi berubah dengan drastis ketika setelah
lengsernya Suharto pada tahun 1998 program desentralisasi daerah yang ambisius
dimulai pada tahun 2001 yang meramalkan pemindahan otonomi administrasi dari
Jakarta ke kabupaten (bukan ke provinsi). Program baru ini sejalan dengan
tuntutan masyarakat tetapi memiliki efek samping negatif pada pola distribusi
korupsi. Suap atau penyuapan tidak lagi 'dikoordinasikan' seperti yang telah
terjadi di masa lalu tapi menjadi terpecah-pecah dan tidak jelas.
Desentralisasi berarti bahwa pemerintah daerah mulai membuat peraturan daerah
baru (sering tidak dirancang dengan ketat) yang memungkinkan para pejabat
lainnya dari berbagai tingkat pemerintah dan lembaga lainnya untuk berbaur dan
meminta tambahan keuangan.
Menyadari kebutuhan mendesak untuk mengatasi
korupsi (karena merugikan investasi dan umumnya mendorong adanya ketidakadilan
terus-menerus dalam masyarakat), sebuah badan pemerintah baru didirikan pada
tahun 2003. Lembaga pemerintah ini, Komisi Pemberantasan Korupsi (disingkat
KPK), ditugaskan untuk membebaskan Indonesia dari korupsi dengan menyelidiki
dan mengusut kasus-kasus korupsi serta memantau tata kelola negara (yang
menerima kekuasaan yang luas). Namun, opini-opini mengenai prestasinya masih
diperdebatkan. Para pengkritik menekankan bahwa KPK lebih fokus untuk menangani
tokoh profil yang lebih rendah (tokoh kecil dan tidak penting), meskipun
baru-baru ini ada beberapa kasus tokoh profil tinggi seperti pejabat kepolisian
berpangkat tinggi, hakim dan bendahara partai dari Partai Demokrat-nya Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono yang telah diciduk. Sebagian keberhasilan dan
keberanian KPK ini telah memicu perlawanan - sebagian besar dari orang-orang
yang telah diusut atau diinterogasi - mengklaim bahwa KPK sendiri adalah
lembaga yang korup. Dalam beberapa tahun terakhir sejumlah skandal telah muncul
di mana anggota KPK adalah - konon - dijebak oleh petugas polisi senior dan
ditangkap untuk melemahkan kewenangan KPK.
Selama dua kali pemilu presiden yang lalu,
Presiden Yudhoyono telah memprofilkan dirinya sebagai orang yang mengabdi dan
bertekad mengatasi korupsi di Indonesia, khususnya mengenai korupsi di kalangan
pemerintah. Hal ini membuatnya sangat populer sekitar waktu pemilihan umum
tahun 2009. Namun, merajalelanya korupsi politik dan beberapa kasus gratifikasi
pejabat tinggi dalam pemerintahan telah menyebabkan peringkat-nya merosot tajam
setelah tahun 2010. Pukulan lain pada wibawa Presiden Yudhoyono adalah masuknya
Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan Indonesia dari tahun 2005 sampai tahun
2010. Sri Mulyani, yang memiliki reputasi integritas tinggi (meskipun sedikit
dinodai oleh skandal Bank Century), ditugasi untuk mereformasi kantor pajak dan
bea cukai yang korup di Indonesia. Dia cukup sukses dan bisa mengandalkan
dukungan dari banyak orang Indonesia. Tapi kinerjanya juga menciptakan musuh.
Pada Mei 2010 ia meninggalkan politik Indonesia untuk menjadi Direktur
Pelaksana World Grup Bank. Meskipun demikian, spekulasi yang menyebar luas,
adalah bahwa pengunduran dirinya disebabkan tekanan politik dari pengusaha yang
memiliki koneksi politik yang tinggi. Secara khusus, Grup Bakrie sering
disebutkan dalam media Indonesia dalam hubungan ini (Aburizal Bakrie menjadi
ketua partai Golkar, anggota koalisi pemerintahan Yudhoyono). Kritikus
menyatakan bahwa Yudhoyono seharusnya mendukung menteri keuangan ini.
Selain itu, beberapa kasus korupsi - yang
melibatkan anggota partai Yudhoyono - telah terjadi dalam beberapa tahun
terakhir dan sangat merusak reputasi Partai Demokrat maupun Yudhoyono sendiri
(yang dianggap oleh beberapa pihak sebagai pemimpin yang lemah karena munculnya
skandal korupsi ini dalam partainya).
Perkembangan Positif dalam Perjuangan Indonesia Melawan Korupsi
Meskipun sebagian besar gambarannya negatif, ada
beberapa tanda-tanda positif. Pertama-tama perlu disebutkan bahwa ada dorongan
besar dari rakyat Indonesia untuk memberantas korupsi di Indonesia dan media
yang bebas memberikan banyak ruang untuk menyampaikanvote-gainer (pendulang suara)
yang penting bagi politisi yang bercita-cita tinggi. Terlibat atau
disebutkan dalam kasus korupsi benar-benar merusak karir karena dukungan rakyat
akan merosot drastis. Efek samping negatif (bagi perekonomian negara) dari
pengawasan publik ini yaitu pejabat pemerintah saat ini sangat berhati-hati dan
ragu-ragu untuk mengucurkan alokasi anggaran pemerintahan mereka, takut menjadi
korban dalam skandal korupsi. Perilaku berhati-hati ini bisa disebut sebagai
keberhasilan pengaruh KPK yang memantau aliran uang, tetapi juga menyebabkan belanja
pemerintah lambat.
Transparency International, institusi
non-partisan yang berbasis di Berlin (Jerman) menerbitkan Indeks Persepsi
Korupsi tahunan (berdasarkan polling) yang menilai "sejauh mana korupsi
dianggap terjadi di kalangan pejabat publik dan politisi" di semua negara
seluruh dunia. Indeks Persepsi Korupsi Tahunan ini menggunakan skala dari satu
sampai sepuluh. Semakin tinggi hasilnya, semakin sedikit (dianggap) korupsi
yang terjadi. Dalam daftar terbaru mereka (2014) Indonesia menempati peringkat
107 (dari total 175 negara). Meskipun demikian, perlu ditekankan bahwa tidak
ada metode yang akurat 100 persen untuk mengukur korupsi karena sifat korupsi
(sering tersembunyi untuk umum). Oleh karena itu, angka-angka di bawah ini
hanya menunjukkan tingkat persepsi korupsi oleh para pemilih yang
berpartisipasi dalam jajak pendapat dari negara tertentu. Namun karena
masyarakat biasanya memiliki pemahaman yang baik tentang apa yang terjadi
di negeranya, angka-angka ini mengindikasikan sesuatu hal yang menarik.
Indeks Persepsi Korupsi 2014:
1.
|
Denmark
|
9.2
|
2.
|
Selandia
Baru
|
9.1
|
3.
|
Finland
|
8.9
|
4.
|
Swedia
|
8.7
|
5.
|
Norwegia
|
8.6
|
-
|
Swiss
|
8.6
|
107.
|
Indonesia
|
3.4
|
Sumber:
Transparency International
Angka-angka ini menunjukkan
bahwa - sesuai teks di atas - ada pandangan umum yang agak negatif mengenai
tingkat korupsi politik di Indonesia. Namun, ketika kita mempertimbangkan hasil
sebelumnya, indeks korupsi menunjukkan tren yang lebih positif:
|
2005
|
2006
|
2007
|
2008
|
2009
|
2010
|
2011
|
2012
|
2013
|
2014
|
Indonesia
|
2.2
|
2.4
|
2.3
|
2.6
|
2.8
|
2.8
|
3.0
|
3.2
|
3.2
|
3.4
|
Sumber:
Transparency International
Indonesia sebenarnya adalah salah satu dari
sedikit negara dalam Indeks Persepsi Korupsi yang menunjukkan perbaikan yang
stabil dan nyata, bertepatan dengan pemerintahan Yudhoyono yang dimulai pada
2004. Namun, perlu ditekankan bahwa - meskipun merepresentasikan perkembangan
aktual - angka-angka ini harus ditangani dengan seksama karena metodologi yang
digunakan dalam jajak pendapat berubah dari tahun ke tahun.
Terkait dengan korupsi, masih ada jalan panjang
reformasi ke depan untuk Indonesia. Korupsi sangat menghambat negara dalam
merealisasikan potensi ekonomi dan menyebabkan ketidakadilan yang signifikan di
masyarakat Indonesia karena sebagian kecil orang mendapatkan manfaat yang amat besar
dari lembaga korup. Tapi pujian/penghargaan harus diberikan kepada kebebasan
media Indonesia dan KPK karena keduanya memainkan peran penting dalam
pemberantasan korupsi.